Siang hari itu, Jum'at, tanggal 01 Oktober 1999, saya dan Alm. Ayah menonton acara pelantikan anggota DPR / MPR RI dari sebuah Televisi (seluruh kanal menyiarkannya) di rumah. Serta manakala sedang serius-seriusnya, mendadak Beliau yang tidak sengaja melihat wajah seseorang, tertawa dan bergumam sendiri. Kemudian memulai suatu cerita :
"Dulu, tepatnya 34 tahun yang lalu, pada awal bulan Desember tahun 1965, tanggalnya lupa tetapi harinya Jum'at, ketika berada di bangsal (ruangan besar) Olahraga, Papa dipanggil oleh Pak Mardi (Alm. Brigjen KKO Purn. Kresno Soemardi) yang menjabat sebagai Panglima dari Korps Komando Wilayah Timur (Pangkowiltim) untuk menghadap ke kantor Beliau".
"Papa paham betul, pastinya ada sesuatu yang penting sekali dan langsung berangkat kesana. Serta setibanya disana, Pak Mardi menawarkan sebuah "Tugas Rahasia". Yakni mengantarkan "Hidup-hidup" seseorang dari Banyuwangi ke Solo, secara diam-diam. Namun mengingat keadaan yang amat sangat genting pada masa-masa tersebut, Papa boleh menolaknya".
"Sesudah terjadinya peristiwa G30S/PKI, situasi dan kondisi Negara luar biasa berbahaya! AD, AL, AU dan Polri saling mencurigai, memusuhi, menyerang, menculik serta membunuh. Tetapi lantaran merasa tidak memiliki seteru, berniat mulia buat menjalankan perintah dan menyelamatkan nyawa, maka Papa menerimanya!!".
"Pada tahun 1952 Papa balik ke Surabaya (1946-1952 tinggal di Malang), untuk melanjutkan sekolah yang terhenti. Setahun setelahnya (1953), Papa mengajar olahraga Tinju dan Gulat (lalu Anggar) di Pusdikko (Pusat Pendidikan KKO) Gubeng (sekarang Grand City Mall). Kemudian di KKO Wonokitri (sekarang Lanmar Surabaya), yang dikomandani oleh Pak Mardi. Semenjak itu, kami berdua (Papa dan Pak Mardi) bersahabat erat".
"Sesudah menerima tawaran buat melaksanakan tugas rahasia tersebut, Papa segera pamit. Pak Mardi berpesan, bahwa Papa harus sampai di kota Banyuwangi pada hari Sabtu tidak lebih dari pukul 05.00 pagi. Dan mesti tiba di kota Solo pada hari Minggu, juga tidak lebih dari pukul 05.00 pagi. Serta dilarang diketahui oleh siapapun pula, terkecuali 1 orang Pengemudi yang telah disiapkan oleh Beliau".
"Saat itu musim hujan, jadinya Papa cepat-cepat, supaya tidak terhalang oleh banjir. Papa lekas pulang ke rumah untuk pamit ke Mamamu, namun tidak memberitahu jikalau pergi ke Banyuwangi. Sekalian buat berdoa yang khusyuk (Alm. Ayah saya tekun banget berdoanya. Segala hal yang akan dijalankan, senantiasa berdoa terlebih dahulu), walaupun di dalam perjalanan tentunya selalu berdoa".
"Dan sesudah semuanya dilakukan serta membawa 1 buah baju untuk ganti, jaket doreng KKO plus sepucuk pistol buat "Berjaga-jaga", Papa-pun "Gas Pol" dengan mengendarai mobil GAZ Commando milik AAL menuju ke Banyuwangi!".
"Tatkala mobil hendak masuk ke jalan Tidar (kami masih tinggal di jalan Kinibalu, Surabaya), setirnya terasa berat. Papa turun untuk mengeceknya dan ternyata ban depannya kempis, sehingga terpaksa berhenti buat menggantinya dengan ban serep (cadangan)".
"Setelah beres mengganti ban depan, perjalanan dilanjutkan. Tetapi barusan sampai di jalan Diponegoro, terdengar bunyi yang amat keras dari ban belakang, yang rupanya gembos! Untung dekat dengan tempat tukang tambal ban, jadi langsung ditambalkan. Sekaligus ban yang sebelumnya, juga ditambalkan!!".
"Selagi menunggu ban ditambal, hujan turun cukup deras. Walhasil, Papa basah kuyup!! Sesudah kedua ban selesai ditambal, perjalanan ke Banyuwangi dilanjutkan lagi!".
"Melewati depannya Kebun Binatang, eh, mobilnya terseok-seok. Sekarang ban depan sisi yang satunya yang bocor! Aduh, mengganti ban terus-terusan!! Hujannya bertambah deras pula, anginnya-pun kencang, kedinginan rasanya!!!".
"Akhirnya diputuskan untuk mengganti mobil, dengan meminjam mobilnya teman Papa yang tinggal di jalan Embong Wungu. Dia bekerja di kantor PLN dan kebetulan mobil dinasnya sama (GAZ Commando), namun warnanya berbeda".
"Serta karena sekujur tubuh telah dipenuhi air hujan, Papa sekalian berganti baju plus meminjam jaketnya. Sekaligus membuntal pistol dengan kain kering dan menaruhnya di bawah jok, sebab ikut "Berbasah-basahan". Lalu sesudahnya mengebut demi mengejar waktu, agar tidak kemalaman!".
"Pada saat mobil melampaui daerah Tanggulangin, Papa melihat bayang-bayang bergerak di jalanan dan sontak berkata kepada Pengemudi, "Berhenti!". Seekor Ular Sawah menyeberangi jalan dan kami (Papa serta Pengemudi) dengan sabar menunggu Si Ular tiba di pinggir jalan satunya".
"Manakala melalui daerah Porong, seekor Ular Kobra berwarna Hitam menyeberang dan dengan tenang kami biarkan Si Ular sampai di sisi jalan. Begitupun sewaktu di daerah Gempol yang seekor ular, kali ini Ular Weling, lagi-lagi melintas! Meskipun terburu-buru, Papa senantiasa waspada dan tidak berhenti berdoa".
Alm. Ayah saya, Benny "Jenggot" Tumbel (mantan Pratu TRIP) memang tiada tandingannya, apabila berdoa! Beliau lahirnya prematur dan terlilit tali pusar, serta disangka terjangkit polio ketika balita. Makanya masuk sekolahnya terlambat dan sangat rajin berolahraga serta berdoa. Plus mempunyai "Kelebihan", alias Indra Keenam.
"Kami singgah sekejap di daerah Bangil untuk minum kopi dan jajan, serta langsung tancap pedal biarpun kecapekan!".
"Baru keluar 500 meter dari Bangil, jalanan dibarikade oleh AD. Setiap kendaraan diperiksa ketat dan penumpangnya digeledah satu-persatu. Pas giliran Papa, lah kok, disuruh melanjutkan perjalanan!!".
"10 km kemudian, ada barikade dan pemeriksaan kembali, tetapi oleh AL! Nah tatkala waktunya mobilnya Papa, anehnya, malahan disuruh jalan!! Ternyata di tiap-tiap 10 km, terdapat barikade yang bergantian antara AD dan AL!!! Beruntungnya, kami tidak pernah diperiksa apalagi digeledah, selalu disuruh terus berjalan. Padahal di bawah jok ada pistol!".
"Hingga tibalah di kota Banyuwangi, pada pukul 04.00 pagi! Lantaran letih, lesu dan lapar (3L) serta berniat menanyakan petunjuk arah, kami berhenti di sebuah Warung Makan".
"Sembari memesan makanan dan minuman, Papa meminta panduan jalan buat menuju ke alamat yang diberikan oleh Pak Mardi, kepada Si Penjaga Warung".
"Setelah mencatat pesanan, Si Penjaga Warung memberikan penjelasan tentang arah jalan".
"Kemudian ia bertanya perihal asal dan pekerjaan kami, serta Papa menjawabnya. Lalu Si Penjaga Warung berkata, "Berarti sampeyan sakti, Pak!". Kami tertawa dan menimpali, "Hahaha, ada-ada saja! Kok bisa, Mas?". Si Penjaga Warung menjawab, "Mulai kemarin, kota Banyuwangi sepi pengunjung. Kata para Sopir Truk yang beristirahat disini, akibat terjadinya bentrokan dahsyat antara AD dan AL di sekitar kota Pasuruan. Yang dampaknya dilakukan "Sweeping" pada wilayah masing-masing, terhadap kesatuan lainnya. Serta korban jiwanya belasan orang, dari kedua belah pihak. Makanya Bapak-bapak sakti dapat sampai kesini dengan selamat!". Kami-pun (Papa dan Pengemudi) melongo!!".
"Tepat pukul 04.45 pagi, kami meluncur ke target dan hanya butuh waktu 10 menit belaka dari Warung Makan tadi, untuk menjangkaunya!".
"Papa turun dari mobil dan mengetuk pintu!. Saat pintunya terbuka, yang membukanya spontan bertanya, "Dari Surabaya ya? Ayo bablas!". Kami-pun berangkat ke Solo!!".
"Perjalanan dari Banyuwangi ke Solo cerah, ramai-lancar dan aman-terkendali, tidak seperti terdahulu. Sesudah berkenalan dan berbasa-basi dengan Sang Penumpang, Papa melamun di sepanjang jalan. Membayangkan seandainya tidak ada ban kempis, hujan lebat, pinjam mobil, tukar jaket dan ular lewat, jelasnya kami telah menjadi mendiang!".
"Sesampainya di Solo, Papa mengantarkan Sang Penumpang ke tempat yang diminta. Dan sesudah 1 malam menginap disana, kami balik pulang ke Surabaya".
"Papa yakin Pak Mardi memilih (Papa dan Pengemudi), karena Eks. Pejuang '45 yang berasal dari AD (jaman Revolusi Fisik - Demobilisasi) namun bekerja di AL, tidak mudah gopoh, berpikiran positif serta mampu mencari jalan keluar, plus sering mujur! Yang terakhir ini, oleh sebab doa yang tiada pernah terputus!!".
"Sungguh-sungguh menegangkan ya Pa, kejadiannya!", kata saya kepada Beliau. Alm. Ayah saya cuma tersenyum dan mengangguk saja. "Sang Penumpang namanya siapa, Pa?", tanya saya. "Namanya Abdul Madjid", jawab Beliau. "Yang mana orangnya, Pa?", lanjut saya bertanya ingin tahu. "Yang tua dan berkumis serta berjenggot", jawab Alm. Ayah saya sambil menunjuk seseorang di Televisi. "Orang bejo!", kata Beliau mengakhiri pembicaraan kami.
25 tahun telah terlampaui dan saya masih mengingat dengan jelas cerita ini. Terima kasih sudah sudi membacanya. Serta apabila terjadi kesalahan, baik kata maupun tanda baca, mohon dimaafkan. Semoga berkenan dan menjadi manfaat, Aamiin. Salam!
Charles E. Tumbel.
--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---