Senin, 16 Desember 2024

"Tugas Rahasia".


Siang hari itu, Jum'at, tanggal 01 Oktober 1999, saya dan Alm. Ayah menonton acara pelantikan anggota DPR / MPR RI dari sebuah Televisi (seluruh kanal menyiarkannya) di rumah. Serta manakala sedang serius-seriusnya, mendadak Beliau yang tidak sengaja melihat wajah seseorang, tertawa dan bergumam sendiri. Kemudian memulai suatu cerita :

"Dulu, tepatnya 34 tahun yang lalu, pada awal bulan Desember tahun 1965, tanggalnya lupa tetapi harinya Jum'at, ketika berada di bangsal (ruangan besar) Olahraga, Papa dipanggil oleh Pak Mardi (Alm. Brigjen KKO Purn. Kresno Soemardi) yang menjabat sebagai Panglima dari Korps Komando Wilayah Timur (Pangkowiltim) untuk menghadap ke kantor Beliau".

"Papa paham betul, pastinya ada sesuatu yang penting sekali dan langsung berangkat kesana. Serta setibanya disana, Pak Mardi menawarkan sebuah "Tugas Rahasia". Yakni mengantarkan "Hidup-hidup" seseorang dari Banyuwangi ke Solo, secara diam-diam. Namun mengingat keadaan yang amat sangat genting pada masa-masa tersebut, Papa boleh menolaknya".

"Sesudah terjadinya peristiwa G30S/PKI, situasi dan kondisi Negara luar biasa berbahaya! AD, AL, AU dan Polri saling mencurigai, memusuhi, menyerang, menculik serta membunuh. Tetapi lantaran merasa tidak memiliki seteru, berniat mulia buat menjalankan perintah dan menyelamatkan nyawa, maka Papa menerimanya!!".

"Pada tahun 1952 Papa balik ke Surabaya (1946-1952 tinggal di Malang), untuk melanjutkan sekolah yang terhenti. Setahun setelahnya (1953), Papa mengajar olahraga Tinju dan Gulat (lalu Anggar) di Pusdikko (Pusat Pendidikan KKO) Gubeng (sekarang Grand City Mall). Kemudian di KKO Wonokitri (sekarang Lanmar Surabaya), yang dikomandani oleh Pak Mardi. Semenjak itu, kami berdua (Papa dan Pak Mardi) bersahabat erat".

"Sesudah menerima tawaran buat melaksanakan tugas rahasia tersebut, Papa segera pamit. Pak Mardi berpesan, bahwa Papa harus sampai di kota Banyuwangi pada hari Sabtu tidak lebih dari pukul 05.00 pagi. Dan mesti tiba di kota Solo pada hari Minggu, juga tidak lebih dari pukul 05.00 pagi. Serta dilarang diketahui oleh siapapun pula, terkecuali 1 orang Pengemudi yang telah disiapkan oleh Beliau".

"Saat itu musim hujan, jadinya Papa cepat-cepat, supaya tidak terhalang oleh banjir. Papa lekas pulang ke rumah untuk pamit ke Mamamu, namun tidak memberitahu jikalau pergi ke Banyuwangi. Sekalian buat berdoa yang khusyuk (Alm. Ayah saya tekun banget berdoanya. Segala hal yang akan dijalankan, senantiasa berdoa terlebih dahulu), walaupun di dalam perjalanan tentunya selalu berdoa".

"Dan sesudah semuanya dilakukan serta membawa 1 buah baju untuk ganti, jaket doreng KKO plus sepucuk pistol buat "Berjaga-jaga", Papa-pun "Gas Pol" dengan mengendarai mobil GAZ Commando milik AAL menuju ke Banyuwangi!".

"Tatkala mobil hendak masuk ke jalan Tidar (kami masih tinggal di jalan Kinibalu, Surabaya), setirnya terasa berat. Papa turun untuk mengeceknya dan ternyata ban depannya kempis, sehingga terpaksa berhenti buat menggantinya dengan ban serep (cadangan)".

"Setelah beres mengganti ban depan, perjalanan dilanjutkan. Tetapi barusan sampai di jalan Diponegoro, terdengar bunyi yang amat keras dari ban belakang, yang rupanya gembos! Untung dekat dengan tempat tukang tambal ban, jadi langsung ditambalkan. Sekaligus ban yang sebelumnya, juga ditambalkan!!".

"Selagi menunggu ban ditambal, hujan turun cukup deras. Walhasil, Papa basah kuyup!! Sesudah kedua ban selesai ditambal, perjalanan ke Banyuwangi dilanjutkan lagi!".

"Melewati depannya Kebun Binatang, eh, mobilnya terseok-seok. Sekarang ban depan sisi yang satunya yang bocor! Aduh, mengganti ban terus-terusan!! Hujannya bertambah deras pula, anginnya-pun kencang, kedinginan rasanya!!!".

"Akhirnya diputuskan untuk mengganti mobil, dengan meminjam mobilnya teman Papa yang tinggal di jalan Embong Wungu. Dia bekerja di kantor PLN dan kebetulan mobil dinasnya sama (GAZ Commando), namun warnanya berbeda".

"Serta karena sekujur tubuh telah dipenuhi air hujan, Papa sekalian berganti baju plus meminjam jaketnya. Sekaligus membuntal pistol dengan kain kering dan menaruhnya di bawah jok, sebab ikut "Berbasah-basahan". Lalu sesudahnya mengebut demi mengejar waktu, agar tidak kemalaman!".

"Pada saat mobil melampaui daerah Tanggulangin, Papa melihat bayang-bayang bergerak di jalanan dan sontak berkata kepada Pengemudi, "Berhenti!". Seekor Ular Sawah menyeberangi jalan dan kami (Papa serta Pengemudi) dengan sabar menunggu Si Ular tiba di pinggir jalan satunya". 

"Manakala melalui daerah Porong, seekor Ular Kobra berwarna Hitam menyeberang dan dengan tenang kami biarkan Si Ular sampai di sisi jalan. Begitupun sewaktu di daerah Gempol yang seekor ular, kali ini Ular Weling, lagi-lagi melintas! Meskipun terburu-buru, Papa senantiasa waspada dan tidak berhenti berdoa".

Alm. Ayah saya, Benny "Jenggot" Tumbel (mantan Pratu TRIP) memang tiada tandingannya, apabila berdoa! Beliau lahirnya prematur dan terlilit tali pusar, serta disangka terjangkit polio ketika balita. Makanya masuk sekolahnya terlambat dan sangat rajin berolahraga serta berdoa. Plus mempunyai "Kelebihan", alias Indra Keenam.

"Kami singgah sekejap di daerah Bangil untuk minum kopi dan jajan, serta langsung tancap pedal biarpun kecapekan!".

"Baru keluar 500 meter dari Bangil, jalanan dibarikade oleh AD. Setiap kendaraan diperiksa ketat dan penumpangnya digeledah satu-persatu. Pas giliran Papa, lah kok, disuruh melanjutkan perjalanan!!".

"10 km kemudian, ada barikade dan pemeriksaan kembali, tetapi oleh AL! Nah tatkala waktunya mobilnya Papa, anehnya, malahan disuruh jalan!! Ternyata di tiap-tiap 10 km, terdapat barikade yang bergantian antara AD dan AL!!! Beruntungnya, kami tidak pernah diperiksa apalagi digeledah, selalu disuruh terus berjalan. Padahal di bawah jok ada pistol!".

"Hingga tibalah di kota Banyuwangi, pada pukul 04.00 pagi! Lantaran letih, lesu dan lapar (3L) serta berniat menanyakan petunjuk arah, kami berhenti di sebuah Warung Makan".

"Sembari memesan makanan dan minuman, Papa meminta panduan jalan buat menuju ke alamat yang diberikan oleh Pak Mardi, kepada Si Penjaga Warung".

"Setelah mencatat pesanan, Si Penjaga Warung memberikan penjelasan tentang arah jalan".

"Kemudian ia bertanya perihal asal dan pekerjaan kami, serta Papa menjawabnya. Lalu Si Penjaga Warung berkata, "Berarti sampeyan sakti, Pak!". Kami tertawa dan menimpali, "Hahaha, ada-ada saja! Kok bisa, Mas?". Si Penjaga Warung menjawab, "Mulai kemarin, kota Banyuwangi sepi pengunjung. Kata para Sopir Truk yang beristirahat disini, akibat terjadinya bentrokan dahsyat antara AD dan AL di sekitar kota Pasuruan. Yang dampaknya dilakukan "Sweeping" pada wilayah masing-masing, terhadap kesatuan lainnya. Serta korban jiwanya belasan orang, dari kedua belah pihak. Makanya Bapak-bapak sakti dapat sampai kesini dengan selamat!". Kami-pun (Papa dan Pengemudi) melongo!!".

"Tepat pukul 04.45 pagi, kami meluncur ke target dan hanya butuh waktu 10 menit belaka dari Warung Makan tadi, untuk menjangkaunya!".

"Papa turun dari mobil dan mengetuk pintu!. Saat pintunya terbuka, yang membukanya spontan bertanya, "Dari Surabaya ya? Ayo bablas!". Kami-pun berangkat ke Solo!!".

"Perjalanan dari Banyuwangi ke Solo cerah, ramai-lancar dan aman-terkendali, tidak seperti terdahulu. Sesudah berkenalan dan berbasa-basi dengan Sang Penumpang, Papa melamun di sepanjang jalan. Membayangkan seandainya tidak ada ban kempis, hujan lebat, pinjam mobil, tukar jaket dan ular lewat, jelasnya kami telah menjadi mendiang!".

"Sesampainya di Solo, Papa mengantarkan Sang Penumpang ke tempat yang diminta. Dan sesudah 1 malam menginap disana, kami balik pulang ke Surabaya".

"Papa yakin Pak Mardi memilih (Papa dan Pengemudi), karena Eks. Pejuang '45 yang berasal dari AD (jaman Revolusi Fisik - Demobilisasi) namun bekerja di AL, tidak mudah gopoh, berpikiran positif serta mampu mencari jalan keluar, plus sering mujur! Yang terakhir ini, oleh sebab doa yang tiada pernah terputus!!".

"Sungguh-sungguh menegangkan ya Pa, kejadiannya!", kata saya kepada Beliau. Alm. Ayah saya cuma tersenyum dan mengangguk saja. "Sang Penumpang namanya siapa, Pa?", tanya saya. "Namanya Abdul Madjid", jawab Beliau. "Yang mana orangnya, Pa?", lanjut saya bertanya ingin tahu. "Yang tua dan berkumis serta berjenggot", jawab Alm. Ayah saya sambil menunjuk seseorang di Televisi. "Orang bejo!", kata Beliau mengakhiri pembicaraan kami.

25 tahun telah terlampaui dan saya masih mengingat dengan jelas cerita ini. Terima kasih sudah sudi membacanya. Serta apabila terjadi kesalahan, baik kata maupun tanda baca, mohon dimaafkan. Semoga berkenan dan menjadi manfaat, Aamiin. Salam!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Selasa, 10 Desember 2024

Terus-menerus Berjalan.

Waktu terus-menerus berjalan, makanya setiap detiknya adalah amat sangat berharga. Janganlah menyia-nyiakan, dengan tidak mensyukuri dan menikmatinya!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Senin, 09 Desember 2024

Mimpi-mimpi.

Usia semakin bertambah, maka perasaan takut menghadapi masa tua dan kematian-pun kian tinggi. Demi untuk menghibur dan memperkuat diri, akhirnya mempercayai dongengan dari para penjual surgawi tetapi penikmat duniawi. Lebih besar perasaan takutnya terhadap masa tua dan kematian, lantas menjadi tenggelam nian serta mempercayai mimpi-mimpi. Sampai-sampai nalar dan logika dibuat mati, padahal tubuh masih segar-bugar untuk berlari.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Sabtu, 07 Desember 2024

Memberikan Kesempatan.

Sekolah yang tinggi dan bekerjalah yang keras, serta janganlah memberikan kesempatan kepada siapapun untuk menertawakan, apalagi menghina diri kita.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Kamis, 05 Desember 2024

"Suka Ditipu".

Di jaman digital seperti sekarang ini, memang mudah sekali untuk menjadikan seseorang terkenal. Walaupun juga gampang banget buat menjadikannya tercemar pula.

Orang-orang dari antah berantah, pokoknya yang pintar "Bermain Drama", berani "Tampil Berbeda" dan memiliki "Tim Kreatif", bisa langsung masyhur serta kaya raya.

Tetapi asalkan mutu pendidikan terus ditingkatkan dan sekolah umum tetap disebarkan, maka ke depan nalar serta logika menjadi sehat, plus tidak "Suka Ditipu" lagi.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Minggu, 10 November 2024

Pahlawan.

Bukanlah diri sendiri yang mengakui sebagai Pahlawan, melainkan orang lain!

Selamat Hari Pahlawan 2024!!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Sabtu, 09 November 2024

Rawe-rawe Rantas, Malang-malang Putung!


Ulah dari Pasukan Sekutu yang menutupi pengiriman (menyelundupkan) senjata kepada para pria mantan tawanan perangnya Jepang yang tinggal di Kota Surabaya, dengan seolah-olah sedang memindahkan wanita dan anak-anak Belanda serta obat-obatan di atas Truk-truk RAPWI, yang walhasil dibakar massa (28 Oktober 1945) membangkitkan kebencian!

Disebarkannya pamflet-pamflet melalui pesawat udara yang berisikan perintah untuk menyerahkan segenap senjata yang dimiliki oleh warga Surabaya kepada AFNEI, yang menyakitkan hati (27 Oktober 1945)!!

Tentara Khusus milik Kerajaan Inggris yang membobol dan membebaskan Kolonel PJG Huijer dari penjara Kalisosok (tengah malam 26 Oktober 1945 - dini hari 27 Oktober 1945) yang menyinggung perasaan!!!

Plus desas-desus, bahwasanya WVC Ploegman yang tewas di Hotel Yamato sampai berani mengibarkan bendera Belanda disana (19 September 1945), lantaran sudah diangkat menjadi Walikota oleh NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang menyusup di dalam AFNEI dan RAPWI, membuat arek-arek Suroboyo amat sangat marah serta bersiap-siap untuk hal-hal yang terburuk!!!!

Pos-pos TKR (mulanya bernama BKR, kemudian pada tanggal 05 Oktober 1945 berubah menjadi TKR) di setiap RW se-Kota Surabaya yang sebelumnya telah memperkuat garis pertahanan, membuat barikade, mengumpulkan segala macam jenis senjata dan melakukan pelatihan kilat perihal penggunaan senjata api (ringan maupun berat), yang dirampas dari markas-markas serta gudang-gudang milik Bala Tentara Jepang mulai melakukan penyerbuan, demikian pula yang dilaksanakan oleh markas Alm. Ayah saya, TKR-P Staf III / Praban.

TKR-P Staf III / Praban yang merupakan markas komando dari beberapa sekolah (gabungan) di sekitar jalan Praban, juga mengajak dan mengerahkan warga setempat (baik pria ataupun wanita, tua maupun muda) untuk menyerang markas-markas Pasukan Sekutu.

Tentara Keamanan Rakyat - Pelajar yang disingkat TKR-P secara keseluruhan-pun mendapatkan tugas spesial dari Komandan TKR Kota Surabaya, Kolonel Sungkono (Alm. Mayjen TNI Purn. Soengkono), terutama Mas Biek "Turet" (Alm. Mayjen TNI Purn. Soebiantoro) untuk membantu dan mendampingi Pak Matosin (Alm. Kapten TNI Purn. Matosin) beserta kesatuannya.

Kesatuan yang dibentuk oleh Pak Matosin yang dinamakan Barisan Maling dan kelak menjadi "Penggempur Dalam" tatkala Kota Surabaya sudah dikuasai oleh Pasukan Sekutu, merupakan kesatuan yang unik.

Uniknya, karena kesatuan ini terdiri dari mantan narapidana yang buta huruf dan tugasnya adalah mencuri barang-barang yang vital milik musuh! Serta oleh sebab buta huruf itulah, jadinya para pelajar yang tergabung di dalam TKR-P spesial ditugaskan untuk "Membantu plus Mendampingi"-nya!!

Hingga akhir hayatnya Pak Matosin di pertengahan tahun 1960-an, para Eks. BKR Pelajar Surabaya (nantinya pada tanggal 26 Januari 1946 menjadi Tentara Republik Indonesia - Pelajar / TRI-P di Malang) tetaplah berhubungan akrab.

Penduduk Surabaya yang telah "Spaneng" alhasil mendapatkan "Lampu Hijau" dari Komandan TKR Keresidenan Surabaya (Divisi VII), Jenderal Mayor Yono Sewoyo (Alm. Mayjen TNI Purn. KRM Hario Jonosewoyo) untuk "Memberikan Pelajaran" kepada Pasukan Sekutu.

Setibanya di markas, sesudah melakukan pembakaran truk-truk RAPWI, Beliau (Alm. Ayah saya) dan 3 orang sahabatnya bersama kawan-kawannya yang lain yang tergabung di TKR-P Staf III / Praban memulai penyerbuan terhadap markas-markas Tentara Asing dari Perang Dunia II ini.

2 hari, 2 malam (27-29 Oktober 1945) secara terus-menerus dan dari 6 penjuru mata angin, para Pejuang Surabaya melakukan penyerangan. Akhirnya Pasukan Sekutu yang kalah jumlahnya, menjadi kewalahan!

Pada tanggal 30 Oktober 1945 ketika nyaris tergencet habis, Brigjen AWS Mallaby mengajak Dr. Soegiri duduk di atas kap sebuah Mobil untuk berkeliling kota Surabaya demi menyerukan gencatan senjata. Bung Karno (Presiden R.I. yang Pertama) yang 1 hari sebelumnya dihadirkan di Surabaya demi membantu menenangkan keadaan, bertolak-balik ke Jakarta tanpa ada yang memedulikan!

Alm. Ayah saya dkk yang sedang berada di Jl. Boeboetan (Bubutan) mendengar kabar tersebut dan bergegas menuju ke Gedung Internatio, yang menjadi Markas Utama dari Brigade Infanteri India ke 49 di Kota Surabaya.

Sejujurnya, rakyat Surabaya tidak percaya dengan gencatan senjata itu! Dan beramai-ramai kesana untuk melihat, serta menolaknya. Sekaligus buat mengusir Tentara Inggris yang dibonceng oleh Penjajah yang pernah menguasai Indonesia selama 350 tahun keluar dari kotanya yang tercinta, Surabaya.

Hari sudah gelap dan gedung Internatio terkepung parah, Beliau beserta kawan-kawannya yang telah letih-lesu-lapar (3L) serta kehabisan amunisi, beristirahat 100 meteran dari sana.

Tiba-tiba terjadi tembak-menembak, diikuti rentetan suara dari senjata berat di beberapa arah dan terdengar ledakan-ledakan dahsyat yang membuat Alm. Ayah saya cs sontak menyelamatkan diri, serta kembali ke markasnya di Jl. Praban.

Esok harinya tersiarlah kabar, bahwa Brigjen AWS Mallaby tewas pada malam yang remang-remang tersebut. 

Jaman dulu tidak seterang (banyak lampu) seperti jaman sekarang, jadinya sulit untuk memastikan yang sesungguhnya terjadi.

Walaupun banyak yang menyatakan mengetahui, bahkan mengakui sebagai pelaku penembakan, tetapi pembuktiannya hampir tidak mungkin.

Menurut Beliau, bisa jadi Cak Iyat (Alm. Lettu TNI Purn. Moch. Achijat) ataupun Mas Biek "Turet" (Alm. Mayjen TNI Purn. Soebiantoro) yang posisinya terdekat dengan Brigjen AWS Mallaby, maupun orang lain. Malahan bisa-bisa "Friendly Fire" dari Pasukan Sekutu sendiri.

Yang jelas sesudah "Pertempuran 3 Hari" yang menewaskan Brigjen AWS Mallaby, tidak ada jalan balik! Dan para pejuang dari berbagai daerah, berdatangan ke kota Surabaya untuk membantu perjuangan arek-arek Suroboyo, serta perang mati-matian telah menunggu. Maka cukuplah cuma dengan 1 kalimat saja, yakni "Rawe-rawe Rantas, Malang-malang Putung"!

Demikianlah kisah ihwal "Tewasnya Brigjen AWS Mallaby" yang pernah dituturkan oleh Alm. Ayah saya. Mohon maaf, apabila ada kesalahan kata ataupun tanda baca. Semoga berkenan dan menjadi manfaat, Aamiin. Serta terima kasih sudah sudi untuk membacanya. Salam!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Kamis, 31 Oktober 2024

Pembakaran Truk-truk RAPWI.


Setelah terjadinya peristiwa "Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato", Kota Surabaya menjadi tegang dan panas!

Arek-arek Suroboyo yang sebagian mulanya berprasangka baik dan tidak mencurigai Pasukan Sekutu, akhirnya semuanya menjadi berprasangka buruk, mencurigai sekaligus jengkel. Sehingga setiap gerak-geriknya selalu diawasi, serta diperbincangkan.

Demikian pula pada siang itu, hari Minggu, tanggal 28 Oktober 1945, Alm. Ayah saya berangkat ke sekolahnya yang menjadi Markas dari TKR-P Staf III / Praban.

Selisih sehari (27 Oktober 1945) dari dijatuhinya Kota Surabaya dengan pamflet-pamflet melalui pesawat terbang, yang berisikan perintah untuk menyerahkan senjata kepada AFNEI dan penyerangan penjara Kalisosok oleh Tentara Khusus milik Kerajaan Inggris demi membebaskan Kapten AL (setara Kolonel AD) PJG Huijer (tengah malam 26 Oktober 1945 - dini hari 27 Oktober 1945)!

Sesudah diproklamasikannya kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustus 1945) dan disahkannya ideologi Pancasila sebagai Dasar Negara serta UUD 1945 sebagai Konstitusi Negara (18 Agustus 1945), BKR (Badan Keamanan Rakyat) didirikan (22 Agustus 1945). Para Pelajar juga tidak mau ketinggalan dan mendirikan Badan Keamanan Rakyat - Pelajar atau yang disingkat BKR-P.

BKR-P berubah nama menjadi TKR-P pada tanggal 05 Oktober 1945, mengikuti BKR yang berubah menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat).

Hampir seluruh siswa di Kota Surabaya, terutama yang dulunya bekas Gakku Tootai alias anak-anak sekolah (umur 10-17 tahun) yang pernah dilatih dasar kemiliteran oleh Bala Tentara Jepang, yang semenjak bulan Juli telah "Adem Panas" (tokohnya bernama Mas Biek "Turet", Alm. Mayjen TNI Purn. Soebiantoro, konon yang menembak Brigjen AWS Mallaby) untuk melakukan sabotase dan memiliki gerakan bawah tanahnya sendiri dengan mengeroyok orang-orang Jepang yang sedang mabuk serta menandai rumah-rumah para kolaborator, langsung membentuk sebuah Badan Perjuangan yang kemudian menjadi TKR-P tersebut.

TKR-P memiliki 4 markas komando, yakni :
1. TKR-P Staf I / Darmo.
2. TKR-P Staf II / Sawahan.
3. TKR-P Staf III / Praban.
4. TKR-P Staf IV / Herenstraat.

Alm. Ayah saya yang barusan lulus dari SD di Jl. Gentengkali (Taman Siswa) serta hendak masuk ke SMP, tergabung di TKR-P (tadinya BKR-P) Staf III / Praban (sekolah SMP Praban dan SMP Ketabang pernah digabungkan pada akhir jaman Belanda, di akhir jaman Jepang dipisahkan kembali) yang markas komandonya berlokasi di Jl. Praban (sekarang SMPN 3 Surabaya).

Setibanya di halaman sekolah (markas) yang luas, Beliau memperoleh kabar dari kawan-kawannya bahwasanya sejak menjelang matahari terbit, truk-truk milik Pasukan Sekutu yang dikemudikan oleh tentara Gurkha yang bertuliskan "RAPWI", hilir-mudik dari arah Perak ke arah Darmo serta sebaliknya.

Lantaran perasaan khawatir, ingin tahu plus tidak lagi percaya terhadap Pasukan Sekutu, walhasil Alm. Ayah saya bersama 3 orang sahabatnya, Mas Yono "Kencur" (Alm. Brigjen Pol. Purn. Soejono Soentahir), Mas Hardji (Alm. Pratu TRIP Soehardji) dan Mas Tomo "Cilik" (Alm. Pratu TRIP Soetomo Fadjar) menelusuri jalan-jalan yang diperkirakan dilalui oleh truk-truk itu.

Di ujung Jl. Toendjoengan salah satu dari truk-truk tersebut ditemukan. Dan sembari berlarian, terus-menerus diikuti. Tetapi karena truk itu berjalan kencang, mereka-pun tertinggal. Sambil sesekali bertanya kepada warga sekitar, perjalanan untuk menguntit tetaplah dilanjutkan.

Hingga sampailah di pertigaan jalan Palmenlaan (Jl. Panglima Sudirman) dan Jl. Sonokembang (entah dulu namanya jalan apa) yang disini 2 buah truk sudah dihentikan oleh penduduk setempat bersama Pak Djarot (Alm. Letkol TNI Purn. Djarot Soebiantoro, terdahulunya merupakan ketua dari satuan Jibakutai). Tampak Cak Wadji (Alm. Serma TNI Purn. Heru Suwadji) di antara mereka, namun Beliau tidak sempat menyapanya.

Cak Wadji adalah anggota BKR (TKR) dari RW I kampung Karang Bulak (sekarang hilang, sebab menjadi Hotel Bumi), yang senantiasa aktif memantau sepak terjang Pasukan Sekutu. Dan Alm. Ayah saya seringkali berjumpa dengannya, ketika "Hal-hal Penting" terjadi di Surabaya. Beliau berdua bersahabat erat, hingga akhir hayat (Alm. Ayah saya wafat pada tahun 2007).

Selang beberapa lama, datanglah kembali 1 buah truk dan Beliau (Alm. Ayah saya) beserta ketiga sahabatnya segera menghentikannya.

Truk-truk yang bertuliskan RAPWI tersebut, mengangkut beberapa gelintir wanita dan anak-anak Belanda (tidak penuh), serta kotak berlambang Palang Merah.

Setelah berbicara sebentar dengan tentara Gurkha yang mengemudikan truk itu, mereka lekas ke belakang untuk membuka pintunya.

Para wanita dan anak-anak Belanda memberikan sambutan hangat, serta berbasa-basi sejenak. Alm. Ayah saya dan sahabat-sahabatnya mempersilahkan mereka turun dari atas truk tersebut, lantas memeriksa muatan yang ada di dalamnya. 

Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah massa yang berada di truk yang lebih depan, "Senjata!, Senjata!, Bakar!, Bakar!". Dan para wanita serta anak-anak Belanda menjadi ketakutan, lalu meminta ampun plus maaf, sekaligus berkata bahwa mereka tidak tahu apa-apa.

Beliau secara spontan menyuruh salah seorang sahabatnya untuk menyerahkan wanita dan anak-anak itu kepada markas Pasukan Sekutu (20 tempat di Surabaya dijadikan markas oleh mereka) yang berada di pojokan Jl. Sonokembang yang berbelok ke Jl. Kayoon (kayaknya saat ini Kantor Indosat), supaya aman. Serta bersama para sahabat yang lainnya, membuka kotak-kotak di atas truk tersebut.

Kotak-kotak belum terbuka, sekonyong-konyong "Bruaakkk!" dan "Doorrr, doorrr, doorrr"!! Salah satu truk yang berada di Jl. Sonokembang menabrak penduduk dan menembakinya!!!

Sontak terjadilah tembak-menembak yang tidak seimbang!

Arek-arek Suroboyo dari daerah Keputran, Pandegiling, Kaliasin, Kayoon, Karang Bulak, Kedondong, Lemah Putro dan lain-lain bersatu serta serempak melakukan perlawanan!

Segala alat dipakai untuk menyerang!! Sampai-sampai Pasukan Sekutu mundur kelabakan dan menelantarkan para wanita serta anak-anak Belanda yang sebelumnya dijadikan "Tameng" oleh mereka!!!

Rakyat yang emosi seketika membakar truk-truk itu dan menghakimi para wanita serta anak-anak yang tertinggal disana! Sungguh-sungguh naas dan mengerikan!!

Api dahsyat berkobar dan meledak-ledak! 7 buah truk RAPWI berhasil dibakar dan muatannya dibawa pulang oleh masyarakat setempat!!

Alm. Ayah saya dan 2 orang sahabatnya (yang 1 orang lagi berjalan di seberang) perlahan-lahan mundur ke belakang. Berhenti sejenak di markasnya Pak Djarot (Jl. Embong Wungu), kemudian balik ke markasnya di Jl. Praban.

Banyak sekali korban jiwa yang tidak bersalah dari peristiwa ini. Dan mulai hari, tanggal serta jam tersebut di atas, kedua belah pihak semakin saling membenci, sekaligus sengit permusuhannya.

Kurang-lebih begitulah cerita tentang kejadian "Pembakaran Truk-truk RAPWI" yang pernah dituturkan oleh Alm. Ayah saya. Mohon maaf, apabila ada kesalahan kata maupun tanda baca. Semoga berkenan dan menjadi manfaat, Aamiin. Serta terima kasih sudah sudi untuk membacanya. Salam!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Rabu, 30 Oktober 2024

Kemerdekaan.

Rumah Makan Jepang, yang jualan dan yang makan harus orang Jepang, termasuk gaya busananya.

Rumah Makan Korea, yang jualan dan yang makan harus orang Korea, termasuk gaya busananya.

Rumah Makan China, yang jualan dan yang makan harus orang China, termasuk gaya busananya.

Rumah Makan India, yang jualan dan yang makan harus orang India, termasuk gaya busananya.

Rumah Makan Arab, yang jualan dan yang makan harus orang Arab, termasuk gaya busananya.

Biarlah tetap terkotak-kotak ala jaman penjajahan dan tiada persatuan serta kesatuan, apalagi kebangsaan!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Dunia Pendidikan.

Ingat! Selama yang menjadi Menteri Pendidikan tidak memiliki jiwa Nasionalis, apalagi Negarawan, malahan memiliki kepentingan untuk membesarkan alirannya, organisasinya, sekolahnya, bukunya bahkan bisnisnya sendiri. Janganlah berharap dunia pendidikan bisa menjadi maju, lebih lagi sejajar dengan negara besar!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Jumat, 25 Oktober 2024

Nikmati dan Syukurilah Hidup.

Mati itu sudahlah pasti, makanya janganlah ditakutkan.
Tetapi pikirkanlah cara, agar bisa tetap hidup dengan tidak ketakutan ataupun ditakut-takuti oleh kematian yang telah dipastikan tersebut.
Lantaran mati bukanlah tidur!
Karena tatkala tidur, otak masih bekerja, sehingga dapat berpikir dan terjadilah mimpi.
Ketika otak dinyatakan tidak bekerja alias mati, pikiranpun berhenti, termasuk mimpi dan tidak bangun kembali.
Jadinya, nikmati dan syukurilah hidup ini selagi ada waktu.
Dengan hal-hal positif apapun yang sebaik-baiknya, supaya selamat dan panjang umur.
Plus jauhilah orang-orang yang menjual cerita tentang kematian demi kekayaan pribadinya.
Sebab mereka sengaja membuat kita menjadi gusar dan memanfaatkannya untuk memperoleh keuntungan.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Kamis, 24 Oktober 2024

"Londo nang Yamato!".


Setiap pagi Alm. Ayah saya bangun pada pukul 04.00. Setelah khusyuk berdoa, minum segelas air putih hangat dan mengenakan pakaian serta sepatu olahraga, Beliau melakukan jogging sejauh 4 km. Kebiasaan semenjak kecil yang senantiasa dilakukan olehnya, demikian hal-nya dengan hari itu, Rabu, 19 September 1945.

Tidak seperti biasanya, jalanan terasa lebih ramai. Beberapa orang tampak berkumpul dan berbisik-bisik, seolah sedang membahas sesuatu yang amat serius. Mulanya Alm. Ayah saya tidak mengindahkannya, lantaran terlalu asyik menikmati olahraga. Beliau berlari tanpa mendengarkan obrolan di kiri dan kanannya.

4 km terlampaui, sinar matahari semakin tinggi dan Alm. Ayah saya menurunkan tensi lari paginya dengan berjalan kaki. Orang-orang bertambah banyak yang berlalu-lalang, berkerumun dan mengobrol di pinggir-pinggir jalan. Serta tanpa secara sengaja terdengar selentingan kalimat berbunyi, "Londo nang Yamato!".

Karena keringat masih mengucur deras di tubuhnya, Beliau tidak berhenti untuk bertanya tentang apakah gerangan yang terjadi. Tetapi tetap melanjutkan berjalan santai, meskipun diperlambat, sambil sesekali mendekatkan diri ke orang-orang yang berbincang-bincang di pinggir jalan buat menguping pembicaraan.

Memang pada malam sebelumnya sudah tersebar kabar, bahwa Pasukan Sekutu (AFNEI) mendarat di Surabaya untuk membebaskan orang-orang Belanda dan Eropa yang ditawan (APWI, lembaganya bernama RAPWI) oleh Bala Tentara Jepang. Namun belum jelas mengapa ada orang Belanda di Hotel Yamato.

Setelah suhu tubuhnya menurun, Alm. Ayah saya langsung ikut menimbrung untuk mencari tahu. Ternyata, semalam AFNEI dan RAPWI memindahkan tawanan perangnya Jepang ke beberapa lokasi di Surabaya. Para lelaki Belanda ditempatkan di Hotel Yamato, sedangkan perempuan dan anak-anak di seberangnya.

Nah, sesudah para lelaki Belanda tersebut pindah kesana, mereka mengibarkan bendera negaranya (Belanda) pada tiang bendera yang berada di atas atap Hotel Yamato! Hal inilah yang menjadi perbincangan seru, tegang dan panas mulai sejak Ayam Jantan berkokok di hampir seluruh kota Surabaya pada pagi hari itu!!

Usai mengetahui permasalahan yang sedang terjadi, Alm. Ayah saya bergegas pulang ke rumahnya di Jl. Oendaan Koelon. Beliau ingin melihat dengan mata kepala sendiri, kejadian di Hotel Yamato. Apalagi hotel tersebut yang terletak di Jl. Toendjoengan, kebetulan termasuk di dalam rute perjalanannya ke sekolah, di Jl. Praban.

Setibanya di rumah, Alm. Ayah saya buru-buru mandi, memakai baju (entah seragam ataukah bukan) dan sarapan kilat, lantas berangkat. Tujuannya cuma satu saja, yakni ke Hotel Yamato! Benaknya berkecamuk dari rasa penasaran, curiga plus marah!! Dengan tergesa-gesa, Beliau menuju ke hotel legendaris itu!

Jalanan menuju ke Hotel Yamato, khususnya Jl. Gentengkali, telah dipadati oleh arek-arek Suroboyo. Yang kesemuanya sama-sama mau mencari tahu ihwal kebenaran dari berita perihal berkibarnya bendera Belanda di hotel tersebut. Kebanyakan berjalan kaki, walaupun ada yang bersepeda dan menggunakan mobil.

Di pertigaan Jl. Gentengkali dan Jl. Toendjoengan, masyarakat sudah bergerombol dengan mata terbelalak, memelototi atap Hotel Yamato. Ya, betul sekali! Bendera "Merah-Putih-Biru", tampak berkibar dari kejauhan. Dan beberapa orang Belanda, yang salah satunya membawa sepucuk Pistol menghardik siapapun yang mendekat.

Alm. Ayah saya sontak menjauhinya dan berjalan menyeberang ke Toko Kain milik Haji Mattalitti. Lalu sedikit berjalan lagi ke depan Kantor Berita Indonesia milik Bung Tomo, yang lebih lengang. Sembari melulu melirik ke orang Belanda yang membawa sepucuk Pistol, yang nantinya diketahui bernama Ploegman.

Awalnya warga yang mengerubungi Mr. Ploegman dkk, hendak bertanya soal berkibarnya bendera Belanda di atas hotel itu. Tetapi sikapnya yang sombong dan kasar, membuat mereka jengkel serta memaki-makinya. Tatkala situasinya memanas, kawan-kawannya masuk ke dalam hotel dan membiarkannya sendirian.

Mr. Ploegman yang panik dan ketakutan oleh sebab ditinggalkan kawan-kawannya, menembakkan pistolnya! Massa yang terkejut segera menghindar darinya, seketika keadaannya mencekam! Untung, Residen Soedirman datang bersama beberapa orang dan mengajaknya masuk ke dalam Hotel Yamato.

Namun tidak seberapa lama, Residen Soedirman berjalan cepat keluar dari dalam hotel tersebut, diikuti salah satu orangnya. Dan bunyi letusan Pistol kembali menyalak, tetapi kali ini dari dalam hotel. Serta beberapa orang yang tadinya masuk bersamanya, lari berhamburan keluar dari dalam Hotel Yamato.

Pada waktu yang sama, di luar hotel para pemuda berjuang untuk memanjat temboknya. Mereka "Bopong-bopongan" dan "Panggul-panggulan". Alm. Ayah saya melihat Cak Iyat (Alm. Lettu TNI Purn. Moch. Achijat), salah satu dari mereka. Selain Cak Iyat, Beliau juga melihat Cak Wadji (Alm. Serma TNI Purn. Heru Suwadji) berdiri 5 meteran darinya.

Kemudian seseorang berteriak, "Ondo!, Ondo!" ("Tangga!, Tangga!") dan diikuti beberapa orang lainnya. Akhirnya beberapa orang datang dengan membawa tangga! Serta para pemuda yang berjuang memanjat tembok tadi, satu-persatu menaikinya. Hingga 2 orang berhasil sampai di atas atap, yang terdapat bendera Belanda-nya!!

Di atas atap, keduanya spontan menurunkan bendera Belanda dan berusaha merobek warna birunya, biar menjadi "Merah-Putih", namun tidak berhasil. Mendadak dari arah dalam / belakang hotel (bukan luar / depan seperti para pemuda terdahulu) muncul seorang pria yang membantu merobeknya dan berhasil!!!

Serta-merta dari segala penjuru terdengar pekikan serempak, "Merdeka!, Merdeka!, Merdeka!" dan segenap yang hadir meneteskan air mata haru! Inilah salah satu peristiwa besar yang membangkitkan semangat dan keberanian arek-arek Suroboyo di dalam melawan Pasukan Sekutu yang dibonceng Tentara Belanda (NICA).

Tiada yang tahu siapa pria ketiga yang muncul dari arah dalam / belakang Hotel Yamato itu. Menurut pendapat pribadi Alm. Ayah saya, kemungkinan besar pegawai dari hotel tersebut sendiri. Makanya tidak ada yang mengenal ataupun mengakuinya, lantaran bisa jadi orangnya telah pindah ke negara lain maupun gugur.

Pada periode-periode awal Perang Fisik (1945-1949), masyarakat awam belum 100% yakin mampu mengalahkan dan mengusir penjajah. Serta beberapa daerah tidak mengakui proklamasi kemerdekaan R.I., plus mendirikan "Negara-negara Boneka" yang mendukung sekaligus menjadi kaki-tangan dari pihak Kompeni!

Kurang-lebih begitulah cerita tentang peristiwa "Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato" yang pernah dituturkan oleh Alm. Ayah saya. Mohon maaf, apabila ada kesalahan kata ataupun tanda baca. Semoga berkenan dan menjadi manfaat, Aamiin. Serta terima kasih sudah sudi untuk membacanya. Salam!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Minggu, 20 Oktober 2024

Sebuah Perlewatan.

Intisari dari hidup ini, adalah tetaplah menjadi hidup, sampai kekuatan organ-organ tubuh menghilang seluruhnya.

Jikalau mati alias organ-organ tubuh sudah sama sekali tidak bekerja lagi, maka telah usai segala apapun urusan.

Sehingga :

Untuk menjadi hidup, dibutuhkan kesehatan.
Untuk menjadi sehat, dibutuhkan keselamatan.
Untuk menjadi selamat, dibutuhkan kebajikan.
Untuk menjadi bajik, dibutuhkan kebijaksaan.
Untuk menjadi bijak, dibutuhkan pengetahuan.
Untuk menjadi tahu, dibutuhkan pelajaran.
Untuk menjadi pelajar ataupun belajar, dibutuhkan niat.
Niat untuk mempelajari maksud dan tujuan dari sebuah Perlewatan yang dinamakan "Dunia".

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Jumat, 11 Oktober 2024

GCTA.

Saya rasa kita disini sudah dewasa dan matang semua, lantaran rata-rata sudah berusia di atas 40 tahun. Sehingga bisa sabar dan bijaksana, serta mampu memilah-milah yang baik / buruk maupun benar / salah. GCTA ini cuma sebuah wadah saja, untuk menggerakkan orang lain berbuat amal kebajikan demi tanah air dan kebangsaan, melalui kepeloporan diri kita sendiri. Kita seluruhnya hanya hidup sekali belaka dan sedang menunggu giliran mati. Entah mati kapan, tetapi pasti. Serta entah ke Surga ataupun ke Neraka (apabila dapat betulan, berarti bonus), yang jelas "The End" alias selesai urusan di dunia manakala terjadi. Mumpung masih hidup, GCTA mengajak berbuat amal kebajikan tadi. Siapa tahu karena itu menjadi sehat, selamat, panjang umur, banyak rejeki dan pahala serta nantinya masuk Surga (Aamiin). Oleh sebabnya pejuang GCTA dilarang meminta sumbangan (namanya pejuang masa minta-minta sih!), makanya caranya ber-"Kerjasama" dengan pihak lain. Kerjasama yang saling tidak merugikan, biar "Ringan sama Dijinjing, Berat sama Dipikul". Di dalam kerjasama dengan siapapun tentunya terkadang ada kesalah-pahaman. Nah disinilah, kedewasaan dan kematangan kita buktikan. Janganlah sampai tatkala senang dan untung GCTA yang telah menjembatani dilupakan, namun ketika terjadi "Seleh-Genje" malahan dituduh sebagai biang keladinya, bahkan dimusuhi! Bekerjasama dengan siapapun, apalagi di umur yang tidak muda, wajib memiliki kesabaran dan kebijaksanaan (kuncinya). Lebih lagi apabila untuk sehat, selamat, panjang umur, banyak rejeki dan pahala serta Surga jelasnya dibutuhkan yang ekstra. Sekali lagi GCTA ini sekadar wadah semata dengan tujuan yang mulia, sehingga tidaklah perlu dibenci. Toh, menjadi mulia merupakan kewajiban sekaligus tujuan dari setiap insan yang beriman kepada Sang Maha Pencipta, terlepas dari agamanya. Untung silahkan diambil, rugi janganlah menyalahkan yang lain, lebih-lebih GCTA. GCTA tidak pernah memperoleh untung apapun, termasuk saya sebagai pendirinya. Inilah wadah perjuangan yang murni untuk tanah air dan kebangsaan, dengan diri sendiri yang menjadi pelakunya, pejuang tanpa pamrih. Semoga kelak dikenang, dihormati dan dihargai oleh anak-cucu kita. Aamiin, Aamiin, Aamiin. Terima kasih.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Selasa, 01 Oktober 2024

Keyakinan.

Lantaran segalanya yang hidup pastilah mati, makanya kita haruslah memiliki keyakinan (yang positif). 
Keyakinan (yang positif) untuk membangun harapan yang indah, dengan cara mengimani (sungguh-sungguh yakin) dan mengamalkan kebajikan (yang baik-baik plus bijaksana).
Sehingga tatkala bugar mendapatkan keselamatan dan ketika sekarat bukannya mengalami ketakutan, melainkan kepasrahan.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Minggu, 29 September 2024

Dulu dan Nanti.

Ingatkah pikiran kita dengan jaman dahulu kala, sebelum dilahirkan ke dalam dunia ini?

Itulah jaman yang sama persis dengan jaman nanti, setelah kita meninggalkan dunia ini!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Selasa, 17 September 2024

Penuh Drama dan Iklan.

Dulu ada seorang teman yang keempat anaknya dimasukkan ke Sekolah Agama, saya protes. Saya katakan, bahwasanya agama penting sekali. Tetapi lebih baik ditanamkan semenjak dini di dalam rumah dan oleh keluarga terdekat sendiri. Sedangkan untuk sekolahnya, lebih baik yang umum dan membuka nalar plus logika, serta memiliki kualitas pengajaran yang sudah terbukti unggul. Namun jawabannya singkat, bahwa mencari uang melalui agama paling mudah dan cepat. Ya sudahlah! Saya tidak menjawab, lantaran paham betul cara berpikirnya teman tersebut.

Sekarang setelah 15 tahun, dia tampak tua dan sakit-sakitan. Karena ternyata, anak-anaknya tidak ada yang memiliki pekerjaan tetap. Setiap hari cuma "Lolak-lolok" di rumah saja. Dan antara Bapak serta anak-anak malahan melulu berdebat, bahkan saling menceramahi. Padahal income teman saya semenjak Covid-19 berkurang pesat, jadinya pusing banget. Sebab ogah berdebat dan diceramahi, maka saya menyarankan kepadanya agar membuat konten di Youtube dengan menampilkan kehidupannya saat ini. Penuh drama dan iklan, persis serial di televisi!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Sabtu, 14 September 2024

Mustahil.

Lebar pembuluh darah dan luas permukaan tubuh orang Asia Tenggara, lebih kecil daripada orang Eropa serta Afrika. Jikalau tidak betul-betul dilatih secara khusus dan ekstra dari semenjak Balita, mustahil fisiknya orang Asia Tenggara bisa mengalahkan fisiknya orang Eropa serta Afrika.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Jumat, 13 September 2024

Makan Siang.

Dulu ketika saya bersekolah SMA di Jepang, masuknya pukul 06.45 dan pulangnya pukul 16.45. Setiap pukul 12.00 sampai 12.45 merupakan waktu makan siang dan makanannya disediakan lengkap oleh pihak Sekolah.

Tatkala pindah ke AS dan sekolah disana, saya di Sekolah Bahasa Inggris serta seorang saudara (yang tinggal serumah) di SMA, juga makanannya disediakan lengkap (berlimpah) oleh pihak Sekolah.

Begitupun manakala saya beberapa minggu "Main-main" di Universitas Olahraga Beijing dan beberapa minggu di Universitas Olahraga Shanghai, makanannya disediakan lengkap (berlimpah) oleh pihak Sekolah pula.

Sekarang anak-anak saya bersekolah SD di Indonesia, masuknya pukul 06.45 dan pulangnya pukul 14.30 (tidak termasuk tambahan pelajaran / les).

Setiap pukul 12.00 hingga 12.30 adalah waktu makan siang dan makanannya tidak disediakan oleh pihak Sekolah, malahan terkadang kantinnya tidak lengkap! Padahal biaya pendidikan di Indonesia ini, termasuk yang paling mahal!!

Bagaimana bisa sehat, cerdas, kuat, tinggi apalagi besar?

Segala sesuatu wajib dimulai dari dunia pendidikan dan sedini mungkin. Lebih lagi untuk membangun generasi penerus yang cemerlang, baik otaknya, jiwanya maupun raganya.

Paling tidak, ke depan IQ dan Tinggi Badan rata-rata Bangsa Indonesia, dapat menjadi lebih baik daripada saat ini. Tentunya dengan tersedianya Makan Siang yang sehat dan lengkap untuk anak-anak di sekolahnya masing-masing!!!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Selasa, 10 September 2024

"Merasa Sudah Tua".

Tatkala Alm. Ayah berulang tahun yang ke 70 dan Beliau menyatakan ingin mengundurkan diri dari beberapa jabatan organisasi yang sedang diembannya lantaran "Merasa Sudah Tua", serta agar bisa lebih santai sekaligus mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta, saya menyetujuinya.

Ketika itu saya yang masih muda dan "Lolak-lolok" (artinya lugu, hahaha, biar kata ini muncul kembali) beranggapan bahwa umur 70 tahun memang telah renta serta sepantasnya banyak di rumah, sekaligus berdoa. Ternyata salah besar!

3 tahun kemudian, Ayah terkena stroke ringan (pelo, cadel walaupun sembuh total) karena kolestrol dan asam uratnya tinggi (padahal jogging pagi plus sore setiap hari, tetapi makanannya tanpa larangan).

Lantas 3 tahun berselang (sesudah stroke ringan) terkena serangan jantung, lagi-lagi penyebabnya kolestrol dan asam urat tinggi. Serta 1 tahun setelahnya, meninggal dunia!

Segalanya merupakan takdir! Tidak ada yang dapat merubahnya, titik!! Selesai!!!

Namun sekarang sesudah hampir 25 tahun berlalu, saya menyarankan kepada Ibu yang telah berusia di atas 70 tahun untuk selalu aktif. Tidak mengurangi kegiatan apapun (lebih-lebih yang disukai), rajin berolahraga (termasuk angkat beban), menjaga makanan, minuman, tidur plus pikiran, tidak gemuk dan tentunya tetap senantiasa rajin berdoa (yang ini tidaklah perlu diberi batasan umur!).

Lantaran teman-teman Alm. Ayah saya yang masih hidup dan sudah berusia di atas 90 tahun (bahkan ada yang 100 tahun) adalah yang aktif, rajin berolahraga, menjaga makanan, minuman, tidur plus pikiran, tidak gemuk serta bukanlah yang mudah menyerah (pasrah), apalagi yang "Merasa Sudah Tua", terus menjadi malas bergerak!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Selasa, 03 September 2024

Manusiawi.

Kelemahan, kekurangan dan kesalahan merupakan hal-hal yang manusiawi asalkan senantiasa disadari serta diperbaiki.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Zona.

Mengapa ada anak Pejuang yang menjadi Pengecut? Lantaran mempertahankan zona aman dan zona nyamannya!

Mengapa ada anak Pejuang yang menjadi Pecundang? Karena mempertahankan zona perut dan zona dompetnya!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Perintah Tertulis.

Keadilan haruslah selalu ditegakkan, utamanya oleh diri sendiri. Lantaran itulah yang menjadi kewajiban kita sebagai umat manusia, apalagi yang mengaku beragama, lebih lagi yang mengaku beriman. Jikalau tidak berani, maka dukunglah yang berani. Janganlah menjadi buta, tuli dan bisu, lebih-lebih menghalangi. Karena kelak pastilah diminta pertanggung-jawaban dan dosa dari tidak menegakkan keadilan, termasuk besar. Sebab kewajiban untuk menegakkan keadilan, merupakan perintah tertulis dari Sang Maha Kuasa.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

"Ibadah".

Tanpa nalar dan logika, apalagi kebajikan, cuma ibadah saja, tidaklah pernah mencukupi. Terkecuali, kata "Ibadah" di dalam arti yang luas sekali.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Senin, 02 September 2024

Fakta ataukah Dongeng.

Fakta tidak selalu pahit, tetapi nyata dan dongeng tidak melulu manis, namun khayal. Fakta ataukah dongeng yang lebih disukai, merupakan pilihan pribadi. Yang berdasarkan atas nalar dan logika, serta kedewasaan masing-masing.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Karma itu Ada.

Mengapa saya belum pernah ikut-ikutan menyatakan "Free Palestine"?

Lantaran penduduk Palestina yang sekarang, bukanlah Bangsa Palestina yang asli!

Bangsa Palestina yang asli sudah dibantai ratusan tahun yang lalu oleh orang-orang dari Turki, Mesir, Jordan dan Suriah.

Lantas orang-orang dari Turki, Mesir, Jordan dan Suriah yang membantai tersebut-lah yang kekinian tinggal disana, serta mengaku sebagai Bangsa Palestina.

Ceritanya mirip dengan orang-orang Eropa yang membantai Bangsa Indian dan saat ini tinggal di Amerika Serikat, serta mengaku sebagai Bangsa Amerika.

Apakah saya tidak kasihan?

Tentunya kasihan!

Baik kepada Bangsa Palestina yang asli maupun yang mengaku, sekaligus terhadap Bangsa Indian yang asli ataupun yang mengaku, jikalau terjadi peristiwa yang sama.

Tetapi walaupun demikian, saya percaya karma itu jelasnya ada dan pastilah terjadi, meskipun tidaklah tahu kapan waktu tepatnya. Sekaligus tidaklah berani turut campur di dalam urusan yang mutlak telah ditentukan oleh Sang Maha Pencipta sendiri ini.

Makanya saya tidak pernah menyatakan "Free Palestine", melainkan "Stop War" dan "Live Peacefully"!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Minggu, 01 September 2024

Biang dari Kemiskinan.

Bodoh, malas, percaya dongeng dan suka judi, minta-minta, dibohongi serta menghamba merupakan biang dari kemiskinan.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Sabtu, 31 Agustus 2024

Rajin dan Disiplin.

Sukses bukanlah hanya karena pandai semata, tetapi utamanya (malahan) lantaran rajin dan disiplin.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Fokus.

Lantaran selalu fokus dengan hal-hal (ataupun keuntungan) yang kecil dan terlalu menikmatinya (terlena), akhirnya yang besar terlewatkan. Begitupun sebaliknya.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Minggu, 25 Agustus 2024

Bermutu, Obyektif plus Profesional.

Buat saya pribadi, asalkan waras (tidak gila) dan sudah memiliki hak politik (di atas 17 tahun), berarti boleh mencalonkan diri di dalam mengikuti pemilihan jabatan publik tertentu.
Lantaran memiliki hak, berarti juga memiliki kewajiban, sekaligus tanggungjawabnya pula.
Lantas bagaimanakah caranya agar yang tidak becus, tidak bisa mengikuti pemilihan (saringan / filternya)?
Dengan memberikan persyaratan yang bermutu, obyektif plus profesional atas pendidikan, keahlian, pengalaman dan lain-lain sesuai kebutuhan pada jabatan tersebut.
Jadinya bukanlah usianya melulu yang dipermasalahkan, melainkan kemampuannya. 
Sehingga ke depan, kita tidak cuma terus-menerus berurusan dengan polemik umur belaka.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Jumat, 23 Agustus 2024

Peristiwa di Jl. Praban.


Setelah selesainya jaman perjuangan di dalam mempertahankan kemerdekaan alias Revolusi Fisik, para pejuang kemerdekaan mulai memikirkan masa depannya dengan mencari pekerjaan yang layak (khususnya yang tidak meneruskan karir di TNI / Polri) dan memilih pasangan untuk dinikahi, demikian pula Ayah saya.

Yang lebih senior (sepuh) ataupun yunior tetapi sudah terlebih dahulu menemukan "Jodohnya", beberapa telah menikah. Yang masih belum mendapatkan jodoh, tua maupun muda, tentunya beralih profesi menjadi "Pejuang Cinta" di dunia asmara pada awal tahun 1950-an itu.

Awalnya, Ayah saya menjalin hubungan dekat dengan seorang wanita di dekat rumahnya. Namun tiba-tiba pada suatu malam, seorang Tokoh Politik yang kebetulan juga mantan teman seperjuangan di era Revolusi Fisik, yang bernama Hasyim Darif mendatanginya.

Kedatangan Hasyim Darif tersebut untuk memberitahukan, bahwa Beliau sudah melamar "Teman Dekat" Ayah saya dan seluruh pihak menyetujuinya. 

Mendengarnya, Ayah saya langsung terkejut-kejut bak terkena strum ikan Belut Listrik berkekuatan 1 juta volt dan mengajak Hasyim Darif ke rumah "Teman Dekat"-nya itu, yang keberadaannya tidak seberapa jauh, untuk memastikan kebenarannya.

Sesampainya disana, ternyata orang tua "Teman Dekat"-nya tersebut telah menunggu Ayah saya dan sekali lagi memberitahukan, bahwasanya putrinya betul-betul sudah dipinang oleh Hasyim Darif, serta segenap keluarga besar menyetujuinya.

Ayah saya dengan jiwa besar dan lapang dada memberikan ucapan selamat kepada Hasyim Darif, serta orang tua "Teman Dekat"-nya itu. Sekaligus rasa terima kasih yang sebesar-besarnya, lantaran dirinya telah diberitahu (merasa dihormati plus dihargai). Dan hingga akhir hayat, Beliau berdua berteman baik.

Dulu semasa perang kemerdekaan berlangsung (1945-1949), sesungguhnya Ayah saya memiliki "Teman Dekat". "Teman Dekat"-nya ini putri dari salah satu orang terkaya, yang pada waktu tersebut karena situasi dan kondisi yang amat sangat berbahaya (perang), maka terpaksa tinggal di luar negeri. Serta oleh sebab tinggal di luar negeri (LDR), lambat-laun hubungannya kandas di tengah jalan.

Sesudah 2 kali menjadi "Jomblo", Ayah saya yang telah mengajar olahraga (Gulat, Tinju dan Anggar) di Pusdik KKO Gubeng meleburkan diri ke bidangnya. Beliau sebagai instruktur Pendjas / Pendidikan Djasmani (honorer), ikut terjun ke beberapa medan penugasan (bisa jadi lantaran saking frustasinya! Hahaha!!).

Beberapa bulan berselang, rasa kehilangan-pun berkurang, Ayah saya bertemu dengan wanita yang berasal dari Sulawesi Utara. Wanita yang dikenalnya tatkala sedang asyik berpesta dansa. Pesta Dansa merupakan sebuah kegiatan yang populer dan menjadi "Tren" pada masa itu.

Bermula dari teman di pesta dansa, lama-lama menjadi "Teman Dekat". Ayah saya merasa bahagia sekali, karena bisa mendapatkan pasangan dan melepaskan julukan "Jomblowan Sejati", serta berharap hubungannya menjadi serius.

Selama 1 bulan, "Semuanya seakan Indah". Selama 2 bulan, "Bunga Bangkai, seharum Bunga Mawar". Dan selama 3 bulan, "Tahi Kucing, serasa Coklat". Mabuk asrama, eh, asmara, memang luar biasa! Tiada taranya!!

3 bulan berlalu dan seperti biasa pada hari Sabtu malam, Ayah saya "Apel" (wajib hadir) ke rumahnya. Tetapi di malam minggu hari tersebut, mereka tidak kemana-mana dan terkesan lebih pendiam / tidak banyak bicara dari seperti normalnya. Entah mengapa, Beliau merasa ada yang janggal. Namun tidak ingin berburuk sangka, apalagi memperburuk keadaan, Ayah saya pamit pulang.

Keluar dari rumah "Teman Dekat"-nya itu, Ayah saya tidak buru-buru pulang ke rumahnya. Melainkan ke sebuah bangunan di jalan Krembangan yang menjadi tempat bagi salah satu sahabat baiknya, Jerry Souisa (kelak saya ingin menuliskan cerita terkait Beliau), bernyanyi dan berdansa (nantinya Jerry Souisa membawa Bob Tutupoly kesini).

Malam tersebut, adalah malam yang "Tak Terlupakan". Di samping oleh sebab lagu-lagu yang dibawakan oleh Jerry Souisa benar-benar menghibur jiwa dan raga, plus kejadian yang bakalan terjadi esok harinya. Ayah saya betul-betul menikmati malam itu dan pulang sekitar pukul 02.00 dini hari.

Setiap pagi dan sore (sampai usia 76 tahun alias sebelum meninggal dunia) Ayah saya selalu melakukan jogging. Kebiasaannya ini dilakukan semenjak Balita, lantaran Beliau lahirnya prematur dan konon nyaris terjangkit Polio. Serta sesudah jogging, pastinya mandi lantas sarapan.

Pada waktu sarapan di suatu Kedai (lupa namanya), Ayah saya bertemu dengan temannya. Temannya tersebut menyampaikan, bahwa barusan ia melewati rumah "Teman Dekat"-nya (Ayah saya) dan terlihat sepertinya sedang mengadakan acara.

Karena tidak paham dengan yang dimaksud, Ayah saya cuma mengiyakannya saja dan menawarinya sarapan. Mereka berdua sarapan bersama dan menghabiskan waktu, hingga pukul 09.00 pagi. Setelahnya pulang ke rumah masing-masing.

Di rumah, Ayah saya tidak terlalu memikirkan perkataan temannya tadi. Sebab Beliau yakin, apabila ada yang penting mestilah "Teman Dekat"-nya mengabarinya. Jikalau tidak mengabari, berarti bukanlah sesuatu yang penting.

Pukul 11.00 siang, Ayah saya pergi ke rumah temannya di daerah Wonokromo.

Ketika perjalanan kesana, tetiba Beliau bertemu dengan teman lainnya yang berusaha menghentikan mobilnya. Ayah saya menghentikan mobilnya dan temannya itu mendekat. Lalu memberitahu, bahwa tadi pagi di rumah "Teman Dekat"-nya Ayah saya ada acara dan ia melihat Usman Balo bersama teman-temannya di rumah tersebut.

Usman Balo ialah seorang mantan Pejuang Kemerdekaan yang berasal dari Sulawesi Selatan dan berteman baik dengan Ayah saya sejak 10 November 1945. Beliau (Usman Balo) dari kesatuan KRIS, sedangkan Ayah saya dari kesatuan BKR Pelajar Staf III / Praban Surabaya. Meskipun mantan pejuang kemerdekaan dan berteman baik, tetapi Usman Balo terkenal "Playboy".

Ibarat "Tersambar Petir", Ayah saya sontak membatalkan tujuan pertamanya untuk pergi ke rumah temannya di daerah Wonokromo. Beliau pulang ke rumah untuk mengambil pistol dan menukar mobil dengan motor, Harley Davidson-nya. Kemudian berangkat ke rumah "Teman Dekat"-nya untuk mencari tahu, perihal acara apakah yang diadakan pagi ini disana.

Rumah "Teman Dekat"-nya sepi, tidak berpenghuni. Diketuk-ketuk, tidak ada yang membukakan pintu. Ayah saya yang semakin penasaran, bertanya ke tetangga. Para tetangga menceritakan, bahwasanya "Teman Dekat"-nya Ayah saya tadi pagi telah dinikahi oleh Usman Balo.

Teriknya matahari bertambah panas, rasanya kayak Bom Atom yang meledak. Seketika Ayah saya mengucapkan terima kasih kepada para tetangga dan pergi. Beliau menuju ke rumah Usman Balo di daerah Kedungdoro.

Tanpa disangka-sangka a.k.a. dinyono-nyono, manakala melewati jalan Praban untuk menuju ke daerah Kedungdoro, Ayah saya melihat Usman Balo yang sedang berjalan dikawal oleh 6 orang anak buahnya. Beliau sontak menghentikan motornya, mengeluarkan pistol dan mendekati Usman Balo.

Anak buah Usman Balo yang melihat Ayah saya mengeluarkan pistol, spontan mengeluarkan pistolnya pula. Ayah saya yang sedang "Mendidih" menembaknya dan terjadilah tembak-menembak.

Jalan Praban, tepatnya sekarang yang menjadi gedung SMP 3 dan SMP 4 (dahulu namanya SMP 1 serta MULO) merupakan markas BKR Pelajar Staf III, yang notabene adalah tempat yang menjadi cikal-bakal dari Ayah saya bergabung di dalam perjuangan kemerdekaan. 

Jadinya Beliau sungguh-sungguh hafal setiap lekak-lekuk jalan dan bangunannya, serta mengenal warganya (beberapa malahan teman sekolah, plus saudara seperjuangan). Walhasil "Jomplang"! Walaupun sendirian melawan 7 orang, tetaplah unggul dan berhasil menjatuhkan 3 pengawal Usman Balo.

5-10 menit berlangsung, terus terdengar bunyi suara peluit (Polisi) yang bersahut-sahutan. Ayah saya dan Usman Balo CS membubarkan diri. Mereka lari ke mobilnya, Ayah saya lari ke motornya. Sebenarnya Beliau masih ingin mengejar, namun orang-orang yang mengenalnya menyarankan untuk berpencar.

Peristiwa di Jl. Praban betul-betul mengemparkan, terutama bagi para mantan Pejuang Kemerdekaan. Lantaran pada tahun 1950-an itu, para mantan pejuang kemerdekaan terpecah-belah, spesialnya karena "Re-Ra".

Perkelahian di hari tersebut tidak berlanjut, sebab beritanya menyebar seantero Kota Surabaya dan membuat Ayah saya tidak leluasa bergerak.

Serta ternyata tidak hanya Ayah saya semata yang "Bermasalah" dengan Usman Balo, tetapi juga IBLA (Ikatan Bintara Laut). Yakni organisasi untuk mantan Bintara Angkatan Laut Belanda yang bergabung ke TNI AL. Organisasi yang amat militan dan sangat keras (kasar). Gara-gara bermasalah dengan organisasi ini, markas Usman Balo di jalan Kedungsari dibakar habis!

Tahun 2004, saya menemani Ayah ke Jakarta. Seperti biasanya, (mungkin mulai dari semenjak berdirinya hotel ini) kami menginap (senantiasa) di Nikko Hotel (lampaunya Presiden Hotel dan kekiniannya Pullman Hotel). Hampir seluruh karyawannya mengenal Ayah saya, lantaran Beliau pernah memiliki sebidang kantor di Skyline Building dan Wisma Nusantara.

Tepat saat akan masuk ke dalam lift dan menunggu sekelompok orang yang sedang keluar dari dalam lift (ada Arry Malajong di dalam rombongan) tahu-tahu Ayah saya berteriak lantang, "Hey!". Serta seorang Tua berkumis tebal memegang tongkat berteriak tak kalah kencang, "Hey!". Haduh!! Seisi hotel-pun terdiam!!!

"Usman!", lanjut Ayah saya dan "Benny!", sahut orang tua bertongkat. Keduanya sambil melotot dan mata memerah!! Yang lain rasanya ingin melarikan diri atau pura-pura tidak kenal!!!

Saling menatap tajam, tanpa mengedipkan mata beberapa detik. Dan lantas tertawa sembari menyodorkan tangan, serta berpelukan erat. Sayup-sayup saya mendengar kata-kata, "Persis 50 tahun!". Lalu sambil tidak melepaskan pelukannya, Beliau berdua berkata, "Ayo kita mengobrol di Lobby!!".

Di Lobby tersebut, kami segenap yang hadir mendengarkan kisah ini!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Selasa, 20 Agustus 2024

Salah Aliran.

Beragama itu membuat diri kita menjadi riang, cerah, tenteram, bersyukur, pecinta, penikmat, bergaul luas, bermanfaat, positif, cerdas dan berbahagia.

Apabila menjadi murung, suram, gelisah, pengeluh, pembenci, penyesal, bergaul sempit, merugikan, negatif, dongok dan sengsara berarti salah aliran.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Perwujudan.

Iman bukanlah Pengakuan, apalagi Identitas, lebih lagi Pencitraan melainkan Perwujudan.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Demi Kekuatan Bangsa.

Agama diciptakan untuk memperbaiki dan membangun moral bagi masyarakat, demi kekuatan Bangsa ataupun Negara yang ditinggalinya. Bukanlah sebaliknya!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Minggu, 18 Agustus 2024

3 Hal yang Pasti.

Normalnya mengalami Tua, Sakit dan Mati merupakan 3 hal yang pasti. Makanya bergaulah dengan orang-orang yang berani berjuang untuk mempertahankan dan menjaga kemudaannya, kesehatannya serta kepanjang-umurannya. Bukannya yang takut, apalagi yang tidak peduli, lebih lagi yang menakut-nakuti!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Jumat, 16 Agustus 2024

Mutlak.

Tidaklah perlu ditakut-takuti dengan neraka, apalagi diiming-imingi dengan surga. Lantaran kesemuanya, apapun, mutlak kehendak dari Sang Maha Kuasa.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Ibu-ibu Anggun yang Bersanggul dan Berselendang.

Jaman Alm. Pak Harto, adalah puncak dari kita menjadi negara berpenduduk Muslim yang terbesar di dunia. Namun demikian, langka sekali yang bergaya ala Timur Tengah. Dan malahan masih kental banget kearifan lokalnya, termasuk gaya busananya. Mungkin lantaran belum banyak pengusaha "Baju Jadi", lebih-lebih penjual pernak-pernik dari dan ala Timur Tengah. Sehingga tidak dijadikan "Tren", seperti saat ini.

Dulu yang ada bahkan, "Ibu-ibu anggun yang bersanggul dan berselendang". Sebuah wujud dari kecantikan alami milik Bangsa kita sendiri, plus tentunya rasa percaya diri. Jikalau jaman sekarang dikembalikan lagi dengan model pakaian yang sama, rasanya cocok dan sesuai dengan jati diri. Walaupun kesemuanya itu, berpulang kepada keputusan masing-masing, termasuk urusan keyakinannya.

Charles E. Tumbel.

NB : Silahkan berdebat sesuai konteksnya, yakni "Jaman Pak Harto". Jangan lari kemana-mana, apalagi memakai "Logical Fallacy". Terima kasih.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Senin, 12 Agustus 2024

"Ilmu Katak".

Berharap terlalu tinggi untuk bisa mendapatkan "Durian Runtuh" dari dunia Politik?
Salah besar!
Lantaran para Politikus bukanlah orang bodoh, apalagi yang telah berhasil.
Dan yang berharap untuk bisa mendapatkan "Durian Runtuh" tidaklah sedikit, plus semuanya menggunakan "Ilmu Katak".
Yakni : "Ke atas menyembah, ke samping mendorong dan ke bawah menendang".

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Idealisme Dipertahankan.

Dasar dari melakukan kegiatan Politik itu Idealisme, bukannya Materialisme. Walaupun pada tahapan tertentu, Materialisme pastilah mengikuti, tetapi Idealisme haruslah selalu dipertahankan.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Sabtu, 10 Agustus 2024

Waktulah Satu Kali.

Kesempatan bisa datang dua-tiga kali, tetapi waktulah yang cuma bisa datang satu kali saja dan lantas pergi!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Ciptakanlah!

Kesempatan datangnya cuma 1 kali saja, makanya "Ciptakanlah"!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Kamis, 08 Agustus 2024

Persimpangan Jalan.


Suatu sore, pada saat sedang pulang ke Indonesia untuk memperpanjang Visa (tahun 1990, bulannya lupa), saya mendadak rindu sekali kepada Oma (nenek).

Tanpa menunggu, saya segera mengenakan Baju (jikalau di rumah kebiasaan telanjang dada alias "Ote-ote"), mengambil kunci Mobil dan berangkat ke rumah Tante (bibi) yang menjadi tempat tinggal Oma saat itu.

Sesampai di rumah Tante, saya langsung masuk ke dalam dan memanggil serta mencari Oma.

Terdengar suara Oma dari arah Dapur dan saya langsung menuju kesana.

Di Dapur, Oma melihat saya dan berkata sambil bertanya, "Oalaa Alet (Alet merupakan panggilan khas dari Oma, semenjak saya balita dan cadel), dari mana?".

"Dari rumah, Oma", jawab saya.

"Ada apa, Let?", sambung Oma.

"Ngga (tidak), cuma kangen (rindu) sama Oma tok (saja) kok!", jawab saya singkat.

"Oo iya, Let. Tunggu sebentar ya, Oma bereskan ini terlebih dahulu", lanjutnya.

Saya orangnya spontan dan memiliki kebiasaan untuk tidak menunda hal-hal yang baik lagi positif, yang keluar dari hati nurani. Serta saya suka mengamati orang lain, sambil berpikir.

Dan tatkala mengamati sembari berpikir perihal Oma yang di waktu tersebut sedang sibuk-sibuknya membersihkan Dapur, saya-pun menawarkan diri untuk membantu Beliau. 

Tetapi Beliau menolak dan mengatakan bahwa aktivitasnya sudah hampir selesai, sekaligus menyuruh saya untuk duduk sambil menunggunya.

Saya bergegas pindah ke ruang tamu untuk duduk dan menunggu (lantaran khawatir mengganggu aktivitasnya), sembari menyalakan sebatang Rokok serta berpikir keras tentang Beliau.

Dulu ketika kakak-kakak dan saya masih belum remaja, Oma tinggal bersama kami. Namun setelah kami sudah agak besar dan Tante melahirkan anaknya yang pertama, Oma pindah ke rumahnya. 

Oma saya adalah wanita yang cerdas, bijaksana, sabar, tidak suka mengeluh (kuat) dan amat mencintai anak-anak, serta cucu-cucunya. 

Beliau seorang Ibu plus Nenek, yang sungguh-sungguh perhatian dan pengertian terhadap kami semuanya.

Sejak mulai dari kecil, saya kagum kepada Beliau. Bukannya hanya karena kecantikan dan kebaikannya semata, melainkan lebih disebabkan oleh pengalaman hidup serta percampuran darah (keturunan) yang ada di dalam tubuhnya.

Beliau mempunyai percampuran darah yang uniknya "Kebangetan" (menurut pendapat pribadi saya), yang sangat jarang dimiliki oleh orang lain. Tetapi walaupun demikian, Oma senantiasa rendah hati terhadap siapapun.

Manakala saya sedang asyik-asyiknya berpikir, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dan perkataan yang lembut dari Beliau, "Selesai Let! Ada apa?".

"Hehehe, ngga (tidak) ada apa-apa Oma. Oma sehat?", jawab dan tanya saya.

"Sehat Let, namun ya sehatnya orang yang telah renta", jawabnya.

"Iya, Oma. Sing (yang) penting selalu sehat, meskipun sudah tua", lanjut saya.

Kemudian saya bertanya, "Oma, mengapa disaat Tentara Jepang masuk, tidak mau pindah ke Negeri Belanda?".

"Saat itu Negeri Belanda dikuasai oleh Hitler (Jerman) dan aku ini orang Solo, Let. Papanya Oma masih hidup di Solo, bukannya di Negeri Belanda. Dan dari mulai umur 7 tahun (1929), setelah Opaku meninggal, aku tinggal di Jakarta menemani Omaku, Nyi A. Inem van (dari) Bantam (Banten). Jadi, buat apa aku pindah ke Negeri Belanda?", jawab Beliau sambil bertanya kembali kepada saya.

"Loh, Papanya Oma masih hidup toh? Kenapa Oma tidak balik ke Solo ataupun ke Jakarta lagi?", ganti saya yang bertanya kembali.

"Papanya Oma memiliki beberapa orang Istri dan aku juga sudah menikah pula, jadi ngga (tidak) enak rasanya apabila balik ke Solo lagi. Serta Omanya Oma di Jakarta telah meninggal saat aku berusia 12 tahun (1934)", jawabnya.

"Oo, Omanya Oma sudah meninggal dan Papanya Oma mempunyai beberapa istri?! Papanya Oma, jaman dahulu kerjanya apa?", tanya saya penasaran.

"Papanya Oma kerjanya pada bagian Keuangan di Keraton Solo, namanya Ndoro Nar (B.R.M. Lesnar Poerbodiningrat). Iya, istrinya ada beberapa tetapi aku tidak mengenalnya", jawabnya.

"Oalaa, baru tahu aku, Oma!", kata saya.

"Jikalau Oma tidak bisa ke Belanda lantaran dikuasai Hitler, tidak bisa ke Solo karena telah menikah, mengapa tidak ikut suami?", lanjut saya.

Saya memang dari kanak-kanak, paling suka bertanya (ihwal apapun). Dan seandainya belum menemukan jawabannya maupun (menurut saya) kurang lengkap, maka akan saya kejar. Bisa dibayangkan, pastinya luar biasa menjengkelkan bagi siapapun yang sedang mendapatkan pertanyaan dari saya.

"Di waktu tersebut, suaminya Oma (Christiaan Jacob van Reesch) sedang bertugas di Perang Dunia II dan markasnya dipindahkan ke Australia", jawabnya.

"Berarti, semestinya Oma turut pindah ke Australia", lanjut saya.

"Tidak bisa Let, sebab Mamanya Oma tinggal di Sukabumi dan sedang ditawan oleh Tentara Jepang", lanjutnya.

"Mamanya Oma dan Oma ini anak tunggal, kita tidak memiliki saudara lain, Let. Jikalau Oma tidak mencari dan membantu Mamanya Oma, maka dia jelasnya bakalan dibunuh oleh Tentara Jepang. Jadi Oma memilih untuk tetap tinggal di Indonesia, buat mencari dan membantu Mamanya Oma", sambungnya.

"Oalaa Oma, aku baru tahu! Waduh, betul-betul rumit dan sulit ya masalahnya!! Apakah akhirnya berhasil bertemu dan membantu Mamanya Oma? Serta apakah Oma berjuang sendirian?", tanya saya.

"Sewaktu Oma sampai di Sukabumi, katanya sudah dipindahkan ke Bandung. Sewaktu Oma sampai di Bandung, katanya telah dipindahkan ke Bogor. Sewaktu Oma sampai di Bogor, katanya sudah dipindahkan ke Jakarta. Sewaktu Oma sampai di Jakarta, katanya telah dipindahkan ke Malang. Dan sewaktu Oma sudah sampai di Malang, katanya telah meninggal dunia. Namun tidak pernah menemukan makamnya!", jawabnya dengan suara yang begitu sedih dan mata yang berkaca-kaca.

"Aku tidak sendirian, Let. Lantaran pada masa-masa itu keadaannya amat sangat genting, apalagi untuk orang "Indo" (campuran Belanda) plus seorang wanita, seperti aku.

Di Jakarta, Oma dibantu oleh Pakdhe (kakaknya Ayah) yang bernama, R.M.Ng. Lesyo Poerbotjaroko. Dan selama perjalanan kesana-kemari ditemani oleh seorang Dokter berkebangsaan Jepang bernama Yoshida Arata, yang sudah kami kenal, semenjak pertama kali tinggal di Surabaya", lanjutnya.

"Waduh Oma, aku ngga (tidak) bisa membayangkan betapa kalutnya Oma dan mengerikannya keadaan pada jaman tersebut", kata saya kepada Beliau.

"Jaman itu luar biasa menakutkannya, Let, super menakutkan! Orang dipenggal, dibelah, diperkosa, dibunuh dan dirampok", timpalnya

Kami berdua melamun bersama, walaupun lamunannya tentunya berbeda, antara saya dan Oma.

Setelahnya saya lanjutkan bertanya lagi, "Sesudah Jepang pergi dan Perang Dunia II usai, kenapa Oma tidak pindah ke Australia ataupun ke Negeri Belanda? 'Kan kesempatannya datang kembali, Oma?".

"Let, pada saat Oma pergi mencari Mamanya Oma di Sukabumi, Bandung, Bogor, Jakarta dan Malang tersebut agar tidak ada kesulitan di dalam perjalanan, aku dengan Dokter berkebangsaan Jepang ini mengaku sebagai pasangan suami-istri. Lama-kelamaan, kami berdua takut diketahui oleh Kempeitai, sehingga menikah betulan". 

"Dan karena telah menikah, lalu dikaruniai dua orang anak dari Dokter berkebangsaan Jepang ini, maka aku wajib bercerai dengan suami yang pertama (Belanda). Dua orang anakku darinya, dibawanya pindah ke Australia. Aku tetap memilih tinggal di Surabaya, dengan dua orang anakku dari Dokter berkebangsaan Jepang". 

"Aku tidak pindah ke Negeri Belanda, sebab aku orang Indonesia. Disana aku tidak mempunyai siapa-siapa dan memiliki apa-apa. Disinilah tanah airku, tumpah darahku dan Papaku masih hidup, sekaligus ada keluarga meskipun jauh, serta banyak peninggalan yang wajib diurus!", panjang-lebar penjelasan Oma kepada saya.

Saya terdiam termangu, penjelasannya masuk akal dan lengkap!

Lantas saya mengulang pertanyaan yang sebelumnya, yang bagi saya masih kurang gamblang jawabannya, "Apabila demikian maka seandainya Oma balik ke Solo maupun ke Jakarta lagi, pastinya Oma lebih terjamin dan berkelimpahan hidupnya, daripada tetap tinggal di Surabaya. Lantaran disana ada Papanya Oma ataupun keluarga besar yang lain. Mengapa Oma masih mau untuk tetap tinggal di Surabaya dan membesarkan dua orang anak sendirian?".

Oma saya menjawab, "Let, di dalam hidup ini, suatu waktu kamu akan menemukan persimpangan jalan. Yang satu, jalan kekayaan dan yang satu, jalan kebahagiaan. Jikalau kamu memilih jalan kekayaan, kecil kemungkinannya bisa bahagia. Tetapi apabila kamu memilih jalan kebahagian, besar kemungkinannya bisa kaya. Karena kaya itu oleh sebab jiwamu, bukannya hartamu. Dan Oma dulu sudah menetapkan untuk memilih jalan kebahagiaan, bukannya jalan kekayaan. Serta ternyata pilihan Oma tersebut, benar!".

Saya mengangguk-angguk tanda setuju dan tidak terasa air mata telah menetes jatuh ke dagu.

Di hari itu saya mendapatkan sebuah Pelajaran Hidup yang sungguh-sungguh amat sangat berharga, yang hingga detik ini menjadi pegangan utama di dalam memilih, tatkala menemukan persimpangan jalan.

Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Omaku tercinta, R.A. Deedee (Didi) Poerbokoesoemo binti Lesnar Poerbodiningrat / Deetje Jacoba de Nijs. Doa yang paling terbaik dan rindu yang mendalam sekali dari kami seluruhnya untukmu di "Sana", dimanapun Oma berada. Aamiin.

Surabaya, 27 Mei 2020.
Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Sabtu, 03 Agustus 2024

Sejarah serta Budaya Besar milik Bangsa Indonesia.


Manakala pertama kali masuk kuliah Bahasa Jepang di Shinjuku Kokkusai Nihongo Gakko, Tokyo, Jepang, pada awal tahun '90-an, saya bertemu dengan teman-teman sekelas dari beberapa Negara.

Terbanyak berasal dari Korea, lalu disusul oleh China. Sisanya ada yang berasal dari Taiwan, Hongkong, Singapura, Filipina, Thailand, Vietnam, Myanmar, Laos, Kamboja, Irak, Iran dan pastinya Indonesia (Harry Prasetyo).

Senang sekali bisa bertemu, berkenalan dan berteman, terutama dengan orang-orang yang berasal dari Negara-negara yang berbeda. Di samping lantaran berbeda bahasa dan kebiasaan, juga tentunya cara bergaulnya pula.

Dari keseluruhan teman, ada beberapa orang yang berasal dari sejumlah Negara yang betul-betul sopan sekaligus santun terhadap diri saya. Yakni teman-teman yang berasal dari Myanmar, Laos dan Kamboja.

Mulanya saya mengira, karena sama-sama dari Asia Tenggara. Atau sebab Presiden kita pada jaman itu, amat sangat terkenal dan berhubungan baik / dekat dengan Presiden mereka, tetapi ternyata salah.

Mereka sopan sekaligus santun kepada saya, lantaran dari Indonesia! Alias mereka menghormati dan menghargai Sejarah serta Budaya Besar milik Bangsa Indonesia, tepatnya Nusantara!

Mereka hafal nama-nama kerajaan di Nusantara, berikut dengan nama-nama rajanya. Bahkan mereka mengatakan, bahwa guru-guru a.k.a cerdik-pandai pada jaman tersebut, berasal dari kita.

Sungguh-sungguh mengesankan dan membanggakan bagi saya, ketika mendengarnya. Serta membalas perilaku yang sopan sekaligus santun itu, dengan perilaku yang sepadan, baik sopan maupun santunnya.

Kejadian semacam ini, tidak cuma terjadi tatkala saya bersekolah di Jepang belaka. Namun terulang kembali, disaat saya bersekolah di Amerika Serikat. Bayangkan, betapa beruntungnya!

Malahan gangster-gangster dari Laos dan Kamboja yang terkenal kejam, tidak pernah "Menyentuh" orang-orang Indonesia. Benar-benar luar biasa dan mengagumkan, keagungan sejarah dari nenek moyang kita!

Sayangnya sekarang saya sudah tidak merasa terkesan dan bangga seperti dulu lagi.

Bukannya karena Bangsa lain (Myanmar, Laos dan Kamboja) tidak hafal dengan nama-nama kerajaan, serta raja di Nusantara seperti sediakala. Melainkan oleh sebab Bangsa kita sendiri, telah melupakan sejarah dan budayanya.

Malar-malar melencengkan, membenamkan dan memusuhinya, bagaikan sedang "Kerasukan" serta kehilangan jati diri. Membuat diri saya menjadi gundah, pilu dan meradang! Mungkin tidak hanya saya saja, tetapi banyak orang!! Namun terlalu takut untuk menyampaikannya.

Semoga dengan tulisan yang singkat tentang pengalaman pribadi saya ini, bisa menggugah jiwa-jiwa yang tertidur untuk lekas bangun dan bangkit berdiri sekaligus berlari di dalam membangun rasa cinta plus bangga, terhadap sejarah serta budaya yang asli milik dari Bangsa kita sendiri, sekalian berani menyatakannya!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Senin, 29 Juli 2024

Pedagang "Palugada".

Segala sesuatu bisa dijadikan uang asalkan diberi nama, cap / kesan, sertifikat (ataupun gelar), pesaing dan promosi.

Entah itu politik, agama, sosial, budaya, teknologi apalagi benda-benda tertentu, baik yang menjadi kebutuhan maupun tidak.

Dan orang yang mampu membuat apapun menjadi uang, namanya Pedagang "Palugada". Alias "Apa yang Lu Minta, Gua pastilah Ada".

Pokoknya seluruhnya "Katanya" ada, jadinya tidaklah perlu ke orang lain, selain dirinya sendiri.

Lantaran kesemuanya seolah-olah sudah dikuasai olehnya sendiri dan yang terbaik, walaupun bohong.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Rabu, 24 Juli 2024

Kesempurnaan Cinta.


Aku yang telah lama mengembara di sepanjang usia dengan penuh duka, luka dan air mata akhirnya dipertemukan denganmu...

Mungkin bukan pertemuan yang pertamaku dan mungkin bukan pertemuan yang pertamamu, tapi sebuah Pertemuan dari yang abadi...

Pertemuan dari yang abadi di dalam jiwa nan suci. Jiwa nan suci tanpa noda-noda ambisi, untuk datangnya kebahagiaan hakiki...

Aku yang sudah pernah menderita di seluruh cobaan dengan penuh sabar, tabah dan kucur peluh akhirnya dihadiahkan dirimu...

Mungkin bukan-nya hadiah yang pertamaku dan mungkin bukan-nya hadiah yang pertamamu, namun suatu perasaan Cinta yang Sejati...

Cinta yang sejati, pertama dan terakhir bagi kita berdua ini, biarkanlah selama-lamanya dikenang sebagai yang terindah oleh dunia...

Dunia yang berganti, dunia yang menanti, dunia yang bermimpi, tentang kesempurnaan cinta yang sejati seperti yang kita miliki...

Surabaya, 24 Juli 2024.
Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Jumat, 19 Juli 2024

Etika di WC.

Bagi para Lelaki yang akan melakukan Buang Air Kecil di Toilet Umum :

"Biasakanlah untuk terlebih dahulu menegakkan posisi (mengangkat) tempat "Plastik Dudukan" buat Buang Air Besar yang ada di Kloset Duduk, agar para Perempuan yang hendak melakukan Buang Air Kecil maupun siapapun yang ingin melakukan Buang Air Besar, tidak terkena apapun dari bekas Air Seni! Sekaligus ajarkanlah kepada anak-anak, supaya mengerti tentang etika di WC ini!! Serta marilah lebih menjaga lagi kebersihan dan kesehatan, demi kebaikan bersama!!! Terima kasih".

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Selasa, 16 Juli 2024

Segala Sumber Hukum.

Pancasila merupakan Dasar Negara, Ideologi Tunggal, Falsafah Hidup, Roh sekaligus Napas di dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara bagi seluruh Rakyat Indonesia, plus Sumber dari Segala Sumber Hukum. Sehingga segenap peraturan, mulai dari Undang-undang Dasar sampai dengan ke Peraturan Kampung, wajiblah berlandaskan pada Pancasila. Tanpa berlandaskan kepada Pancasila maka tidaklah sah, walaupun telah disahkan dan ditetapkan sebagai peraturan. Serta haruslah dikembalikan pada peraturan sebelumnya, yang berlandaskan kepada Pancasila.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Sabtu, 13 Juli 2024

Terjebak dengan Produk Makanan.

Yang lalu saya baru tahu, jika produk "Keju" tertentu, ternyata sebagian besar bahan bakunya ialah Minyak Sawit (bukan Susu).

Sekarang ini saya juga baru tahu, kalau produk "Selai Coklat" tertentu, ternyata sebagian besar bahan bakunya adalah Minyak Sawit pula (bukan Coklat).

Bahkan "Minyak Bawang" yang biasanya ada di dalam "Pangsit Mie"-pun, lagi-lagi ternyata merupakan Minyak Sawit (bawangnya cuma digoreng buat aroma saja).

Kandungan minyak jenuh di dalam Minyak Sawit itu amat sangat tinggi dan banyak orang yang menghindarinya, lantaran dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah.

Jikalau untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya, lantas bahan baku asli dengan sengaja diganti maupun ditambahkan Minyak Sawit berlebihan, maka orang-orang yang sedang berupaya menghindarinya, apabila tidak teliti (alias wajib selalu meneliti), apakah tidak terjebak dengan produk makanan tersebut?!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Jumat, 12 Juli 2024

"Sensasi demi Komisi".

Kita disini belum terbiasa untuk melakukan cek darah lengkap secara rutin (beberapa bulan sekali), terkecuali sedang ataupun telah terlanjur sakit. Sehingga kurang memahami kondisi dari organ-organ tubuh yang dimiliki dan tidak bisa melakukan pencegahan, jikalau terjadi perubahan yang dapat merugikan kesehatan. Terutama apabila perubahan yang dapat merugikan kesehatan tersebut, tidak memiliki gejala awal yang terasakan.

Jangankan melakukan cek darah lengkap secara rutin, cuma sekadar konsultasi ke Dokter saja, belumlah tentu dilakukan. Malahan alih-alih ke Dokter (tatkala sakit), bisa-bisa hanya tanya-tanya lalu membeli obat di Apotek belaka. Bahkan tidak tanya-tanya kepada siapapun, tiba-tiba sudah diputuskan untuk mengobati dirinya sendiri dengan meminum jamu-jamuan, tanpa sama sekali mengetahui sumber penyakitnya. Jian luar biasa!

Makanya ketika terjadi wabah penyakit yang mematikan seperti beberapa waktu lalu, banyak yang kelihatannya alias tampak luarnya kayak sehat, tetapi disaat terpapar langsung fatal. Ironisnya, bukannya menyalahkan kebiasaan tidak pernah melakukan cek darah, konsultasi ke Dokter, tanya-tanya kemudian membeli di Apotek maupun mengobati sendiri tanpa mengetahui sumber penyakitnya, melainkan para Tenaga Medis dan Rumah Sakit-nya.

Apalagi di jaman digital seperti saat ini, dimana segala sesuatu "Digoreng" demi mendapatkan penonton, penyuka dan pengikut yang mendatangkan "Cuan" (entah dari "Endorse", "Sawer" ataupun "Ads") yang akhirnya membuat masyarakat awam menjadi semakin kebingungan. Lebih lagi oleh pihak-pihak yang memiliki trauma maupun ketakutan tersembunyi terhadap Tenaga Medis dan Rumah Sakit, hal-hal seperti ini dijadikan "Senjata".

Padahal membangun stigma semacam itu, jelaslah merugikan. Baik dirinya sendiri, lebih-lebih masyarakat luas. Dirinya sendiri rugi, lantaran suatu waktu bisa terpaksa harus dirawat oleh Tenaga Medis ataupun di Rumah Sakit. Dan pikiran-pikiran negatif akan berkecamuk serta menambah permasalahan, plus stres. Begitupun dengan masyarakat luas yang telah terpengaruh konten-kontennya, pastilah bakalan mengalami yang sama.

Karenanya, biasakanlah apapun yang baik dan benar. Dengan senantiasa rutin melakukan cek darah lengkap dan konsultasi ke Dokter (bukannya apotek, apalagi mengobatinya sendiri). Seperti kata orang tua kita dulu, yakni "Sedia Payung, Sebelum Hujan". Serta berpikirlah menggunakan nalar plus logika, biar tidak mudah percaya kepada "Hoaks". Yang memang sengaja dibuat oleh Si Empunya, untuk menciptakan "Sensasi demi Komisi".

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Kamis, 27 Juni 2024

Pergi dan Datang.

Kemarin milik mereka yang sudah pergi, sekarang milik kita yang masih ada dan besok milik mereka yang akan datang.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Nalar dan Logikanya.

Biasakanlah anak-anak anda menghafalkan cerita, kisah dan kata-kata yang sebanyak-banyaknya sampai "Koleng". Serta biarkanlah nalar dan logikanya tidak bekerja secara maksimal. Sehingga kelak "Lolak-lolok", "Tolah-toleh" plus "Ongap-angop" ketika terjadi suatu Permasalahan. Lantaran terlalu banyak menghafalkan yang cuma itu-itu saja. Lalu ikhlaskanlah mereka menjadi pembual, pengemis dan peminta sumbangan, serta pesuruh bahkan begundal dari orang lain yang nalar sekaligus logikanya bekerja dengan baik.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Bekal untuk Anak-anaknya.

Suami dan istri haruslah sama-sama selalu mengikuti perkembangan jaman, terutama kemajuan teknologi. Sehingga keduanya bisa mengetahui kemutakhiran, plus kebutuhan atas ilmu, pengetahuan dan keahlian yang dapat dijadikan bekal untuk anak-anaknya di kemudian hari.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Selasa, 18 Juni 2024

Menggunakan Kita.

Kita dipengaruhi, bahkan disuruh untuk membela ataupun memusuhi pihak-pihak lain. Padahal mereka sedang menekan dengan ancaman "Boikot" untuk meminta "Setoran" dari pihak-pihak tersebut, menggunakan kita. Kita memang tulus, tetapi mereka sekadar "Fulus".

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Senin, 17 Juni 2024

Sesaat, plus Recehan.

Bukannya cuma dimanfaatkan untuk Politik Identitas saja, tetapi juga Komersialisasi Keyakinan dan kepentingan-kepentingan sesaat lainnya, plus yang recehan pula.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Bukannya.

Sang Maha Pencipta merupakan Yang Maha Tahu, sehingga tidak perlu pamer. Dan Dia-pun lebih dekat dari urat nadi, makanya berkomunikasilah dengan pelan, halus dan lembut. Bukannya dengan teriakan, apalagi memakai loudspeaker.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Apapun Nama dan Bentuknya.

Organisasi apapun nama dan bentuknya (politik, agama, sosial, profesi, lain-lain) pada akhirnya hanya untuk kepentingan serta keuntungan dari internalnya belaka, bukanlah eksternal, apalagi demi umum.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Minggu, 16 Juni 2024

Kepada Dirinya Sendiri.

Tujuan dari Beragama adalah menjadi baik, luar dan dalam. Sehingga tidaklah perlu dipersoalkan, apalagi diributkan dan dibesar-besarkan. Perlunya itu dijalankan dan dibuktikan kepada dirinya sendiri, bukanlah orang lain. Lebih lagi sekadar untuk mencari pengakuan, lebih-lebih penghasilan.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

"Akon-akon".

Berketuhanan kepada Yang Maha Esa, pastilah berjalan berdampingan dengan Berperikemanusiaan dan Berperikeadilan. Sedangkan untuk sebaliknya, belumlah tentu. Sehingga barang siapa yang mengaku Berketuhanan kepada Yang Maha Esa, maka haruslah Berperikemanusiaan dan Berperikeadilan terhadap seluruh CiptaanNya. Jikalau tidak, berarti cuma sekadar "Akon-akon" untuk bergaya belaka.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Minggu, 09 Juni 2024

Apapun "Cuan".

Bisnis apapun termasuk "Pro dan Kontra" serta "Boikot-boikotan", bagi yang tidak membayar upeti, pastilah "Cuan" sekali. Yang penting rapi dan cerdik di dalam mengemasnya, plus jeli melihat celah-celah yang ada pada tiap-tiap kesempatan.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---