Kamis, 24 Oktober 2024

"Londo nang Yamato!".


Setiap pagi Alm. Ayah saya bangun pada pukul 04.00. Setelah khusyuk berdoa, minum segelas air putih hangat dan mengenakan pakaian serta sepatu olahraga, Beliau melakukan jogging sejauh 4 km. Kebiasaan semenjak kecil yang senantiasa dilakukan olehnya, demikian hal-nya dengan hari itu, Rabu, 19 September 1945.

Tidak seperti biasanya, jalanan terasa lebih ramai. Beberapa orang tampak berkumpul dan berbisik-bisik, seolah sedang membahas sesuatu yang amat serius. Mulanya Alm. Ayah saya tidak mengindahkannya, lantaran terlalu asyik menikmati olahraga. Beliau berlari tanpa mendengarkan obrolan di kiri dan kanannya.

4 km terlampaui, sinar matahari semakin tinggi dan Alm. Ayah saya menurunkan tensi lari paginya dengan berjalan kaki. Orang-orang bertambah banyak yang berlalu-lalang, berkerumun dan mengobrol di pinggir-pinggir jalan. Serta tanpa secara sengaja terdengar selentingan kalimat berbunyi, "Londo nang Yamato!".

Karena keringat masih mengucur deras di tubuhnya, Beliau tidak berhenti untuk bertanya tentang apakah gerangan yang terjadi. Tetapi tetap melanjutkan berjalan santai, meskipun diperlambat, sambil sesekali mendekatkan diri ke orang-orang yang berbincang-bincang di pinggir jalan buat menguping pembicaraan.

Memang pada malam sebelumnya sudah tersebar kabar, bahwa Pasukan Sekutu (AFNEI) mendarat di Surabaya untuk membebaskan orang-orang Belanda dan Eropa yang ditawan (APWI, lembaganya bernama RAPWI) oleh Bala Tentara Jepang. Namun belum jelas mengapa ada orang Belanda di Hotel Yamato.

Setelah suhu tubuhnya menurun, Alm. Ayah saya langsung ikut menimbrung untuk mencari tahu. Ternyata, semalam AFNEI dan RAPWI memindahkan tawanan perangnya Jepang ke beberapa lokasi di Surabaya. Para lelaki Belanda ditempatkan di Hotel Yamato, sedangkan perempuan dan anak-anak di seberangnya.

Nah, sesudah para lelaki Belanda tersebut pindah kesana, mereka mengibarkan bendera negaranya (Belanda) pada tiang bendera yang berada di atas atap Hotel Yamato! Hal inilah yang menjadi perbincangan seru, tegang dan panas mulai sejak Ayam Jantan berkokok di hampir seluruh kota Surabaya pada pagi hari itu!!

Usai mengetahui permasalahan yang sedang terjadi, Alm. Ayah saya bergegas pulang ke rumahnya di Jl. Oendaan Koelon. Beliau ingin melihat dengan mata kepala sendiri, kejadian di Hotel Yamato. Apalagi hotel tersebut yang terletak di Jl. Toendjoengan, kebetulan termasuk di dalam rute perjalanannya ke sekolah, di Jl. Praban.

Setibanya di rumah, Alm. Ayah saya buru-buru mandi, memakai baju (entah seragam ataukah bukan) dan sarapan kilat, lantas berangkat. Tujuannya cuma satu saja, yakni ke Hotel Yamato! Benaknya berkecamuk dari rasa penasaran, curiga plus marah!! Dengan tergesa-gesa, Beliau menuju ke hotel legendaris itu!

Jalanan menuju ke Hotel Yamato, khususnya Jl. Gentengkali, telah dipadati oleh arek-arek Suroboyo. Yang kesemuanya sama-sama mau mencari tahu ihwal kebenaran dari berita perihal berkibarnya bendera Belanda di hotel tersebut. Kebanyakan berjalan kaki, walaupun ada yang bersepeda dan menggunakan mobil.

Di pertigaan Jl. Gentengkali dan Jl. Toendjoengan, masyarakat sudah bergerombol dengan mata terbelalak, memelototi atap Hotel Yamato. Ya, betul sekali! Bendera "Merah-Putih-Biru", tampak berkibar dari kejauhan. Dan beberapa orang Belanda, yang salah satunya membawa sepucuk Pistol menghardik siapapun yang mendekat.

Alm. Ayah saya sontak menjauhinya dan berjalan menyeberang ke Toko Kain milik Haji Mattalitti. Lalu sedikit berjalan lagi ke depan Kantor Berita Indonesia milik Bung Tomo, yang lebih lengang. Sembari melulu melirik ke orang Belanda yang membawa sepucuk Pistol, yang nantinya diketahui bernama Ploegman.

Awalnya warga yang mengerubungi Mr. Ploegman dkk, hendak bertanya soal berkibarnya bendera Belanda di atas hotel itu. Tetapi sikapnya yang sombong dan kasar, membuat mereka jengkel serta memaki-makinya. Tatkala situasinya memanas, kawan-kawannya masuk ke dalam hotel dan membiarkannya sendirian.

Mr. Ploegman yang panik dan ketakutan oleh sebab ditinggalkan kawan-kawannya, menembakkan pistolnya! Massa yang terkejut segera menghindar darinya, seketika keadaannya mencekam! Untung, Residen Soedirman datang bersama beberapa orang dan mengajaknya masuk ke dalam Hotel Yamato.

Namun tidak seberapa lama, Residen Soedirman berjalan cepat keluar dari dalam hotel tersebut, diikuti salah satu orangnya. Dan bunyi letusan Pistol kembali menyalak, tetapi kali ini dari dalam hotel. Serta beberapa orang yang tadinya masuk bersamanya, lari berhamburan keluar dari dalam Hotel Yamato.

Pada waktu yang sama, di luar hotel para pemuda berjuang untuk memanjat temboknya. Mereka "Bopong-bopongan" dan "Panggul-panggulan". Alm. Ayah saya melihat Cak Iyat (Alm. Lettu TNI Purn. Moch. Achijat), salah satu dari mereka. Selain Cak Iyat, Beliau juga melihat Cak Wadji (Alm. Serma TNI Purn. Heru Suwadji) berdiri 5 meteran darinya.

Kemudian seseorang berteriak, "Ondo!, Ondo!" ("Tangga!, Tangga!") dan diikuti beberapa orang lainnya. Akhirnya beberapa orang datang dengan membawa tangga! Serta para pemuda yang berjuang memanjat tembok tadi, satu-persatu menaikinya. Hingga 2 orang berhasil sampai di atas atap, yang terdapat bendera Belanda-nya!!

Di atas atap, keduanya spontan menurunkan bendera Belanda dan berusaha merobek warna birunya, biar menjadi "Merah-Putih", namun tidak berhasil. Mendadak dari arah dalam / belakang hotel (bukan luar / depan seperti para pemuda terdahulu) muncul seorang pria yang membantu merobeknya dan berhasil!!!

Serta-merta dari segala penjuru terdengar pekikan serempak, "Merdeka!, Merdeka!, Merdeka!" dan segenap yang hadir meneteskan air mata haru! Inilah salah satu peristiwa besar yang membangkitkan semangat dan keberanian arek-arek Suroboyo di dalam melawan Pasukan Sekutu yang dibonceng Tentara Belanda (NICA).

Tiada yang tahu siapa pria ketiga yang muncul dari arah dalam / belakang Hotel Yamato itu. Menurut pendapat pribadi Alm. Ayah saya, kemungkinan besar pegawai dari hotel tersebut sendiri. Makanya tidak ada yang mengenal ataupun mengakuinya, lantaran bisa jadi orangnya telah pindah ke negara lain maupun gugur.

Pada periode-periode awal Perang Fisik (1945-1949), masyarakat awam belum 100% yakin mampu mengalahkan dan mengusir penjajah. Serta beberapa daerah tidak mengakui proklamasi kemerdekaan R.I., plus mendirikan "Negara-negara Boneka" yang mendukung sekaligus menjadi kaki-tangan dari pihak Kompeni!

Kurang-lebih begitulah cerita tentang peristiwa "Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato" yang pernah dituturkan oleh Alm. Ayah saya. Mohon maaf, apabila ada kesalahan kata ataupun tanda baca. Semoga berkenan dan menjadi manfaat, Aamiin. Serta terima kasih sudah sudi untuk membacanya. Salam!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---