Setelah selesainya jaman perjuangan di dalam mempertahankan kemerdekaan alias Revolusi Fisik, para pejuang kemerdekaan mulai memikirkan masa depannya dengan mencari pekerjaan yang layak (khususnya yang tidak meneruskan karir di TNI / Polri) dan memilih pasangan untuk dinikahi, demikian pula Ayah saya.
Yang lebih senior (sepuh) ataupun yunior tetapi sudah terlebih dahulu menemukan "Jodohnya", beberapa telah menikah. Yang masih belum mendapatkan jodoh, tua maupun muda, tentunya beralih profesi menjadi "Pejuang Cinta" di dunia asmara pada awal tahun 1950-an itu.
Awalnya, Ayah saya menjalin hubungan dekat dengan seorang wanita di dekat rumahnya. Namun tiba-tiba pada suatu malam, seorang Tokoh Politik yang kebetulan juga mantan teman seperjuangan di era Revolusi Fisik, yang bernama Hasyim Darif mendatanginya.
Kedatangan Hasyim Darif tersebut untuk memberitahukan, bahwa Beliau sudah melamar "Teman Dekat" Ayah saya dan seluruh pihak menyetujuinya.
Mendengarnya, Ayah saya langsung terkejut-kejut bak terkena strum ikan Belut Listrik berkekuatan 1 juta volt dan mengajak Hasyim Darif ke rumah "Teman Dekat"-nya itu, yang keberadaannya tidak seberapa jauh, untuk memastikan kebenarannya.
Sesampainya disana, ternyata orang tua "Teman Dekat"-nya tersebut telah menunggu Ayah saya dan sekali lagi memberitahukan, bahwasanya putrinya betul-betul sudah dipinang oleh Hasyim Darif, serta segenap keluarga besar menyetujuinya.
Ayah saya dengan jiwa besar dan lapang dada memberikan ucapan selamat kepada Hasyim Darif, serta orang tua "Teman Dekat"-nya itu. Sekaligus rasa terima kasih yang sebesar-besarnya, lantaran dirinya telah diberitahu (merasa dihormati plus dihargai). Dan hingga akhir hayat, Beliau berdua berteman baik.
Dulu semasa perang kemerdekaan berlangsung (1945-1949), sesungguhnya Ayah saya memiliki "Teman Dekat". "Teman Dekat"-nya ini putri dari salah satu orang terkaya, yang pada waktu tersebut karena situasi dan kondisi yang amat sangat berbahaya (perang), maka terpaksa tinggal di luar negeri. Serta oleh sebab tinggal di luar negeri (LDR), lambat-laun hubungannya kandas di tengah jalan.
Sesudah 2 kali menjadi "Jomblo", Ayah saya yang telah mengajar olahraga (Gulat, Tinju dan Anggar) di Pusdik KKO Gubeng meleburkan diri ke bidangnya. Beliau sebagai instruktur Pendjas / Pendidikan Djasmani (honorer), ikut terjun ke beberapa medan penugasan (bisa jadi lantaran saking frustasinya! Hahaha!!).
Beberapa bulan berselang, rasa kehilangan-pun berkurang, Ayah saya bertemu dengan wanita yang berasal dari Sulawesi Utara. Wanita yang dikenalnya tatkala sedang asyik berpesta dansa. Pesta Dansa merupakan sebuah kegiatan yang populer dan menjadi "Tren" pada masa itu.
Bermula dari teman di pesta dansa, lama-lama menjadi "Teman Dekat". Ayah saya merasa bahagia sekali, karena bisa mendapatkan pasangan dan melepaskan julukan "Jomblowan Sejati", serta berharap hubungannya menjadi serius.
Selama 1 bulan, "Semuanya seakan Indah". Selama 2 bulan, "Bunga Bangkai, seharum Bunga Mawar". Dan selama 3 bulan, "Tahi Kucing, serasa Coklat". Mabuk asrama, eh, asmara, memang luar biasa! Tiada taranya!!
3 bulan berlalu dan seperti biasa pada hari Sabtu malam, Ayah saya "Apel" (wajib hadir) ke rumahnya. Tetapi di malam minggu hari tersebut, mereka tidak kemana-mana dan terkesan lebih pendiam / tidak banyak bicara dari seperti normalnya. Entah mengapa, Beliau merasa ada yang janggal. Namun tidak ingin berburuk sangka, apalagi memperburuk keadaan, Ayah saya pamit pulang.
Keluar dari rumah "Teman Dekat"-nya itu, Ayah saya tidak buru-buru pulang ke rumahnya. Melainkan ke sebuah bangunan di jalan Krembangan yang menjadi tempat bagi salah satu sahabat baiknya, Jerry Souisa (kelak saya ingin menuliskan cerita terkait Beliau), bernyanyi dan berdansa (nantinya Jerry Souisa membawa Bob Tutupoly kesini).
Malam tersebut, adalah malam yang "Tak Terlupakan". Di samping oleh sebab lagu-lagu yang dibawakan oleh Jerry Souisa benar-benar menghibur jiwa dan raga, plus kejadian yang bakalan terjadi esok harinya. Ayah saya betul-betul menikmati malam itu dan pulang sekitar pukul 02.00 dini hari.
Setiap pagi dan sore (sampai usia 76 tahun alias sebelum meninggal dunia) Ayah saya selalu melakukan jogging. Kebiasaannya ini dilakukan semenjak Balita, lantaran Beliau lahirnya prematur dan konon nyaris terjangkit Polio. Serta sesudah jogging, pastinya mandi lantas sarapan.
Pada waktu sarapan di suatu Kedai (lupa namanya), Ayah saya bertemu dengan temannya. Temannya tersebut menyampaikan, bahwa barusan ia melewati rumah "Teman Dekat"-nya (Ayah saya) dan terlihat sepertinya sedang mengadakan acara.
Karena tidak paham dengan yang dimaksud, Ayah saya cuma mengiyakannya saja dan menawarinya sarapan. Mereka berdua sarapan bersama dan menghabiskan waktu, hingga pukul 09.00 pagi. Setelahnya pulang ke rumah masing-masing.
Di rumah, Ayah saya tidak terlalu memikirkan perkataan temannya tadi. Sebab Beliau yakin, apabila ada yang penting mestilah "Teman Dekat"-nya mengabarinya. Jikalau tidak mengabari, berarti bukanlah sesuatu yang penting.
Pukul 11.00 siang, Ayah saya pergi ke rumah temannya di daerah Wonokromo.
Ketika perjalanan kesana, tetiba Beliau bertemu dengan teman lainnya yang berusaha menghentikan mobilnya. Ayah saya menghentikan mobilnya dan temannya itu mendekat. Lalu memberitahu, bahwa tadi pagi di rumah "Teman Dekat"-nya Ayah saya ada acara dan ia melihat Usman Balo bersama teman-temannya di rumah tersebut.
Usman Balo ialah seorang mantan Pejuang Kemerdekaan yang berasal dari Sulawesi Selatan dan berteman baik dengan Ayah saya sejak 10 November 1945. Beliau (Usman Balo) dari kesatuan KRIS, sedangkan Ayah saya dari kesatuan BKR Pelajar Staf III / Praban Surabaya. Meskipun mantan pejuang kemerdekaan dan berteman baik, tetapi Usman Balo terkenal "Playboy".
Ibarat "Tersambar Petir", Ayah saya sontak membatalkan tujuan pertamanya untuk pergi ke rumah temannya di daerah Wonokromo. Beliau pulang ke rumah untuk mengambil pistol dan menukar mobil dengan motor, Harley Davidson-nya. Kemudian berangkat ke rumah "Teman Dekat"-nya untuk mencari tahu, perihal acara apakah yang diadakan pagi ini disana.
Rumah "Teman Dekat"-nya sepi, tidak berpenghuni. Diketuk-ketuk, tidak ada yang membukakan pintu. Ayah saya yang semakin penasaran, bertanya ke tetangga. Para tetangga menceritakan, bahwasanya "Teman Dekat"-nya Ayah saya tadi pagi telah dinikahi oleh Usman Balo.
Teriknya matahari bertambah panas, rasanya kayak Bom Atom yang meledak. Seketika Ayah saya mengucapkan terima kasih kepada para tetangga dan pergi. Beliau menuju ke rumah Usman Balo di daerah Kedungdoro.
Tanpa disangka-sangka a.k.a. dinyono-nyono, manakala melewati jalan Praban untuk menuju ke daerah Kedungdoro, Ayah saya melihat Usman Balo yang sedang berjalan dikawal oleh 6 orang anak buahnya. Beliau sontak menghentikan motornya, mengeluarkan pistol dan mendekati Usman Balo.
Anak buah Usman Balo yang melihat Ayah saya mengeluarkan pistol, spontan mengeluarkan pistolnya pula. Ayah saya yang sedang "Mendidih" menembaknya dan terjadilah tembak-menembak.
Jalan Praban, tepatnya sekarang yang menjadi gedung SMP 3 dan SMP 4 (dahulu namanya SMP 1 serta MULO) merupakan markas BKR Pelajar Staf III, yang notabene adalah tempat yang menjadi cikal-bakal dari Ayah saya bergabung di dalam perjuangan kemerdekaan.
Jadinya Beliau sungguh-sungguh hafal setiap lekak-lekuk jalan dan bangunannya, serta mengenal warganya (beberapa malahan teman sekolah, plus saudara seperjuangan). Walhasil "Jomplang"! Walaupun sendirian melawan 7 orang, tetaplah unggul dan berhasil menjatuhkan 3 pengawal Usman Balo.
5-10 menit berlangsung, terus terdengar bunyi suara peluit (Polisi) yang bersahut-sahutan. Ayah saya dan Usman Balo CS membubarkan diri. Mereka lari ke mobilnya, Ayah saya lari ke motornya. Sebenarnya Beliau masih ingin mengejar, namun orang-orang yang mengenalnya menyarankan untuk berpencar.
Peristiwa di Jl. Praban betul-betul mengemparkan, terutama bagi para mantan Pejuang Kemerdekaan. Lantaran pada tahun 1950-an itu, para mantan pejuang kemerdekaan terpecah-belah, spesialnya karena "Re-Ra".
Perkelahian di hari tersebut tidak berlanjut, sebab beritanya menyebar seantero Kota Surabaya dan membuat Ayah saya tidak leluasa bergerak.
Serta ternyata tidak hanya Ayah saya semata yang "Bermasalah" dengan Usman Balo, tetapi juga IBLA (Ikatan Bintara Laut). Yakni organisasi untuk mantan Bintara Angkatan Laut Belanda yang bergabung ke TNI AL. Organisasi yang amat militan dan sangat keras (kasar). Gara-gara bermasalah dengan organisasi ini, markas Usman Balo di jalan Kedungsari dibakar habis!
Tahun 2004, saya menemani Ayah ke Jakarta. Seperti biasanya, (mungkin mulai dari semenjak berdirinya hotel ini) kami menginap (senantiasa) di Nikko Hotel (lampaunya Presiden Hotel dan kekiniannya Pullman Hotel). Hampir seluruh karyawannya mengenal Ayah saya, lantaran Beliau pernah memiliki sebidang kantor di Skyline Building dan Wisma Nusantara.
Tepat saat akan masuk ke dalam lift dan menunggu sekelompok orang yang sedang keluar dari dalam lift (ada Arry Malajong di dalam rombongan) tahu-tahu Ayah saya berteriak lantang, "Hey!". Serta seorang Tua berkumis tebal memegang tongkat berteriak tak kalah kencang, "Hey!". Haduh!! Seisi hotel-pun terdiam!!!
"Usman!", lanjut Ayah saya dan "Benny!", sahut orang tua bertongkat. Keduanya sambil melotot dan mata memerah!! Yang lain rasanya ingin melarikan diri atau pura-pura tidak kenal!!!
Saling menatap tajam, tanpa mengedipkan mata beberapa detik. Dan lantas tertawa sembari menyodorkan tangan, serta berpelukan erat. Sayup-sayup saya mendengar kata-kata, "Persis 50 tahun!". Lalu sambil tidak melepaskan pelukannya, Beliau berdua berkata, "Ayo kita mengobrol di Lobby!!".
Di Lobby tersebut, kami segenap yang hadir mendengarkan kisah ini!
Charles E. Tumbel.
--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---