Sabtu, 03 Agustus 2024

Sejarah serta Budaya Besar milik Bangsa Indonesia.


Manakala pertama kali masuk kuliah Bahasa Jepang di Shinjuku Kokkusai Nihongo Gakko, Tokyo, Jepang, pada awal tahun '90-an, saya bertemu dengan teman-teman sekelas dari beberapa Negara.

Terbanyak berasal dari Korea, lalu disusul oleh China. Sisanya ada yang berasal dari Taiwan, Hongkong, Singapura, Filipina, Thailand, Vietnam, Myanmar, Laos, Kamboja, Irak, Iran dan pastinya Indonesia (Harry Prasetyo).

Senang sekali bisa bertemu, berkenalan dan berteman, terutama dengan orang-orang yang berasal dari Negara-negara yang berbeda. Di samping lantaran berbeda bahasa dan kebiasaan, juga tentunya cara bergaulnya pula.

Dari keseluruhan teman, ada beberapa orang yang berasal dari sejumlah Negara yang betul-betul sopan sekaligus santun terhadap diri saya. Yakni teman-teman yang berasal dari Myanmar, Laos dan Kamboja.

Mulanya saya mengira, karena sama-sama dari Asia Tenggara. Atau sebab Presiden kita pada jaman itu, amat sangat terkenal dan berhubungan baik / dekat dengan Presiden mereka, tetapi ternyata salah.

Mereka sopan sekaligus santun kepada saya, lantaran dari Indonesia! Alias mereka menghormati dan menghargai Sejarah serta Budaya Besar milik Bangsa Indonesia, tepatnya Nusantara!

Mereka hafal nama-nama kerajaan di Nusantara, berikut dengan nama-nama rajanya. Bahkan mereka mengatakan, bahwa guru-guru a.k.a cerdik-pandai pada jaman tersebut, berasal dari kita.

Sungguh-sungguh mengesankan dan membanggakan bagi saya, ketika mendengarnya. Serta membalas perilaku yang sopan sekaligus santun itu, dengan perilaku yang sepadan, baik sopan maupun santunnya.

Kejadian semacam ini, tidak cuma terjadi tatkala saya bersekolah di Jepang belaka. Namun terulang kembali, disaat saya bersekolah di Amerika Serikat. Bayangkan, betapa beruntungnya!

Malahan gangster-gangster dari Laos dan Kamboja yang terkenal kejam, tidak pernah "Menyentuh" orang-orang Indonesia. Benar-benar luar biasa dan mengagumkan, keagungan sejarah dari nenek moyang kita!

Sayangnya sekarang saya sudah tidak merasa terkesan dan bangga seperti dulu lagi.

Bukannya karena Bangsa lain (Myanmar, Laos dan Kamboja) tidak hafal dengan nama-nama kerajaan, serta raja di Nusantara seperti sediakala. Melainkan oleh sebab Bangsa kita sendiri, telah melupakan sejarah dan budayanya.

Malar-malar melencengkan, membenamkan dan memusuhinya, bagaikan sedang "Kerasukan" serta kehilangan jati diri. Membuat diri saya menjadi gundah, pilu dan meradang! Mungkin tidak hanya saya saja, tetapi banyak orang!! Namun terlalu takut untuk menyampaikannya.

Semoga dengan tulisan yang singkat tentang pengalaman pribadi saya ini, bisa menggugah jiwa-jiwa yang tertidur untuk lekas bangun dan bangkit berdiri sekaligus berlari di dalam membangun rasa cinta plus bangga, terhadap sejarah serta budaya yang asli milik dari Bangsa kita sendiri, sekalian berani menyatakannya!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---