Gara-gara pernah tinggal dan sekolah di beberapa Negara (walaupun sebentar), serta jalan-jalan keliling dunia, akhirnya saya tahu sekaligus sadar, bahwa tidak ada satupun Negara yang seindah, seramah, sekaya, sesubur apalagi semakmur Indonesia, Tanah Air kita yang tercinta ini.
Baik itu dari segi manusianya, alamnya, budayanya, sejarahnya maupun falsafahnya. Sungguh-sungguh luar biasa, amat membanggakan dan merupakan sebuah Anugerah yang terbesar untuk kita semuanya, Bangsa Indonesia, dari Sang Maha Pencipta.
Tetapi sayangnya, masyarakat kita banyak yang tidak merasa ikut memiliki Bangsanya sendiri. Lantaran hanya hidup dengan rasa "Ke-SARA-annya" masing-masing belaka dan sangat mudah dipengaruhi serta diadu-domba oleh pihak-pihak lain, Bangsa Asing beserta para antek-anteknya.
Kita juga tidak mencintai Tanah Air, lebih lagi saudara Sebangsa. Karena terlalu silau dengan cerita-cerita orang lain tentang luar negeri dan amat sangat percaya terhadap omongan mereka, yang jelas-jelas memiliki kepentingan tidak terbatas terhadap Ibu Pertiwi.
Seandainya negara kita yang tercinta ini betul-betul buruk, jelek dan miskin, lalu mengapa bangsa lain berbondong-bondong datang kesini? Negara buruk, jelek dan miskin kok malahan didatangi?!
Oleh sebab kebalikannyalah, yakni kaya raya, maka bangsa lain berbondong-bondong datang kesini! Mereka memanfaatkan kebaik-hatian dan kepolosan Bangsa Indonesia, untuk menguasai serta mengeruk SDA demi kesejahteraan plus keserakahannya!!
Mereka mempengaruhi sekaligus merusak Bangsa kita dengan segala macam cara, terutama dengan cara-cara yang kotor lagi kejam.
Korupsi, narkoba, pornografi, hoaks, garis keras, aliran sesat, politik identitas, adu-domba dan lain-lain cara yang betul-betul busuk agar moralitas serta mentalitas dari Bangsa kita yang tercinta ini, runtuh, rusak bahkan hilang. Sehingga mudah dirampok kekayaan alamnya dan dibawa pulang ke negaranya.
Tidak berbeda dengan penjajahan Portugis, Spanyol, Belanda dan Jepang pada jaman dahulu kala, cuma berbeda cara menaklukannya saja.
Jikalau dulu penaklukan dilakukan dengan cara berperang dan mendatangkan orang / bala tentara (fisik), sekarang penaklukan dilakukan dengan cara menghancurkan moral serta mental.
Ini lebih sadis, lantaran moral dan mental yang hancur, tidak mungkin dapat diperbaiki di dalam waktu yang singkat, namun lama sekali.
Semoga kita semuanya lekas sadar atas potensi dari bahaya yang sedang terjadi pada saat ini. Aamiin.
Sekaligus ingatlah bahwa, "Pewaris kekayaan yang bodoh, lebih buruk dan sial, daripada orang miskin yang mau berpikir serta berjuang!".
Janganlah sampai kita yang telah diwarisi harta kekayaan yang berlimpah-ruah oleh para Pahlawan Bangsa dan Negara, ternyata hanyalah sekumpulan orang-orang bodoh yang mudah serta senang diperdaya oleh pihak-pihak asing semata.
Charles E. Tumbel.
--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru/digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---