Sabtu, 31 Agustus 2024

Rajin dan Disiplin.

Sukses bukanlah hanya karena pandai semata, tetapi utamanya (malahan) lantaran rajin dan disiplin.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Fokus.

Lantaran selalu fokus dengan hal-hal (ataupun keuntungan) yang kecil dan terlalu menikmatinya (terlena), akhirnya yang besar terlewatkan. Begitupun sebaliknya.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Minggu, 25 Agustus 2024

Bermutu, Obyektif plus Profesional.

Buat saya pribadi, asalkan waras (tidak gila) dan sudah memiliki hak politik (di atas 17 tahun), berarti boleh mencalonkan diri di dalam mengikuti pemilihan jabatan publik tertentu.
Lantaran memiliki hak, berarti juga memiliki kewajiban, sekaligus tanggungjawabnya pula.
Lantas bagaimanakah caranya agar yang tidak becus, tidak bisa mengikuti pemilihan (saringan / filternya)?
Dengan memberikan persyaratan yang bermutu, obyektif plus profesional atas pendidikan, keahlian, pengalaman dan lain-lain sesuai kebutuhan pada jabatan tersebut.
Jadinya bukanlah usianya melulu yang dipermasalahkan, melainkan kemampuannya. 
Sehingga ke depan, kita tidak cuma terus-menerus berurusan dengan polemik umur belaka.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Jumat, 23 Agustus 2024

Peristiwa di Jl. Praban.


Setelah selesainya jaman perjuangan di dalam mempertahankan kemerdekaan alias Revolusi Fisik, para pejuang kemerdekaan mulai memikirkan masa depannya dengan mencari pekerjaan yang layak (khususnya yang tidak meneruskan karir di TNI / Polri) dan memilih pasangan untuk dinikahi, demikian pula Ayah saya.

Yang lebih senior (sepuh) ataupun yunior tetapi sudah terlebih dahulu menemukan "Jodohnya", beberapa telah menikah. Yang masih belum mendapatkan jodoh, tua maupun muda, tentunya beralih profesi menjadi "Pejuang Cinta" di dunia asmara pada awal tahun 1950-an itu.

Awalnya, Ayah saya menjalin hubungan dekat dengan seorang wanita di dekat rumahnya. Namun tiba-tiba pada suatu malam, seorang Tokoh Politik yang kebetulan juga mantan teman seperjuangan di era Revolusi Fisik, yang bernama Hasyim Darif mendatanginya.

Kedatangan Hasyim Darif tersebut untuk memberitahukan, bahwa Beliau sudah melamar "Teman Dekat" Ayah saya dan seluruh pihak menyetujuinya. 

Mendengarnya, Ayah saya langsung terkejut-kejut bak terkena strum ikan Belut Listrik berkekuatan 1 juta volt dan mengajak Hasyim Darif ke rumah "Teman Dekat"-nya itu, yang keberadaannya tidak seberapa jauh, untuk memastikan kebenarannya.

Sesampainya disana, ternyata orang tua "Teman Dekat"-nya tersebut telah menunggu Ayah saya dan sekali lagi memberitahukan, bahwasanya putrinya betul-betul sudah dipinang oleh Hasyim Darif, serta segenap keluarga besar menyetujuinya.

Ayah saya dengan jiwa besar dan lapang dada memberikan ucapan selamat kepada Hasyim Darif, serta orang tua "Teman Dekat"-nya itu. Sekaligus rasa terima kasih yang sebesar-besarnya, lantaran dirinya telah diberitahu (merasa dihormati plus dihargai). Dan hingga akhir hayat, Beliau berdua berteman baik.

Dulu semasa perang kemerdekaan berlangsung (1945-1949), sesungguhnya Ayah saya memiliki "Teman Dekat". "Teman Dekat"-nya ini putri dari salah satu orang terkaya, yang pada waktu tersebut karena situasi dan kondisi yang amat sangat berbahaya (perang), maka terpaksa tinggal di luar negeri. Serta oleh sebab tinggal di luar negeri (LDR), lambat-laun hubungannya kandas di tengah jalan.

Sesudah 2 kali menjadi "Jomblo", Ayah saya yang telah mengajar olahraga (Gulat, Tinju dan Anggar) di Pusdik KKO Gubeng meleburkan diri ke bidangnya. Beliau sebagai instruktur Pendjas / Pendidikan Djasmani (honorer), ikut terjun ke beberapa medan penugasan (bisa jadi lantaran saking frustasinya! Hahaha!!).

Beberapa bulan berselang, rasa kehilangan-pun berkurang, Ayah saya bertemu dengan wanita yang berasal dari Sulawesi Utara. Wanita yang dikenalnya tatkala sedang asyik berpesta dansa. Pesta Dansa merupakan sebuah kegiatan yang populer dan menjadi "Tren" pada masa itu.

Bermula dari teman di pesta dansa, lama-lama menjadi "Teman Dekat". Ayah saya merasa bahagia sekali, karena bisa mendapatkan pasangan dan melepaskan julukan "Jomblowan Sejati", serta berharap hubungannya menjadi serius.

Selama 1 bulan, "Semuanya seakan Indah". Selama 2 bulan, "Bunga Bangkai, seharum Bunga Mawar". Dan selama 3 bulan, "Tahi Kucing, serasa Coklat". Mabuk asrama, eh, asmara, memang luar biasa! Tiada taranya!!

3 bulan berlalu dan seperti biasa pada hari Sabtu malam, Ayah saya "Apel" (wajib hadir) ke rumahnya. Tetapi di malam minggu hari tersebut, mereka tidak kemana-mana dan terkesan lebih pendiam / tidak banyak bicara dari seperti normalnya. Entah mengapa, Beliau merasa ada yang janggal. Namun tidak ingin berburuk sangka, apalagi memperburuk keadaan, Ayah saya pamit pulang.

Keluar dari rumah "Teman Dekat"-nya itu, Ayah saya tidak buru-buru pulang ke rumahnya. Melainkan ke sebuah bangunan di jalan Krembangan yang menjadi tempat bagi salah satu sahabat baiknya, Jerry Souisa (kelak saya ingin menuliskan cerita terkait Beliau), bernyanyi dan berdansa (nantinya Jerry Souisa membawa Bob Tutupoly kesini).

Malam tersebut, adalah malam yang "Tak Terlupakan". Di samping oleh sebab lagu-lagu yang dibawakan oleh Jerry Souisa benar-benar menghibur jiwa dan raga, plus kejadian yang bakalan terjadi esok harinya. Ayah saya betul-betul menikmati malam itu dan pulang sekitar pukul 02.00 dini hari.

Setiap pagi dan sore (sampai usia 76 tahun alias sebelum meninggal dunia) Ayah saya selalu melakukan jogging. Kebiasaannya ini dilakukan semenjak Balita, lantaran Beliau lahirnya prematur dan konon nyaris terjangkit Polio. Serta sesudah jogging, pastinya mandi lantas sarapan.

Pada waktu sarapan di suatu Kedai (lupa namanya), Ayah saya bertemu dengan temannya. Temannya tersebut menyampaikan, bahwa barusan ia melewati rumah "Teman Dekat"-nya (Ayah saya) dan terlihat sepertinya sedang mengadakan acara.

Karena tidak paham dengan yang dimaksud, Ayah saya cuma mengiyakannya saja dan menawarinya sarapan. Mereka berdua sarapan bersama dan menghabiskan waktu, hingga pukul 09.00 pagi. Setelahnya pulang ke rumah masing-masing.

Di rumah, Ayah saya tidak terlalu memikirkan perkataan temannya tadi. Sebab Beliau yakin, apabila ada yang penting mestilah "Teman Dekat"-nya mengabarinya. Jikalau tidak mengabari, berarti bukanlah sesuatu yang penting.

Pukul 11.00 siang, Ayah saya pergi ke rumah temannya di daerah Wonokromo.

Ketika perjalanan kesana, tetiba Beliau bertemu dengan teman lainnya yang berusaha menghentikan mobilnya. Ayah saya menghentikan mobilnya dan temannya itu mendekat. Lalu memberitahu, bahwa tadi pagi di rumah "Teman Dekat"-nya Ayah saya ada acara dan ia melihat Usman Balo bersama teman-temannya di rumah tersebut.

Usman Balo ialah seorang mantan Pejuang Kemerdekaan yang berasal dari Sulawesi Selatan dan berteman baik dengan Ayah saya sejak 10 November 1945. Beliau (Usman Balo) dari kesatuan KRIS, sedangkan Ayah saya dari kesatuan BKR Pelajar Staf III / Praban Surabaya. Meskipun mantan pejuang kemerdekaan dan berteman baik, tetapi Usman Balo terkenal "Playboy".

Ibarat "Tersambar Petir", Ayah saya sontak membatalkan tujuan pertamanya untuk pergi ke rumah temannya di daerah Wonokromo. Beliau pulang ke rumah untuk mengambil pistol dan menukar mobil dengan motor, Harley Davidson-nya. Kemudian berangkat ke rumah "Teman Dekat"-nya untuk mencari tahu, perihal acara apakah yang diadakan pagi ini disana.

Rumah "Teman Dekat"-nya sepi, tidak berpenghuni. Diketuk-ketuk, tidak ada yang membukakan pintu. Ayah saya yang semakin penasaran, bertanya ke tetangga. Para tetangga menceritakan, bahwasanya "Teman Dekat"-nya Ayah saya tadi pagi telah dinikahi oleh Usman Balo.

Teriknya matahari bertambah panas, rasanya kayak Bom Atom yang meledak. Seketika Ayah saya mengucapkan terima kasih kepada para tetangga dan pergi. Beliau menuju ke rumah Usman Balo di daerah Kedungdoro.

Tanpa disangka-sangka a.k.a. dinyono-nyono, manakala melewati jalan Praban untuk menuju ke daerah Kedungdoro, Ayah saya melihat Usman Balo yang sedang berjalan dikawal oleh 6 orang anak buahnya. Beliau sontak menghentikan motornya, mengeluarkan pistol dan mendekati Usman Balo.

Anak buah Usman Balo yang melihat Ayah saya mengeluarkan pistol, spontan mengeluarkan pistolnya pula. Ayah saya yang sedang "Mendidih" menembaknya dan terjadilah tembak-menembak.

Jalan Praban, tepatnya sekarang yang menjadi gedung SMP 3 dan SMP 4 (dahulu namanya SMP 1 serta MULO) merupakan markas BKR Pelajar Staf III, yang notabene adalah tempat yang menjadi cikal-bakal dari Ayah saya bergabung di dalam perjuangan kemerdekaan. 

Jadinya Beliau sungguh-sungguh hafal setiap lekak-lekuk jalan dan bangunannya, serta mengenal warganya (beberapa malahan teman sekolah, plus saudara seperjuangan). Walhasil "Jomplang"! Walaupun sendirian melawan 7 orang, tetaplah unggul dan berhasil menjatuhkan 3 pengawal Usman Balo.

5-10 menit berlangsung, terus terdengar bunyi suara peluit (Polisi) yang bersahut-sahutan. Ayah saya dan Usman Balo CS membubarkan diri. Mereka lari ke mobilnya, Ayah saya lari ke motornya. Sebenarnya Beliau masih ingin mengejar, namun orang-orang yang mengenalnya menyarankan untuk berpencar.

Peristiwa di Jl. Praban betul-betul mengemparkan, terutama bagi para mantan Pejuang Kemerdekaan. Lantaran pada tahun 1950-an itu, para mantan pejuang kemerdekaan terpecah-belah, spesialnya karena "Re-Ra".

Perkelahian di hari tersebut tidak berlanjut, sebab beritanya menyebar seantero Kota Surabaya dan membuat Ayah saya tidak leluasa bergerak.

Serta ternyata tidak hanya Ayah saya semata yang "Bermasalah" dengan Usman Balo, tetapi juga IBLA (Ikatan Bintara Laut). Yakni organisasi untuk mantan Bintara Angkatan Laut Belanda yang bergabung ke TNI AL. Organisasi yang amat militan dan sangat keras (kasar). Gara-gara bermasalah dengan organisasi ini, markas Usman Balo di jalan Kedungsari dibakar habis!

Tahun 2004, saya menemani Ayah ke Jakarta. Seperti biasanya, (mungkin mulai dari semenjak berdirinya hotel ini) kami menginap (senantiasa) di Nikko Hotel (lampaunya Presiden Hotel dan kekiniannya Pullman Hotel). Hampir seluruh karyawannya mengenal Ayah saya, lantaran Beliau pernah memiliki sebidang kantor di Skyline Building dan Wisma Nusantara.

Tepat saat akan masuk ke dalam lift dan menunggu sekelompok orang yang sedang keluar dari dalam lift (ada Arry Malajong di dalam rombongan) tahu-tahu Ayah saya berteriak lantang, "Hey!". Serta seorang Tua berkumis tebal memegang tongkat berteriak tak kalah kencang, "Hey!". Haduh!! Seisi hotel-pun terdiam!!!

"Usman!", lanjut Ayah saya dan "Benny!", sahut orang tua bertongkat. Keduanya sambil melotot dan mata memerah!! Yang lain rasanya ingin melarikan diri atau pura-pura tidak kenal!!!

Saling menatap tajam, tanpa mengedipkan mata beberapa detik. Dan lantas tertawa sembari menyodorkan tangan, serta berpelukan erat. Sayup-sayup saya mendengar kata-kata, "Persis 50 tahun!". Lalu sambil tidak melepaskan pelukannya, Beliau berdua berkata, "Ayo kita mengobrol di Lobby!!".

Di Lobby tersebut, kami segenap yang hadir mendengarkan kisah ini!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Selasa, 20 Agustus 2024

Salah Aliran.

Beragama itu membuat diri kita menjadi riang, cerah, tenteram, bersyukur, pecinta, penikmat, bergaul luas, bermanfaat, positif, cerdas dan berbahagia.

Apabila menjadi murung, suram, gelisah, pengeluh, pembenci, penyesal, bergaul sempit, merugikan, negatif, dongok dan sengsara berarti salah aliran.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Perwujudan.

Iman bukanlah Pengakuan, apalagi Identitas, lebih lagi Pencitraan melainkan Perwujudan.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Demi Kekuatan Bangsa.

Agama diciptakan untuk memperbaiki dan membangun moral bagi masyarakat, demi kekuatan Bangsa ataupun Negara yang ditinggalinya. Bukanlah sebaliknya!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Minggu, 18 Agustus 2024

3 Hal yang Pasti.

Normalnya mengalami Tua, Sakit dan Mati merupakan 3 hal yang pasti. Makanya bergaulah dengan orang-orang yang berani berjuang untuk mempertahankan dan menjaga kemudaannya, kesehatannya serta kepanjang-umurannya. Bukannya yang takut, apalagi yang tidak peduli, lebih lagi yang menakut-nakuti!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Jumat, 16 Agustus 2024

Mutlak.

Tidaklah perlu ditakut-takuti dengan neraka, apalagi diiming-imingi dengan surga. Lantaran kesemuanya, apapun, mutlak kehendak dari Sang Maha Kuasa.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Ibu-ibu Anggun yang Bersanggul dan Berselendang.

Jaman Alm. Pak Harto, adalah puncak dari kita menjadi negara berpenduduk Muslim yang terbesar di dunia. Namun demikian, langka sekali yang bergaya ala Timur Tengah. Dan malahan masih kental banget kearifan lokalnya, termasuk gaya busananya. Mungkin lantaran belum banyak pengusaha "Baju Jadi", lebih-lebih penjual pernak-pernik dari dan ala Timur Tengah. Sehingga tidak dijadikan "Tren", seperti saat ini.

Dulu yang ada bahkan, "Ibu-ibu anggun yang bersanggul dan berselendang". Sebuah wujud dari kecantikan alami milik Bangsa kita sendiri, plus tentunya rasa percaya diri. Jikalau jaman sekarang dikembalikan lagi dengan model pakaian yang sama, rasanya cocok dan sesuai dengan jati diri. Walaupun kesemuanya itu, berpulang kepada keputusan masing-masing, termasuk urusan keyakinannya.

Charles E. Tumbel.

NB : Silahkan berdebat sesuai konteksnya, yakni "Jaman Pak Harto". Jangan lari kemana-mana, apalagi memakai "Logical Fallacy". Terima kasih.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Senin, 12 Agustus 2024

"Ilmu Katak".

Berharap terlalu tinggi untuk bisa mendapatkan "Durian Runtuh" dari dunia Politik?
Salah besar!
Lantaran para Politikus bukanlah orang bodoh, apalagi yang telah berhasil.
Dan yang berharap untuk bisa mendapatkan "Durian Runtuh" tidaklah sedikit, plus semuanya menggunakan "Ilmu Katak".
Yakni : "Ke atas menyembah, ke samping mendorong dan ke bawah menendang".

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Idealisme Dipertahankan.

Dasar dari melakukan kegiatan Politik itu Idealisme, bukannya Materialisme. Walaupun pada tahapan tertentu, Materialisme pastilah mengikuti, tetapi Idealisme haruslah selalu dipertahankan.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Sabtu, 10 Agustus 2024

Waktulah Satu Kali.

Kesempatan bisa datang dua-tiga kali, tetapi waktulah yang cuma bisa datang satu kali saja dan lantas pergi!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Ciptakanlah!

Kesempatan datangnya cuma 1 kali saja, makanya "Ciptakanlah"!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Kamis, 08 Agustus 2024

Persimpangan Jalan.


Suatu sore, pada saat sedang pulang ke Indonesia untuk memperpanjang Visa (tahun 1990, bulannya lupa), saya mendadak rindu sekali kepada Oma (nenek).

Tanpa menunggu, saya segera mengenakan Baju (jikalau di rumah kebiasaan telanjang dada alias "Ote-ote"), mengambil kunci Mobil dan berangkat ke rumah Tante (bibi) yang menjadi tempat tinggal Oma saat itu.

Sesampai di rumah Tante, saya langsung masuk ke dalam dan memanggil serta mencari Oma.

Terdengar suara Oma dari arah Dapur dan saya langsung menuju kesana.

Di Dapur, Oma melihat saya dan berkata sambil bertanya, "Oalaa Alet (Alet merupakan panggilan khas dari Oma, semenjak saya balita dan cadel), dari mana?".

"Dari rumah, Oma", jawab saya.

"Ada apa, Let?", sambung Oma.

"Ngga (tidak), cuma kangen (rindu) sama Oma tok (saja) kok!", jawab saya singkat.

"Oo iya, Let. Tunggu sebentar ya, Oma bereskan ini terlebih dahulu", lanjutnya.

Saya orangnya spontan dan memiliki kebiasaan untuk tidak menunda hal-hal yang baik lagi positif, yang keluar dari hati nurani. Serta saya suka mengamati orang lain, sambil berpikir.

Dan tatkala mengamati sembari berpikir perihal Oma yang di waktu tersebut sedang sibuk-sibuknya membersihkan Dapur, saya-pun menawarkan diri untuk membantu Beliau. 

Tetapi Beliau menolak dan mengatakan bahwa aktivitasnya sudah hampir selesai, sekaligus menyuruh saya untuk duduk sambil menunggunya.

Saya bergegas pindah ke ruang tamu untuk duduk dan menunggu (lantaran khawatir mengganggu aktivitasnya), sembari menyalakan sebatang Rokok serta berpikir keras tentang Beliau.

Dulu ketika kakak-kakak dan saya masih belum remaja, Oma tinggal bersama kami. Namun setelah kami sudah agak besar dan Tante melahirkan anaknya yang pertama, Oma pindah ke rumahnya. 

Oma saya adalah wanita yang cerdas, bijaksana, sabar, tidak suka mengeluh (kuat) dan amat mencintai anak-anak, serta cucu-cucunya. 

Beliau seorang Ibu plus Nenek, yang sungguh-sungguh perhatian dan pengertian terhadap kami semuanya.

Sejak mulai dari kecil, saya kagum kepada Beliau. Bukannya hanya karena kecantikan dan kebaikannya semata, melainkan lebih disebabkan oleh pengalaman hidup serta percampuran darah (keturunan) yang ada di dalam tubuhnya.

Beliau mempunyai percampuran darah yang uniknya "Kebangetan" (menurut pendapat pribadi saya), yang sangat jarang dimiliki oleh orang lain. Tetapi walaupun demikian, Oma senantiasa rendah hati terhadap siapapun.

Manakala saya sedang asyik-asyiknya berpikir, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dan perkataan yang lembut dari Beliau, "Selesai Let! Ada apa?".

"Hehehe, ngga (tidak) ada apa-apa Oma. Oma sehat?", jawab dan tanya saya.

"Sehat Let, namun ya sehatnya orang yang telah renta", jawabnya.

"Iya, Oma. Sing (yang) penting selalu sehat, meskipun sudah tua", lanjut saya.

Kemudian saya bertanya, "Oma, mengapa disaat Tentara Jepang masuk, tidak mau pindah ke Negeri Belanda?".

"Saat itu Negeri Belanda dikuasai oleh Hitler (Jerman) dan aku ini orang Solo, Let. Papanya Oma masih hidup di Solo, bukannya di Negeri Belanda. Dan dari mulai umur 7 tahun (1929), setelah Opaku meninggal, aku tinggal di Jakarta menemani Omaku, Nyi A. Inem van (dari) Bantam (Banten). Jadi, buat apa aku pindah ke Negeri Belanda?", jawab Beliau sambil bertanya kembali kepada saya.

"Loh, Papanya Oma masih hidup toh? Kenapa Oma tidak balik ke Solo ataupun ke Jakarta lagi?", ganti saya yang bertanya kembali.

"Papanya Oma memiliki beberapa orang Istri dan aku juga sudah menikah pula, jadi ngga (tidak) enak rasanya apabila balik ke Solo lagi. Serta Omanya Oma di Jakarta telah meninggal saat aku berusia 12 tahun (1934)", jawabnya.

"Oo, Omanya Oma sudah meninggal dan Papanya Oma mempunyai beberapa istri?! Papanya Oma, jaman dahulu kerjanya apa?", tanya saya penasaran.

"Papanya Oma kerjanya pada bagian Keuangan di Keraton Solo, namanya Ndoro Nar (B.R.M. Lesnar Poerbodiningrat). Iya, istrinya ada beberapa tetapi aku tidak mengenalnya", jawabnya.

"Oalaa, baru tahu aku, Oma!", kata saya.

"Jikalau Oma tidak bisa ke Belanda lantaran dikuasai Hitler, tidak bisa ke Solo karena telah menikah, mengapa tidak ikut suami?", lanjut saya.

Saya memang dari kanak-kanak, paling suka bertanya (ihwal apapun). Dan seandainya belum menemukan jawabannya maupun (menurut saya) kurang lengkap, maka akan saya kejar. Bisa dibayangkan, pastinya luar biasa menjengkelkan bagi siapapun yang sedang mendapatkan pertanyaan dari saya.

"Di waktu tersebut, suaminya Oma (Christiaan Jacob van Reesch) sedang bertugas di Perang Dunia II dan markasnya dipindahkan ke Australia", jawabnya.

"Berarti, semestinya Oma turut pindah ke Australia", lanjut saya.

"Tidak bisa Let, sebab Mamanya Oma tinggal di Sukabumi dan sedang ditawan oleh Tentara Jepang", lanjutnya.

"Mamanya Oma dan Oma ini anak tunggal, kita tidak memiliki saudara lain, Let. Jikalau Oma tidak mencari dan membantu Mamanya Oma, maka dia jelasnya bakalan dibunuh oleh Tentara Jepang. Jadi Oma memilih untuk tetap tinggal di Indonesia, buat mencari dan membantu Mamanya Oma", sambungnya.

"Oalaa Oma, aku baru tahu! Waduh, betul-betul rumit dan sulit ya masalahnya!! Apakah akhirnya berhasil bertemu dan membantu Mamanya Oma? Serta apakah Oma berjuang sendirian?", tanya saya.

"Sewaktu Oma sampai di Sukabumi, katanya sudah dipindahkan ke Bandung. Sewaktu Oma sampai di Bandung, katanya telah dipindahkan ke Bogor. Sewaktu Oma sampai di Bogor, katanya sudah dipindahkan ke Jakarta. Sewaktu Oma sampai di Jakarta, katanya telah dipindahkan ke Malang. Dan sewaktu Oma sudah sampai di Malang, katanya telah meninggal dunia. Namun tidak pernah menemukan makamnya!", jawabnya dengan suara yang begitu sedih dan mata yang berkaca-kaca.

"Aku tidak sendirian, Let. Lantaran pada masa-masa itu keadaannya amat sangat genting, apalagi untuk orang "Indo" (campuran Belanda) plus seorang wanita, seperti aku.

Di Jakarta, Oma dibantu oleh Pakdhe (kakaknya Ayah) yang bernama, R.M.Ng. Lesyo Poerbotjaroko. Dan selama perjalanan kesana-kemari ditemani oleh seorang Dokter berkebangsaan Jepang bernama Yoshida Arata, yang sudah kami kenal, semenjak pertama kali tinggal di Surabaya", lanjutnya.

"Waduh Oma, aku ngga (tidak) bisa membayangkan betapa kalutnya Oma dan mengerikannya keadaan pada jaman tersebut", kata saya kepada Beliau.

"Jaman itu luar biasa menakutkannya, Let, super menakutkan! Orang dipenggal, dibelah, diperkosa, dibunuh dan dirampok", timpalnya

Kami berdua melamun bersama, walaupun lamunannya tentunya berbeda, antara saya dan Oma.

Setelahnya saya lanjutkan bertanya lagi, "Sesudah Jepang pergi dan Perang Dunia II usai, kenapa Oma tidak pindah ke Australia ataupun ke Negeri Belanda? 'Kan kesempatannya datang kembali, Oma?".

"Let, pada saat Oma pergi mencari Mamanya Oma di Sukabumi, Bandung, Bogor, Jakarta dan Malang tersebut agar tidak ada kesulitan di dalam perjalanan, aku dengan Dokter berkebangsaan Jepang ini mengaku sebagai pasangan suami-istri. Lama-kelamaan, kami berdua takut diketahui oleh Kempeitai, sehingga menikah betulan". 

"Dan karena telah menikah, lalu dikaruniai dua orang anak dari Dokter berkebangsaan Jepang ini, maka aku wajib bercerai dengan suami yang pertama (Belanda). Dua orang anakku darinya, dibawanya pindah ke Australia. Aku tetap memilih tinggal di Surabaya, dengan dua orang anakku dari Dokter berkebangsaan Jepang". 

"Aku tidak pindah ke Negeri Belanda, sebab aku orang Indonesia. Disana aku tidak mempunyai siapa-siapa dan memiliki apa-apa. Disinilah tanah airku, tumpah darahku dan Papaku masih hidup, sekaligus ada keluarga meskipun jauh, serta banyak peninggalan yang wajib diurus!", panjang-lebar penjelasan Oma kepada saya.

Saya terdiam termangu, penjelasannya masuk akal dan lengkap!

Lantas saya mengulang pertanyaan yang sebelumnya, yang bagi saya masih kurang gamblang jawabannya, "Apabila demikian maka seandainya Oma balik ke Solo maupun ke Jakarta lagi, pastinya Oma lebih terjamin dan berkelimpahan hidupnya, daripada tetap tinggal di Surabaya. Lantaran disana ada Papanya Oma ataupun keluarga besar yang lain. Mengapa Oma masih mau untuk tetap tinggal di Surabaya dan membesarkan dua orang anak sendirian?".

Oma saya menjawab, "Let, di dalam hidup ini, suatu waktu kamu akan menemukan persimpangan jalan. Yang satu, jalan kekayaan dan yang satu, jalan kebahagiaan. Jikalau kamu memilih jalan kekayaan, kecil kemungkinannya bisa bahagia. Tetapi apabila kamu memilih jalan kebahagian, besar kemungkinannya bisa kaya. Karena kaya itu oleh sebab jiwamu, bukannya hartamu. Dan Oma dulu sudah menetapkan untuk memilih jalan kebahagiaan, bukannya jalan kekayaan. Serta ternyata pilihan Oma tersebut, benar!".

Saya mengangguk-angguk tanda setuju dan tidak terasa air mata telah menetes jatuh ke dagu.

Di hari itu saya mendapatkan sebuah Pelajaran Hidup yang sungguh-sungguh amat sangat berharga, yang hingga detik ini menjadi pegangan utama di dalam memilih, tatkala menemukan persimpangan jalan.

Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Omaku tercinta, R.A. Deedee (Didi) Poerbokoesoemo binti Lesnar Poerbodiningrat / Deetje Jacoba de Nijs. Doa yang paling terbaik dan rindu yang mendalam sekali dari kami seluruhnya untukmu di "Sana", dimanapun Oma berada. Aamiin.

Surabaya, 27 Mei 2020.
Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Sabtu, 03 Agustus 2024

Sejarah serta Budaya Besar milik Bangsa Indonesia.


Manakala pertama kali masuk kuliah Bahasa Jepang di Shinjuku Kokkusai Nihongo Gakko, Tokyo, Jepang, pada awal tahun '90-an, saya bertemu dengan teman-teman sekelas dari beberapa Negara.

Terbanyak berasal dari Korea, lalu disusul oleh China. Sisanya ada yang berasal dari Taiwan, Hongkong, Singapura, Filipina, Thailand, Vietnam, Myanmar, Laos, Kamboja, Irak, Iran dan pastinya Indonesia (Harry Prasetyo).

Senang sekali bisa bertemu, berkenalan dan berteman, terutama dengan orang-orang yang berasal dari Negara-negara yang berbeda. Di samping lantaran berbeda bahasa dan kebiasaan, juga tentunya cara bergaulnya pula.

Dari keseluruhan teman, ada beberapa orang yang berasal dari sejumlah Negara yang betul-betul sopan sekaligus santun terhadap diri saya. Yakni teman-teman yang berasal dari Myanmar, Laos dan Kamboja.

Mulanya saya mengira, karena sama-sama dari Asia Tenggara. Atau sebab Presiden kita pada jaman itu, amat sangat terkenal dan berhubungan baik / dekat dengan Presiden mereka, tetapi ternyata salah.

Mereka sopan sekaligus santun kepada saya, lantaran dari Indonesia! Alias mereka menghormati dan menghargai Sejarah serta Budaya Besar milik Bangsa Indonesia, tepatnya Nusantara!

Mereka hafal nama-nama kerajaan di Nusantara, berikut dengan nama-nama rajanya. Bahkan mereka mengatakan, bahwa guru-guru a.k.a cerdik-pandai pada jaman tersebut, berasal dari kita.

Sungguh-sungguh mengesankan dan membanggakan bagi saya, ketika mendengarnya. Serta membalas perilaku yang sopan sekaligus santun itu, dengan perilaku yang sepadan, baik sopan maupun santunnya.

Kejadian semacam ini, tidak cuma terjadi tatkala saya bersekolah di Jepang belaka. Namun terulang kembali, disaat saya bersekolah di Amerika Serikat. Bayangkan, betapa beruntungnya!

Malahan gangster-gangster dari Laos dan Kamboja yang terkenal kejam, tidak pernah "Menyentuh" orang-orang Indonesia. Benar-benar luar biasa dan mengagumkan, keagungan sejarah dari nenek moyang kita!

Sayangnya sekarang saya sudah tidak merasa terkesan dan bangga seperti dulu lagi.

Bukannya karena Bangsa lain (Myanmar, Laos dan Kamboja) tidak hafal dengan nama-nama kerajaan, serta raja di Nusantara seperti sediakala. Melainkan oleh sebab Bangsa kita sendiri, telah melupakan sejarah dan budayanya.

Malar-malar melencengkan, membenamkan dan memusuhinya, bagaikan sedang "Kerasukan" serta kehilangan jati diri. Membuat diri saya menjadi gundah, pilu dan meradang! Mungkin tidak hanya saya saja, tetapi banyak orang!! Namun terlalu takut untuk menyampaikannya.

Semoga dengan tulisan yang singkat tentang pengalaman pribadi saya ini, bisa menggugah jiwa-jiwa yang tertidur untuk lekas bangun dan bangkit berdiri sekaligus berlari di dalam membangun rasa cinta plus bangga, terhadap sejarah serta budaya yang asli milik dari Bangsa kita sendiri, sekalian berani menyatakannya!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---