Suatu sore, pada saat sedang pulang ke Indonesia untuk memperpanjang Visa (tahun 1990, bulannya lupa), saya mendadak rindu sekali kepada Oma (nenek).
Tanpa menunggu, saya segera mengenakan Baju (jikalau di rumah kebiasaan telanjang dada alias "Ote-ote"), mengambil kunci Mobil dan berangkat ke rumah Tante (bibi) yang menjadi tempat tinggal Oma saat itu.
Sesampai di rumah Tante, saya langsung masuk ke dalam dan memanggil serta mencari Oma.
Terdengar suara Oma dari arah Dapur dan saya langsung menuju kesana.
Di Dapur, Oma melihat saya dan berkata sambil bertanya, "Oalaa Alet (Alet merupakan panggilan khas dari Oma, semenjak saya balita dan cadel), dari mana?".
"Dari rumah, Oma", jawab saya.
"Ada apa, Let?", sambung Oma.
"Ngga (tidak), cuma kangen (rindu) sama Oma tok (saja) kok!", jawab saya singkat.
"Oo iya, Let. Tunggu sebentar ya, Oma bereskan ini terlebih dahulu", lanjutnya.
Saya orangnya spontan dan memiliki kebiasaan untuk tidak menunda hal-hal yang baik lagi positif, yang keluar dari hati nurani. Serta saya suka mengamati orang lain, sambil berpikir.
Dan tatkala mengamati sembari berpikir perihal Oma yang di waktu tersebut sedang sibuk-sibuknya membersihkan Dapur, saya-pun menawarkan diri untuk membantu Beliau.
Tetapi Beliau menolak dan mengatakan bahwa aktivitasnya sudah hampir selesai, sekaligus menyuruh saya untuk duduk sambil menunggunya.
Saya bergegas pindah ke ruang tamu untuk duduk dan menunggu (lantaran khawatir mengganggu aktivitasnya), sembari menyalakan sebatang Rokok serta berpikir keras tentang Beliau.
Dulu ketika kakak-kakak dan saya masih belum remaja, Oma tinggal bersama kami. Namun setelah kami sudah agak besar dan Tante melahirkan anaknya yang pertama, Oma pindah ke rumahnya.
Oma saya adalah wanita yang cerdas, bijaksana, sabar, tidak suka mengeluh (kuat) dan amat mencintai anak-anak, serta cucu-cucunya.
Beliau seorang Ibu plus Nenek, yang sungguh-sungguh perhatian dan pengertian terhadap kami semuanya.
Sejak mulai dari kecil, saya kagum kepada Beliau. Bukannya hanya karena kecantikan dan kebaikannya semata, melainkan lebih disebabkan oleh pengalaman hidup serta percampuran darah (keturunan) yang ada di dalam tubuhnya.
Beliau mempunyai percampuran darah yang uniknya "Kebangetan" (menurut pendapat pribadi saya), yang sangat jarang dimiliki oleh orang lain. Tetapi walaupun demikian, Oma senantiasa rendah hati terhadap siapapun.
Manakala saya sedang asyik-asyiknya berpikir, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dan perkataan yang lembut dari Beliau, "Selesai Let! Ada apa?".
"Hehehe, ngga (tidak) ada apa-apa Oma. Oma sehat?", jawab dan tanya saya.
"Sehat Let, namun ya sehatnya orang yang telah renta", jawabnya.
"Iya, Oma. Sing (yang) penting selalu sehat, meskipun sudah tua", lanjut saya.
Kemudian saya bertanya, "Oma, mengapa disaat Tentara Jepang masuk, tidak mau pindah ke Negeri Belanda?".
"Saat itu Negeri Belanda dikuasai oleh Hitler (Jerman) dan aku ini orang Solo, Let. Papanya Oma masih hidup di Solo, bukannya di Negeri Belanda. Dan dari mulai umur 7 tahun (1929), setelah Opaku meninggal, aku tinggal di Jakarta menemani Omaku, Nyi A. Inem van (dari) Bantam (Banten). Jadi, buat apa aku pindah ke Negeri Belanda?", jawab Beliau sambil bertanya kembali kepada saya.
"Loh, Papanya Oma masih hidup toh? Kenapa Oma tidak balik ke Solo ataupun ke Jakarta lagi?", ganti saya yang bertanya kembali.
"Papanya Oma memiliki beberapa orang Istri dan aku juga sudah menikah pula, jadi ngga (tidak) enak rasanya apabila balik ke Solo lagi. Serta Omanya Oma di Jakarta telah meninggal saat aku berusia 12 tahun (1934)", jawabnya.
"Oo, Omanya Oma sudah meninggal dan Papanya Oma mempunyai beberapa istri?! Papanya Oma, jaman dahulu kerjanya apa?", tanya saya penasaran.
"Papanya Oma kerjanya pada bagian Keuangan di Keraton Solo, namanya Ndoro Nar (B.R.M. Lesnar Poerbodiningrat). Iya, istrinya ada beberapa tetapi aku tidak mengenalnya", jawabnya.
"Oalaa, baru tahu aku, Oma!", kata saya.
"Jikalau Oma tidak bisa ke Belanda lantaran dikuasai Hitler, tidak bisa ke Solo karena telah menikah, mengapa tidak ikut suami?", lanjut saya.
Saya memang dari kanak-kanak, paling suka bertanya (ihwal apapun). Dan seandainya belum menemukan jawabannya maupun (menurut saya) kurang lengkap, maka akan saya kejar. Bisa dibayangkan, pastinya luar biasa menjengkelkan bagi siapapun yang sedang mendapatkan pertanyaan dari saya.
"Di waktu tersebut, suaminya Oma (Christiaan Jacob van Reesch) sedang bertugas di Perang Dunia II dan markasnya dipindahkan ke Australia", jawabnya.
"Berarti, semestinya Oma turut pindah ke Australia", lanjut saya.
"Tidak bisa Let, sebab Mamanya Oma tinggal di Sukabumi dan sedang ditawan oleh Tentara Jepang", lanjutnya.
"Mamanya Oma dan Oma ini anak tunggal, kita tidak memiliki saudara lain, Let. Jikalau Oma tidak mencari dan membantu Mamanya Oma, maka dia jelasnya bakalan dibunuh oleh Tentara Jepang. Jadi Oma memilih untuk tetap tinggal di Indonesia, buat mencari dan membantu Mamanya Oma", sambungnya.
"Oalaa Oma, aku baru tahu! Waduh, betul-betul rumit dan sulit ya masalahnya!! Apakah akhirnya berhasil bertemu dan membantu Mamanya Oma? Serta apakah Oma berjuang sendirian?", tanya saya.
"Sewaktu Oma sampai di Sukabumi, katanya sudah dipindahkan ke Bandung. Sewaktu Oma sampai di Bandung, katanya telah dipindahkan ke Bogor. Sewaktu Oma sampai di Bogor, katanya sudah dipindahkan ke Jakarta. Sewaktu Oma sampai di Jakarta, katanya telah dipindahkan ke Malang. Dan sewaktu Oma sudah sampai di Malang, katanya telah meninggal dunia. Namun tidak pernah menemukan makamnya!", jawabnya dengan suara yang begitu sedih dan mata yang berkaca-kaca.
"Aku tidak sendirian, Let. Lantaran pada masa-masa itu keadaannya amat sangat genting, apalagi untuk orang "Indo" (campuran Belanda) plus seorang wanita, seperti aku.
Di Jakarta, Oma dibantu oleh Pakdhe (kakaknya Ayah) yang bernama, R.M.Ng. Lesyo Poerbotjaroko. Dan selama perjalanan kesana-kemari ditemani oleh seorang Dokter berkebangsaan Jepang bernama Yoshida Arata, yang sudah kami kenal, semenjak pertama kali tinggal di Surabaya", lanjutnya.
"Waduh Oma, aku ngga (tidak) bisa membayangkan betapa kalutnya Oma dan mengerikannya keadaan pada jaman tersebut", kata saya kepada Beliau.
"Jaman itu luar biasa menakutkannya, Let, super menakutkan! Orang dipenggal, dibelah, diperkosa, dibunuh dan dirampok", timpalnya
Kami berdua melamun bersama, walaupun lamunannya tentunya berbeda, antara saya dan Oma.
Setelahnya saya lanjutkan bertanya lagi, "Sesudah Jepang pergi dan Perang Dunia II usai, kenapa Oma tidak pindah ke Australia ataupun ke Negeri Belanda? 'Kan kesempatannya datang kembali, Oma?".
"Let, pada saat Oma pergi mencari Mamanya Oma di Sukabumi, Bandung, Bogor, Jakarta dan Malang tersebut agar tidak ada kesulitan di dalam perjalanan, aku dengan Dokter berkebangsaan Jepang ini mengaku sebagai pasangan suami-istri. Lama-kelamaan, kami berdua takut diketahui oleh Kempeitai, sehingga menikah betulan".
"Dan karena telah menikah, lalu dikaruniai dua orang anak dari Dokter berkebangsaan Jepang ini, maka aku wajib bercerai dengan suami yang pertama (Belanda). Dua orang anakku darinya, dibawanya pindah ke Australia. Aku tetap memilih tinggal di Surabaya, dengan dua orang anakku dari Dokter berkebangsaan Jepang".
"Aku tidak pindah ke Negeri Belanda, sebab aku orang Indonesia. Disana aku tidak mempunyai siapa-siapa dan memiliki apa-apa. Disinilah tanah airku, tumpah darahku dan Papaku masih hidup, sekaligus ada keluarga meskipun jauh, serta banyak peninggalan yang wajib diurus!", panjang-lebar penjelasan Oma kepada saya.
Saya terdiam termangu, penjelasannya masuk akal dan lengkap!
Lantas saya mengulang pertanyaan yang sebelumnya, yang bagi saya masih kurang gamblang jawabannya, "Apabila demikian maka seandainya Oma balik ke Solo maupun ke Jakarta lagi, pastinya Oma lebih terjamin dan berkelimpahan hidupnya, daripada tetap tinggal di Surabaya. Lantaran disana ada Papanya Oma ataupun keluarga besar yang lain. Mengapa Oma masih mau untuk tetap tinggal di Surabaya dan membesarkan dua orang anak sendirian?".
Oma saya menjawab, "Let, di dalam hidup ini, suatu waktu kamu akan menemukan persimpangan jalan. Yang satu, jalan kekayaan dan yang satu, jalan kebahagiaan. Jikalau kamu memilih jalan kekayaan, kecil kemungkinannya bisa bahagia. Tetapi apabila kamu memilih jalan kebahagian, besar kemungkinannya bisa kaya. Karena kaya itu oleh sebab jiwamu, bukannya hartamu. Dan Oma dulu sudah menetapkan untuk memilih jalan kebahagiaan, bukannya jalan kekayaan. Serta ternyata pilihan Oma tersebut, benar!".
Saya mengangguk-angguk tanda setuju dan tidak terasa air mata telah menetes jatuh ke dagu.
Di hari itu saya mendapatkan sebuah Pelajaran Hidup yang sungguh-sungguh amat sangat berharga, yang hingga detik ini menjadi pegangan utama di dalam memilih, tatkala menemukan persimpangan jalan.
Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Omaku tercinta, R.A. Deedee (Didi) Poerbokoesoemo binti Lesnar Poerbodiningrat / Deetje Jacoba de Nijs. Doa yang paling terbaik dan rindu yang mendalam sekali dari kami seluruhnya untukmu di "Sana", dimanapun Oma berada. Aamiin.
Surabaya, 27 Mei 2020.
Charles E. Tumbel.
--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---