Minggu, 04 Desember 2016

Hanya Dia Sajalah.

Cintailah hanya Tuhan YME semata, cintailah hanya Tuhan YME semata dan cintailah hanya Tuhan YME semata serta banyak cara juga jalan untuk menuju KepadaNya pula.

Cara dan jalan itu cuma keyakinan dari diri kita pribadi belaka, sesuai dengan kemampuan akal pikir serta hati nurani masing-masing yang tidak akan pernah bisa dipaksakan oleh sekaligus kepada siapapun. Karena kesemuanya itu merupakan Hidayah dari Sang Maha Pencipta sendiri.

Cara dan jalan itu bukanlah untuk kita cintai, tetapi hanya untuk diyakini saja kebenarannya di dalam menghantarkan diri sendiri KepadaNya nanti. Hal tersebut tidak boleh kita perdebatkan lagi.

Cintailah cuma Tuhan YME semata sebab sesungguhnya hanya kepada Dia sajalah tempat kita menyembah, meminta dan memohon. Serta cuma Dia belakalah yang telah menciptakan semua jalan sekaligus cara yang diri kita sendiri yakini kebenarannya itu tadi.

Cintailah hanya Tuhan YME semata karena sesungguhnya cuma berkat Dia sajalah kita semuanya bisa datang ke bumi yang bulat ini dan kelak bakalan kembali menghilang lagi. Serta hanya Dia belakalah yang akan menentukan diterima atau tidaknya diri kita sendiri itu nanti.

Cintailah cuma Tuhan YME semata sebab hanya Dia sajalah yang tahu kebenaran dari semua jalan dan cara untuk MenghadapNya itu tadi. Serta cuma Dia sematalah yang sudah menciptakan segala-galanya, termasuk kehidupan yang ada di dunia yang fana ini dan di akherat yang abadi.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Hanyalah Akal Pikir dan Hati Nurani Saja.

Negara kita tercinta yang amat subur dan memiliki sumber kekayaan alam yang sangat berlimpah-ruah ini, amat sangat dikenal serta diinginkan oleh Negara Lain.

Jikalau seandainya Negara Lain, misalnya Myanmar tiba-tiba mengirimkan bala-tentaranya untuk menyerang dengan tujuan menguasai Negara kita yang tercinta ini dan ternyata pasukan terdepan dari bala-tentara Myanmar itu adalah Suku yang disana dikenal pemberani, yaitu Rohingya, maka apakah kita bakalan melawan mereka sampai mati?

Ataukah malahan hanya akan berdebat terlebih dahulu belaka, tentang agama dan keberadaan pasukan Rohingya di dalam bala-tentara Myanmar?

Membela Tanah Air yang sedang diserang oleh Negara Lain itu adalah hal yang paling utama dan wajib di dalam hukum apapun. Jadi bakalan menjadi sesuatu hal yang amat sangat tidak masuk akal, apabila kita menyerang dan merusak Negara sendiri dengan alasan untuk membela Negara Lain.

Lalu bagaimana seandainya ada tetangga kita sendiri yang tinggal persis di sebelah rumah yang kebetulan memiliki suku, agama, ras, golongan juga latar-belakang yang berbeda lainnya pula yang tiba-tiba mengalami bencana atau musibah atau kesulitan dan amat sangat membutuhkan pertolongan serta bantuan, apakah kita akan langsung menolongnya ataukah masih bakalan berdebat terlebih dahulu tentang latar-belakang dari tetangga terdekat tersebut?

Jadilah manusia yang bermanfaat lagi bijaksana terhadap segala benda CiptaanNya. Karena sesungguhnya yang membedakan diri kita dengan mahluk hidup CiptaanNya yang lainnya hanyalah akal pikir dan hati nurani saja.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Intinya Adalah Membaca Sekaligus Mengerti Artinya.

"Lebih penting mana antara menghafalkan Kitab Suci, dengan membaca terjemahan dan tafsir dari Kitab Suci?", kurang-lebih begitu pertanyaan yang pernah saya baca di salah satu artikel sebuah Media Sosial.

Kita harus sadar bahwa Kitab Suci tidak diturunkan ke dalam bahasa Bangsa kita sendiri, Bahasa Indonesia. Dan tentunya penguasaan kita atas bahasa Bangsa Lain yang dipergunakan di dalam Kitab Suci tersebut, pastilah sangat terbatas.

Kitab Suci diturunkan ke dalam bahasa Bangsa Lain supaya mereka (Bangsa Lain itu) dapat dengan mudah membaca sekaligus mengerti artinya supaya dapat mempelajari dan mengkajinya agar bisa mendapatkan IlmuNya yang secara utuh.

Berarti intinya ada pada membaca sekaligus mengerti artinya supaya dapat mempelajari dan mengkajinya agar bisa mendapatkan IlmuNya yang secara utuh.

Padahal bagi sebagian besar manusia, membaca apalagi menghafalkan adalah sebuah kegiatan yang paling membosankan termasuk bagi orang-orang yang Bangsanya (Bangsa Lain) telah diturunkan Kitab Suci kepadanya tersebut.

Perintah untuk menghafalkan Kitab Suci yang ditelan mentah-mentah oleh kita, Bangsa Indonesia, tanpa mempertimbangkan bahwa perintah tersebut ditujukan kepada mereka (Bangsa Lain) yang memang menggunakan bahasa yang sama di dalam kehidupan sehari-harinya dengan bahasa yang dipergunakan di dalam Kitab Suci adalah kurang tepat.

Karena bagi mereka yang memang bahasa Bangsanya sama dengan bahasa yang dipergunakan di dalam Kitab Suci, menghafalkan Kitab Suci itu sama dengan membaca sekaligus mengerti artinya atau menghafalkan untuk mempelajari dan mengkaji dengan cara mengulang-ulang bacaannya sambil terus mengingat-ingatnya agar mendapatkan IlmuNya yang secara utuh.

Sedangkan bagi Bangsa Lain yang bahasanya tidak sama dengan bahasa yang dipergunakan di dalam Kitab Suci termasuk kita Bangsa Indonesia, dengan menghafalkan kata-katanya saja tentunya tidak akan membuat mengerti artinya apalagi mampu untuk mempelajari dan mengkajinya.

Karena menghafalkan hanya mengulang-ulang bacaannya sambil terus mengingat-ingatnya saja. Padahal kata-katanya itu menggunakan bahasa Bangsa Lain. Sehingga pada akhirnya kita tidak akan pernah mengerti artinya sama sekali, kalau tidak pernah membaca terjemahan dan tafsirnya juga.

Jadi menjawab pertanyaan di atas,
"Lebih penting mana antara menghafalkan Kitab Suci dengan membaca terjemahan dan tafsir dari Kitab Suci?".

Sama-sama pentingnya. Tetapi bagi kita Bangsa Indonesia, tentunya lebih penting membaca terjemahan dan tafsir dari Kitab Suci terlebih dahulu. Sebab Kitab Suci tidak diturunkan ke dalam bahasa Bangsa kita sendiri, Bahasa Indonesia. Namun ke dalam bahasa Bangsa Lain yaitu Bangsa yang diperintahkan untuk menghafalkannya tadi.

Sedangkan bagi mereka yang bahasa Bangsanya sama dengan bahasa yang dipergunakan di dalam Kitab Suci atau bagi mereka yang sudah sangat ahli, mumpuni dan menguasai bahasa Bangsa Lain yang dipergunakan di dalam Kitab Suci tersebut, tentunya menghafalkan jauh lebih penting.

Sebab untuk mereka, menghafalkan itu berarti juga membaca sekaligus mengerti artinya sehingga dapat langsung mempelajari dan mengkajinya.

Jadi jelas berbeda antara kita yang belum ahli, mumpuni dan menguasai karena memang bukan bahasa Bangsa kita sendiri dengan mereka yang sudah sangat ahli, mumpuni dan menguasai bahasa tersebut. Namun kalau pertanyaannya lebih utama mana, penjelasannya pasti akan berbeda lagi.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---