Kamis, 31 Oktober 2024

Pembakaran Truk-truk RAPWI.


Setelah terjadinya peristiwa "Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato", Kota Surabaya menjadi tegang dan panas!

Arek-arek Suroboyo yang sebagian mulanya berprasangka baik dan tidak mencurigai Pasukan Sekutu, akhirnya semuanya menjadi berprasangka buruk, mencurigai sekaligus jengkel. Sehingga setiap gerak-geriknya selalu diawasi, serta diperbincangkan.

Demikian pula pada siang itu, hari Minggu, tanggal 28 Oktober 1945, Alm. Ayah saya berangkat ke sekolahnya yang menjadi Markas dari TKR-P Staf III / Praban.

Selisih sehari (27 Oktober 1945) dari dijatuhinya Kota Surabaya dengan pamflet-pamflet melalui pesawat terbang, yang berisikan perintah untuk menyerahkan senjata kepada AFNEI dan penyerangan penjara Kalisosok oleh Tentara Khusus milik Kerajaan Inggris demi membebaskan Kapten AL (setara Kolonel AD) PJG Huijer (tengah malam 26 Oktober 1945 - dini hari 27 Oktober 1945)!

Sesudah diproklamasikannya kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustus 1945) dan disahkannya ideologi Pancasila sebagai Dasar Negara serta UUD 1945 sebagai Konstitusi Negara (18 Agustus 1945), BKR (Badan Keamanan Rakyat) didirikan (22 Agustus 1945). Para Pelajar juga tidak mau ketinggalan dan mendirikan Badan Keamanan Rakyat - Pelajar atau yang disingkat BKR-P.

BKR-P berubah nama menjadi TKR-P pada tanggal 05 Oktober 1945, mengikuti BKR yang berubah menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat).

Hampir seluruh siswa di Kota Surabaya, terutama yang dulunya bekas Gakku Tootai alias anak-anak sekolah (umur 10-17 tahun) yang pernah dilatih dasar kemiliteran oleh Bala Tentara Jepang, yang semenjak bulan Juli telah "Adem Panas" (tokohnya bernama Mas Biek "Turet", Alm. Mayjen TNI Purn. Soebiantoro, konon yang menembak Brigjen AWS Mallaby) untuk melakukan sabotase dan memiliki gerakan bawah tanahnya sendiri dengan mengeroyok orang-orang Jepang yang sedang mabuk serta menandai rumah-rumah para kolaborator, langsung membentuk sebuah Badan Perjuangan yang kemudian menjadi TKR-P tersebut.

TKR-P memiliki 4 markas komando, yakni :
1. TKR-P Staf I / Darmo.
2. TKR-P Staf II / Sawahan.
3. TKR-P Staf III / Praban.
4. TKR-P Staf IV / Herenstraat.

Alm. Ayah saya yang barusan lulus dari SD di Jl. Gentengkali (Taman Siswa) serta hendak masuk ke SMP, tergabung di TKR-P (tadinya BKR-P) Staf III / Praban (sekolah SMP Praban dan SMP Ketabang pernah digabungkan pada akhir jaman Belanda, di akhir jaman Jepang dipisahkan kembali) yang markas komandonya berlokasi di Jl. Praban (sekarang SMPN 3 Surabaya).

Setibanya di halaman sekolah (markas) yang luas, Beliau memperoleh kabar dari kawan-kawannya bahwasanya sejak menjelang matahari terbit, truk-truk milik Pasukan Sekutu yang dikemudikan oleh tentara Gurkha yang bertuliskan "RAPWI", hilir-mudik dari arah Perak ke arah Darmo serta sebaliknya.

Lantaran perasaan khawatir, ingin tahu plus tidak lagi percaya terhadap Pasukan Sekutu, walhasil Alm. Ayah saya bersama 3 orang sahabatnya, Mas Yono "Kencur" (Alm. Brigjen Pol. Purn. Soejono Soentahir), Mas Hardji (Alm. Pratu TRIP Soehardji) dan Mas Tomo "Cilik" (Alm. Pratu TRIP Soetomo Fadjar) menelusuri jalan-jalan yang diperkirakan dilalui oleh truk-truk itu.

Di ujung Jl. Toendjoengan salah satu dari truk-truk tersebut ditemukan. Dan sembari berlarian, terus-menerus diikuti. Tetapi karena truk itu berjalan kencang, mereka-pun tertinggal. Sambil sesekali bertanya kepada warga sekitar, perjalanan untuk menguntit tetaplah dilanjutkan.

Hingga sampailah di pertigaan jalan Palmenlaan (Jl. Panglima Sudirman) dan Jl. Sonokembang (entah dulu namanya jalan apa) yang disini 2 buah truk sudah dihentikan oleh penduduk setempat bersama Pak Djarot (Alm. Letkol TNI Purn. Djarot Soebiantoro, terdahulunya merupakan ketua dari satuan Jibakutai). Tampak Cak Wadji (Alm. Serma TNI Purn. Heru Suwadji) di antara mereka, namun Beliau tidak sempat menyapanya.

Cak Wadji adalah anggota BKR (TKR) dari RW I kampung Karang Bulak (sekarang hilang, sebab menjadi Hotel Bumi), yang senantiasa aktif memantau sepak terjang Pasukan Sekutu. Dan Alm. Ayah saya seringkali berjumpa dengannya, ketika "Hal-hal Penting" terjadi di Surabaya. Beliau berdua bersahabat erat, hingga akhir hayat (Alm. Ayah saya wafat pada tahun 2007).

Selang beberapa lama, datanglah kembali 1 buah truk dan Beliau (Alm. Ayah saya) beserta ketiga sahabatnya segera menghentikannya.

Truk-truk yang bertuliskan RAPWI tersebut, mengangkut beberapa gelintir wanita dan anak-anak Belanda (tidak penuh), serta kotak berlambang Palang Merah.

Setelah berbicara sebentar dengan tentara Gurkha yang mengemudikan truk itu, mereka lekas ke belakang untuk membuka pintunya.

Para wanita dan anak-anak Belanda memberikan sambutan hangat, serta berbasa-basi sejenak. Alm. Ayah saya dan sahabat-sahabatnya mempersilahkan mereka turun dari atas truk tersebut, lantas memeriksa muatan yang ada di dalamnya. 

Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah massa yang berada di truk yang lebih depan, "Senjata!, Senjata!, Bakar!, Bakar!". Dan para wanita serta anak-anak Belanda menjadi ketakutan, lalu meminta ampun plus maaf, sekaligus berkata bahwa mereka tidak tahu apa-apa.

Beliau secara spontan menyuruh salah seorang sahabatnya untuk menyerahkan wanita dan anak-anak itu kepada markas Pasukan Sekutu (20 tempat di Surabaya dijadikan markas oleh mereka) yang berada di pojokan Jl. Sonokembang yang berbelok ke Jl. Kayoon (kayaknya saat ini Kantor Indosat), supaya aman. Serta bersama para sahabat yang lainnya, membuka kotak-kotak di atas truk tersebut.

Kotak-kotak belum terbuka, sekonyong-konyong "Bruaakkk!" dan "Doorrr, doorrr, doorrr"!! Salah satu truk yang berada di Jl. Sonokembang menabrak penduduk dan menembakinya!!!

Sontak terjadilah tembak-menembak yang tidak seimbang!

Arek-arek Suroboyo dari daerah Keputran, Pandegiling, Kaliasin, Kayoon, Karang Bulak, Kedondong, Lemah Putro dan lain-lain bersatu serta serempak melakukan perlawanan!

Segala alat dipakai untuk menyerang!! Sampai-sampai Pasukan Sekutu mundur kelabakan dan menelantarkan para wanita serta anak-anak Belanda yang sebelumnya dijadikan "Tameng" oleh mereka!!!

Rakyat yang emosi seketika membakar truk-truk itu dan menghakimi para wanita serta anak-anak yang tertinggal disana! Sungguh-sungguh naas dan mengerikan!!

Api dahsyat berkobar dan meledak-ledak! 7 buah truk RAPWI berhasil dibakar dan muatannya dibawa pulang oleh masyarakat setempat!!

Alm. Ayah saya dan 2 orang sahabatnya (yang 1 orang lagi berjalan di seberang) perlahan-lahan mundur ke belakang. Berhenti sejenak di markasnya Pak Djarot (Jl. Embong Wungu), kemudian balik ke markasnya di Jl. Praban.

Banyak sekali korban jiwa yang tidak bersalah dari peristiwa ini. Dan mulai hari, tanggal serta jam tersebut di atas, kedua belah pihak semakin saling membenci, sekaligus sengit permusuhannya.

Kurang-lebih begitulah cerita tentang kejadian "Pembakaran Truk-truk RAPWI" yang pernah dituturkan oleh Alm. Ayah saya. Mohon maaf, apabila ada kesalahan kata maupun tanda baca. Semoga berkenan dan menjadi manfaat, Aamiin. Serta terima kasih sudah sudi untuk membacanya. Salam!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Rabu, 30 Oktober 2024

Kemerdekaan.

Rumah Makan Jepang, yang jualan dan yang makan harus orang Jepang, termasuk gaya busananya.

Rumah Makan Korea, yang jualan dan yang makan harus orang Korea, termasuk gaya busananya.

Rumah Makan China, yang jualan dan yang makan harus orang China, termasuk gaya busananya.

Rumah Makan India, yang jualan dan yang makan harus orang India, termasuk gaya busananya.

Rumah Makan Arab, yang jualan dan yang makan harus orang Arab, termasuk gaya busananya.

Biarlah tetap terkotak-kotak ala jaman penjajahan dan tiada persatuan serta kesatuan, apalagi kebangsaan!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Dunia Pendidikan.

Ingat! Selama yang menjadi Menteri Pendidikan tidak memiliki jiwa Nasionalis, apalagi Negarawan, malahan memiliki kepentingan untuk membesarkan alirannya, organisasinya, sekolahnya, bukunya bahkan bisnisnya sendiri. Janganlah berharap dunia pendidikan bisa menjadi maju, lebih lagi sejajar dengan negara besar!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Jumat, 25 Oktober 2024

Nikmati dan Syukurilah Hidup.

Mati itu sudahlah pasti, makanya janganlah ditakutkan.
Tetapi pikirkanlah cara, agar bisa tetap hidup dengan tidak ketakutan ataupun ditakut-takuti oleh kematian yang telah dipastikan tersebut.
Lantaran mati bukanlah tidur!
Karena tatkala tidur, otak masih bekerja, sehingga dapat berpikir dan terjadilah mimpi.
Ketika otak dinyatakan tidak bekerja alias mati, pikiranpun berhenti, termasuk mimpi dan tidak bangun kembali.
Jadinya, nikmati dan syukurilah hidup ini selagi ada waktu.
Dengan hal-hal positif apapun yang sebaik-baiknya, supaya selamat dan panjang umur.
Plus jauhilah orang-orang yang menjual cerita tentang kematian demi kekayaan pribadinya.
Sebab mereka sengaja membuat kita menjadi gusar dan memanfaatkannya untuk memperoleh keuntungan.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Kamis, 24 Oktober 2024

"Londo nang Yamato!".


Setiap pagi Alm. Ayah saya bangun pada pukul 04.00. Setelah khusyuk berdoa, minum segelas air putih hangat dan mengenakan pakaian serta sepatu olahraga, Beliau melakukan jogging sejauh 4 km. Kebiasaan semenjak kecil yang senantiasa dilakukan olehnya, demikian hal-nya dengan hari itu, Rabu, 19 September 1945.

Tidak seperti biasanya, jalanan terasa lebih ramai. Beberapa orang tampak berkumpul dan berbisik-bisik, seolah sedang membahas sesuatu yang amat serius. Mulanya Alm. Ayah saya tidak mengindahkannya, lantaran terlalu asyik menikmati olahraga. Beliau berlari tanpa mendengarkan obrolan di kiri dan kanannya.

4 km terlampaui, sinar matahari semakin tinggi dan Alm. Ayah saya menurunkan tensi lari paginya dengan berjalan kaki. Orang-orang bertambah banyak yang berlalu-lalang, berkerumun dan mengobrol di pinggir-pinggir jalan. Serta tanpa secara sengaja terdengar selentingan kalimat berbunyi, "Londo nang Yamato!".

Karena keringat masih mengucur deras di tubuhnya, Beliau tidak berhenti untuk bertanya tentang apakah gerangan yang terjadi. Tetapi tetap melanjutkan berjalan santai, meskipun diperlambat, sambil sesekali mendekatkan diri ke orang-orang yang berbincang-bincang di pinggir jalan buat menguping pembicaraan.

Memang pada malam sebelumnya sudah tersebar kabar, bahwa Pasukan Sekutu (AFNEI) mendarat di Surabaya untuk membebaskan orang-orang Belanda dan Eropa yang ditawan (APWI, lembaganya bernama RAPWI) oleh Bala Tentara Jepang. Namun belum jelas mengapa ada orang Belanda di Hotel Yamato.

Setelah suhu tubuhnya menurun, Alm. Ayah saya langsung ikut menimbrung untuk mencari tahu. Ternyata, semalam AFNEI dan RAPWI memindahkan tawanan perangnya Jepang ke beberapa lokasi di Surabaya. Para lelaki Belanda ditempatkan di Hotel Yamato, sedangkan perempuan dan anak-anak di seberangnya.

Nah, sesudah para lelaki Belanda tersebut pindah kesana, mereka mengibarkan bendera negaranya (Belanda) pada tiang bendera yang berada di atas atap Hotel Yamato! Hal inilah yang menjadi perbincangan seru, tegang dan panas mulai sejak Ayam Jantan berkokok di hampir seluruh kota Surabaya pada pagi hari itu!!

Usai mengetahui permasalahan yang sedang terjadi, Alm. Ayah saya bergegas pulang ke rumahnya di Jl. Oendaan Koelon. Beliau ingin melihat dengan mata kepala sendiri, kejadian di Hotel Yamato. Apalagi hotel tersebut yang terletak di Jl. Toendjoengan, kebetulan termasuk di dalam rute perjalanannya ke sekolah, di Jl. Praban.

Setibanya di rumah, Alm. Ayah saya buru-buru mandi, memakai baju (entah seragam ataukah bukan) dan sarapan kilat, lantas berangkat. Tujuannya cuma satu saja, yakni ke Hotel Yamato! Benaknya berkecamuk dari rasa penasaran, curiga plus marah!! Dengan tergesa-gesa, Beliau menuju ke hotel legendaris itu!

Jalanan menuju ke Hotel Yamato, khususnya Jl. Gentengkali, telah dipadati oleh arek-arek Suroboyo. Yang kesemuanya sama-sama mau mencari tahu ihwal kebenaran dari berita perihal berkibarnya bendera Belanda di hotel tersebut. Kebanyakan berjalan kaki, walaupun ada yang bersepeda dan menggunakan mobil.

Di pertigaan Jl. Gentengkali dan Jl. Toendjoengan, masyarakat sudah bergerombol dengan mata terbelalak, memelototi atap Hotel Yamato. Ya, betul sekali! Bendera "Merah-Putih-Biru", tampak berkibar dari kejauhan. Dan beberapa orang Belanda, yang salah satunya membawa sepucuk Pistol menghardik siapapun yang mendekat.

Alm. Ayah saya sontak menjauhinya dan berjalan menyeberang ke Toko Kain milik Haji Mattalitti. Lalu sedikit berjalan lagi ke depan Kantor Berita Indonesia milik Bung Tomo, yang lebih lengang. Sembari melulu melirik ke orang Belanda yang membawa sepucuk Pistol, yang nantinya diketahui bernama Ploegman.

Awalnya warga yang mengerubungi Mr. Ploegman dkk, hendak bertanya soal berkibarnya bendera Belanda di atas hotel itu. Tetapi sikapnya yang sombong dan kasar, membuat mereka jengkel serta memaki-makinya. Tatkala situasinya memanas, kawan-kawannya masuk ke dalam hotel dan membiarkannya sendirian.

Mr. Ploegman yang panik dan ketakutan oleh sebab ditinggalkan kawan-kawannya, menembakkan pistolnya! Massa yang terkejut segera menghindar darinya, seketika keadaannya mencekam! Untung, Residen Soedirman datang bersama beberapa orang dan mengajaknya masuk ke dalam Hotel Yamato.

Namun tidak seberapa lama, Residen Soedirman berjalan cepat keluar dari dalam hotel tersebut, diikuti salah satu orangnya. Dan bunyi letusan Pistol kembali menyalak, tetapi kali ini dari dalam hotel. Serta beberapa orang yang tadinya masuk bersamanya, lari berhamburan keluar dari dalam Hotel Yamato.

Pada waktu yang sama, di luar hotel para pemuda berjuang untuk memanjat temboknya. Mereka "Bopong-bopongan" dan "Panggul-panggulan". Alm. Ayah saya melihat Cak Iyat (Alm. Lettu TNI Purn. Moch. Achijat), salah satu dari mereka. Selain Cak Iyat, Beliau juga melihat Cak Wadji (Alm. Serma TNI Purn. Heru Suwadji) berdiri 5 meteran darinya.

Kemudian seseorang berteriak, "Ondo!, Ondo!" ("Tangga!, Tangga!") dan diikuti beberapa orang lainnya. Akhirnya beberapa orang datang dengan membawa tangga! Serta para pemuda yang berjuang memanjat tembok tadi, satu-persatu menaikinya. Hingga 2 orang berhasil sampai di atas atap, yang terdapat bendera Belanda-nya!!

Di atas atap, keduanya spontan menurunkan bendera Belanda dan berusaha merobek warna birunya, biar menjadi "Merah-Putih", namun tidak berhasil. Mendadak dari arah dalam / belakang hotel (bukan luar / depan seperti para pemuda terdahulu) muncul seorang pria yang membantu merobeknya dan berhasil!!!

Serta-merta dari segala penjuru terdengar pekikan serempak, "Merdeka!, Merdeka!, Merdeka!" dan segenap yang hadir meneteskan air mata haru! Inilah salah satu peristiwa besar yang membangkitkan semangat dan keberanian arek-arek Suroboyo di dalam melawan Pasukan Sekutu yang dibonceng Tentara Belanda (NICA).

Tiada yang tahu siapa pria ketiga yang muncul dari arah dalam / belakang Hotel Yamato itu. Menurut pendapat pribadi Alm. Ayah saya, kemungkinan besar pegawai dari hotel tersebut sendiri. Makanya tidak ada yang mengenal ataupun mengakuinya, lantaran bisa jadi orangnya telah pindah ke negara lain maupun gugur.

Pada periode-periode awal Perang Fisik (1945-1949), masyarakat awam belum 100% yakin mampu mengalahkan dan mengusir penjajah. Serta beberapa daerah tidak mengakui proklamasi kemerdekaan R.I., plus mendirikan "Negara-negara Boneka" yang mendukung sekaligus menjadi kaki-tangan dari pihak Kompeni!

Kurang-lebih begitulah cerita tentang peristiwa "Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato" yang pernah dituturkan oleh Alm. Ayah saya. Mohon maaf, apabila ada kesalahan kata ataupun tanda baca. Semoga berkenan dan menjadi manfaat, Aamiin. Serta terima kasih sudah sudi untuk membacanya. Salam!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Minggu, 20 Oktober 2024

Sebuah Perlewatan.

Intisari dari hidup ini, adalah tetaplah menjadi hidup, sampai kekuatan organ-organ tubuh menghilang seluruhnya.

Jikalau mati alias organ-organ tubuh sudah sama sekali tidak bekerja lagi, maka telah usai segala apapun urusan.

Sehingga :

Untuk menjadi hidup, dibutuhkan kesehatan.
Untuk menjadi sehat, dibutuhkan keselamatan.
Untuk menjadi selamat, dibutuhkan kebajikan.
Untuk menjadi bajik, dibutuhkan kebijaksaan.
Untuk menjadi bijak, dibutuhkan pengetahuan.
Untuk menjadi tahu, dibutuhkan pelajaran.
Untuk menjadi pelajar ataupun belajar, dibutuhkan niat.
Niat untuk mempelajari maksud dan tujuan dari sebuah Perlewatan yang dinamakan "Dunia".

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Jumat, 11 Oktober 2024

GCTA.

Saya rasa kita disini sudah dewasa dan matang semua, lantaran rata-rata sudah berusia di atas 40 tahun. Sehingga bisa sabar dan bijaksana, serta mampu memilah-milah yang baik / buruk maupun benar / salah. GCTA ini cuma sebuah wadah saja, untuk menggerakkan orang lain berbuat amal kebajikan demi tanah air dan kebangsaan, melalui kepeloporan diri kita sendiri. Kita seluruhnya hanya hidup sekali belaka dan sedang menunggu giliran mati. Entah mati kapan, tetapi pasti. Serta entah ke Surga ataupun ke Neraka (apabila dapat betulan, berarti bonus), yang jelas "The End" alias selesai urusan di dunia manakala terjadi. Mumpung masih hidup, GCTA mengajak berbuat amal kebajikan tadi. Siapa tahu karena itu menjadi sehat, selamat, panjang umur, banyak rejeki dan pahala serta nantinya masuk Surga (Aamiin). Oleh sebabnya pejuang GCTA dilarang meminta sumbangan (namanya pejuang masa minta-minta sih!), makanya caranya ber-"Kerjasama" dengan pihak lain. Kerjasama yang saling tidak merugikan, biar "Ringan sama Dijinjing, Berat sama Dipikul". Di dalam kerjasama dengan siapapun tentunya terkadang ada kesalah-pahaman. Nah disinilah, kedewasaan dan kematangan kita buktikan. Janganlah sampai tatkala senang dan untung GCTA yang telah menjembatani dilupakan, namun ketika terjadi "Seleh-Genje" malahan dituduh sebagai biang keladinya, bahkan dimusuhi! Bekerjasama dengan siapapun, apalagi di umur yang tidak muda, wajib memiliki kesabaran dan kebijaksanaan (kuncinya). Lebih lagi apabila untuk sehat, selamat, panjang umur, banyak rejeki dan pahala serta Surga jelasnya dibutuhkan yang ekstra. Sekali lagi GCTA ini sekadar wadah semata dengan tujuan yang mulia, sehingga tidaklah perlu dibenci. Toh, menjadi mulia merupakan kewajiban sekaligus tujuan dari setiap insan yang beriman kepada Sang Maha Pencipta, terlepas dari agamanya. Untung silahkan diambil, rugi janganlah menyalahkan yang lain, lebih-lebih GCTA. GCTA tidak pernah memperoleh untung apapun, termasuk saya sebagai pendirinya. Inilah wadah perjuangan yang murni untuk tanah air dan kebangsaan, dengan diri sendiri yang menjadi pelakunya, pejuang tanpa pamrih. Semoga kelak dikenang, dihormati dan dihargai oleh anak-cucu kita. Aamiin, Aamiin, Aamiin. Terima kasih.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Selasa, 01 Oktober 2024

Keyakinan.

Lantaran segalanya yang hidup pastilah mati, makanya kita haruslah memiliki keyakinan (yang positif). 
Keyakinan (yang positif) untuk membangun harapan yang indah, dengan cara mengimani (sungguh-sungguh yakin) dan mengamalkan kebajikan (yang baik-baik plus bijaksana).
Sehingga tatkala bugar mendapatkan keselamatan dan ketika sekarat bukannya mengalami ketakutan, melainkan kepasrahan.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---