Setelah terjadinya peristiwa "Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato", Kota Surabaya menjadi tegang dan panas!
Arek-arek Suroboyo yang sebagian mulanya berprasangka baik dan tidak mencurigai Pasukan Sekutu, akhirnya semuanya menjadi berprasangka buruk, mencurigai sekaligus jengkel. Sehingga setiap gerak-geriknya selalu diawasi, serta diperbincangkan.
Demikian pula pada siang itu, hari Minggu, tanggal 28 Oktober 1945, Alm. Ayah saya berangkat ke sekolahnya yang menjadi Markas dari TKR-P Staf III / Praban.
Selisih sehari (27 Oktober 1945) dari dijatuhinya Kota Surabaya dengan pamflet-pamflet melalui pesawat terbang, yang berisikan perintah untuk menyerahkan senjata kepada AFNEI dan penyerangan penjara Kalisosok oleh Tentara Khusus milik Kerajaan Inggris demi membebaskan Kapten AL (setara Kolonel AD) PJG Huijer (tengah malam 26 Oktober 1945 - dini hari 27 Oktober 1945)!
Sesudah diproklamasikannya kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustus 1945) dan disahkannya ideologi Pancasila sebagai Dasar Negara serta UUD 1945 sebagai Konstitusi Negara (18 Agustus 1945), BKR (Badan Keamanan Rakyat) didirikan (22 Agustus 1945). Para Pelajar juga tidak mau ketinggalan dan mendirikan Badan Keamanan Rakyat - Pelajar atau yang disingkat BKR-P.
BKR-P berubah nama menjadi TKR-P pada tanggal 05 Oktober 1945, mengikuti BKR yang berubah menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat).
Hampir seluruh siswa di Kota Surabaya, terutama yang dulunya bekas Gakku Tootai alias anak-anak sekolah (umur 10-17 tahun) yang pernah dilatih dasar kemiliteran oleh Bala Tentara Jepang, yang semenjak bulan Juli telah "Adem Panas" (tokohnya bernama Mas Biek "Turet", Alm. Mayjen TNI Purn. Soebiantoro, konon yang menembak Brigjen AWS Mallaby) untuk melakukan sabotase dan memiliki gerakan bawah tanahnya sendiri dengan mengeroyok orang-orang Jepang yang sedang mabuk serta menandai rumah-rumah para kolaborator, langsung membentuk sebuah Badan Perjuangan yang kemudian menjadi TKR-P tersebut.
TKR-P memiliki 4 markas komando, yakni :
1. TKR-P Staf I / Darmo.
2. TKR-P Staf II / Sawahan.
3. TKR-P Staf III / Praban.
4. TKR-P Staf IV / Herenstraat.
Alm. Ayah saya yang barusan lulus dari SD di Jl. Gentengkali (Taman Siswa) serta hendak masuk ke SMP, tergabung di TKR-P (tadinya BKR-P) Staf III / Praban (sekolah SMP Praban dan SMP Ketabang pernah digabungkan pada akhir jaman Belanda, di akhir jaman Jepang dipisahkan kembali) yang markas komandonya berlokasi di Jl. Praban (sekarang SMPN 3 Surabaya).
Setibanya di halaman sekolah (markas) yang luas, Beliau memperoleh kabar dari kawan-kawannya bahwasanya sejak menjelang matahari terbit, truk-truk milik Pasukan Sekutu yang dikemudikan oleh tentara Gurkha yang bertuliskan "RAPWI", hilir-mudik dari arah Perak ke arah Darmo serta sebaliknya.
Lantaran perasaan khawatir, ingin tahu plus tidak lagi percaya terhadap Pasukan Sekutu, walhasil Alm. Ayah saya bersama 3 orang sahabatnya, Mas Yono "Kencur" (Alm. Brigjen Pol. Purn. Soejono Soentahir), Mas Hardji (Alm. Pratu TRIP Soehardji) dan Mas Tomo "Cilik" (Alm. Pratu TRIP Soetomo Fadjar) menelusuri jalan-jalan yang diperkirakan dilalui oleh truk-truk itu.
Di ujung Jl. Toendjoengan salah satu dari truk-truk tersebut ditemukan. Dan sembari berlarian, terus-menerus diikuti. Tetapi karena truk itu berjalan kencang, mereka-pun tertinggal. Sambil sesekali bertanya kepada warga sekitar, perjalanan untuk menguntit tetaplah dilanjutkan.
Hingga sampailah di pertigaan jalan Palmenlaan (Jl. Panglima Sudirman) dan Jl. Sonokembang (entah dulu namanya jalan apa) yang disini 2 buah truk sudah dihentikan oleh penduduk setempat bersama Pak Djarot (Alm. Letkol TNI Purn. Djarot Soebiantoro, terdahulunya merupakan ketua dari satuan Jibakutai). Tampak Cak Wadji (Alm. Serma TNI Purn. Heru Suwadji) di antara mereka, namun Beliau tidak sempat menyapanya.
Cak Wadji adalah anggota BKR (TKR) dari RW I kampung Karang Bulak (sekarang hilang, sebab menjadi Hotel Bumi), yang senantiasa aktif memantau sepak terjang Pasukan Sekutu. Dan Alm. Ayah saya seringkali berjumpa dengannya, ketika "Hal-hal Penting" terjadi di Surabaya. Beliau berdua bersahabat erat, hingga akhir hayat (Alm. Ayah saya wafat pada tahun 2007).
Selang beberapa lama, datanglah kembali 1 buah truk dan Beliau (Alm. Ayah saya) beserta ketiga sahabatnya segera menghentikannya.
Truk-truk yang bertuliskan RAPWI tersebut, mengangkut beberapa gelintir wanita dan anak-anak Belanda (tidak penuh), serta kotak berlambang Palang Merah.
Setelah berbicara sebentar dengan tentara Gurkha yang mengemudikan truk itu, mereka lekas ke belakang untuk membuka pintunya.
Para wanita dan anak-anak Belanda memberikan sambutan hangat, serta berbasa-basi sejenak. Alm. Ayah saya dan sahabat-sahabatnya mempersilahkan mereka turun dari atas truk tersebut, lantas memeriksa muatan yang ada di dalamnya.
Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah massa yang berada di truk yang lebih depan, "Senjata!, Senjata!, Bakar!, Bakar!". Dan para wanita serta anak-anak Belanda menjadi ketakutan, lalu meminta ampun plus maaf, sekaligus berkata bahwa mereka tidak tahu apa-apa.
Beliau secara spontan menyuruh salah seorang sahabatnya untuk menyerahkan wanita dan anak-anak itu kepada markas Pasukan Sekutu (20 tempat di Surabaya dijadikan markas oleh mereka) yang berada di pojokan Jl. Sonokembang yang berbelok ke Jl. Kayoon (kayaknya saat ini Kantor Indosat), supaya aman. Serta bersama para sahabat yang lainnya, membuka kotak-kotak di atas truk tersebut.
Kotak-kotak belum terbuka, sekonyong-konyong "Bruaakkk!" dan "Doorrr, doorrr, doorrr"!! Salah satu truk yang berada di Jl. Sonokembang menabrak penduduk dan menembakinya!!!
Sontak terjadilah tembak-menembak yang tidak seimbang!
Arek-arek Suroboyo dari daerah Keputran, Pandegiling, Kaliasin, Kayoon, Karang Bulak, Kedondong, Lemah Putro dan lain-lain bersatu serta serempak melakukan perlawanan!
Segala alat dipakai untuk menyerang!! Sampai-sampai Pasukan Sekutu mundur kelabakan dan menelantarkan para wanita serta anak-anak Belanda yang sebelumnya dijadikan "Tameng" oleh mereka!!!
Rakyat yang emosi seketika membakar truk-truk itu dan menghakimi para wanita serta anak-anak yang tertinggal disana! Sungguh-sungguh naas dan mengerikan!!
Api dahsyat berkobar dan meledak-ledak! 7 buah truk RAPWI berhasil dibakar dan muatannya dibawa pulang oleh masyarakat setempat!!
Alm. Ayah saya dan 2 orang sahabatnya (yang 1 orang lagi berjalan di seberang) perlahan-lahan mundur ke belakang. Berhenti sejenak di markasnya Pak Djarot (Jl. Embong Wungu), kemudian balik ke markasnya di Jl. Praban.
Banyak sekali korban jiwa yang tidak bersalah dari peristiwa ini. Dan mulai hari, tanggal serta jam tersebut di atas, kedua belah pihak semakin saling membenci, sekaligus sengit permusuhannya.
Kurang-lebih begitulah cerita tentang kejadian "Pembakaran Truk-truk RAPWI" yang pernah dituturkan oleh Alm. Ayah saya. Mohon maaf, apabila ada kesalahan kata maupun tanda baca. Semoga berkenan dan menjadi manfaat, Aamiin. Serta terima kasih sudah sudi untuk membacanya. Salam!
Charles E. Tumbel.
--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---