Sabtu, 27 Juni 2020

"Orang-orang Pilihan".

Beberapa hari ini saya merasa rindu dan teringat kepada Alm. Ayah, ternyata besok adalah hari ulang tahunnya.

Banyak hal yang saya pelajari dan dapatkan dari Beliau serta salah satunya adalah cerita di bawah ini :

"Orang-orang Pilihan".

Tatkala saya sedang asyik menikmati makan siang bersama Ayah (setiap hari Beliau membeli beberapa bungkus Rujak dan Gado-gado untuk makan siang), tiba-tiba Pak Agus (yang merawat Hewan Peliharaan di rumah) masuk ke dalam ruang makan dan berkata, "Pak, makanannya Burung habis.".

Ayah berkata, "Gus, duitku mek kari Rp. 50.000 tok. Sesuk esuk aku ta nang Bank, mulihe menyisan ta tuku pakananne Manuk lan liyo-liyone." (Gus, uangku cuma tinggal Rp. 50.000 saja. Besok pagi aku akan ke Bank, pulangnya sekalian akan membeli makanannya Burung dan lain-lainnya).

Pak Agus menjawab, "Enggih, Pak." (Iya, Pak), kemudian berlalu.

Hari itu sedang "Tanggal Tua" (akhir bulan) dan masih belum ada yang mengenal ATM. Sehingga kalau mau mengambil uang, harus pergi ke Bank. Tetapi pada jaman itu uang senilai Rp. 50.000 termasuk besar, uang senilai Rp. 100.000 belum ada. Namun saya tidak tahu mengapa Beliau menunda untuk membeli makanan Burung, padahal uangnya cukup.

Selesai makan siang, Ayah duduk di ruang tamu dan saya pergi ke Pos Keamanan yang ada di samping rumah untuk merokok (kebiasaan buruk).

Baru sekitar 5 menitan duduk disana, ada sebuah sepeda motor yang berhenti tepat di depan saya.

Sesudah mematikan mesin, turun dari sepeda motor dan membuka helmnya, terlihat Si Pengendara adalah seorang pria yang sudah tua.

Beliau menghampiri saya dan menanyakan keberadaan Ayah. Saya menjawab bahwa Ayah sedang berada di rumah dan menanyakan namanya. Beliau memberitahukan namanya dan saya langsung permisi untuk memberitahukan kepada Ayah.

Saya memberitahu Ayah bahwa ada seorang Bapak Tua yang sedang mencarinya. Beliau menanyakan namanya dan saya memberitahukannya. Tanpa berpikir lama, Ayah menyuruh saya mengantarkan Bapak Tua tersebut masuk ke dalam ruang tamu untuk menemuinya (biasanya Beliau menemui tamunya di Pendapa, bukan di dalam ruang tamu, kecuali orang penting dan teman dekatnya).

Saya kembali ke Pos Keamanan dan mempersilahkan Bapak Tua tersebut untuk masuk ke dalam rumah serta mengantarkannya ke ruang tamu.

Setelah sampai di dalam ruang tamu dan bertemu Ayah, saya hendak bergegas ke luar untuk melanjutkan merokok.

Tetapi belum sampai melangkahkan kaki, Ayah sudah memanggil saya dan menyuruh untuk ikut menemani Beliau di dalam ruangan tersebut.

Ayah mempersilahkan tamunya untuk duduk dan memperkenalkannya kepada saya. Bapak Tua tersebut adalah teman lama Beliau saat masa-masa Revolusi Fisik (1945-1949).

Ayah meminta saya untuk menyuruh Pembantu menyajikan minuman dan makanan yang ada.

Saya berdiri dan berjalan menuju ke dapur untuk memberitahu kepada Pembantu yang sedang berada disitu, sesudahnya langsung kembali ke dalam ruang tamu lagi.

Di dalam ruang tamu, saya hanya menjadi pendengar belaka. Ayah dan teman lamanya itu saling menanyakan kabar tentang keluarga serta teman-teman seperjuangannya dulu.

Setelah bernostalgia selama 1/2 jam dan menikmati sajian "Ala Kadarnya" yang kebetulan ada, Ayah bertanya tentang tujuan dari kedatangan teman lamanya tersebut.

Ternyata teman lama Ayah itu sedang kehabisan bensin. Dan Beliau tidak membawa uang sama sekali, padahal rumahnya jauh.

Ayah terdiam sejenak dan kemudian tertawa sambil berkata bahwa kehabisan bensin di dekat rumah kami adalah sebuah Takdir. Karena kalau tidak kehabisan bensin, maka belum tentu akan mampir. Mendengar hal itu, kami semuanya tertawa bersama.

Ayah mengambil uang Rp. 50.000 dari dalam kantong celananya dan menyerahkannya kepada teman lamanya tersebut. Beliau memohon maaf, sebab uangnya cuma ada Rp. 50.000 saja.

Lalu Ayah menyuruh saya ke dapur untuk mengambil Beras, Kecap, Gula, Kopi, Sirup dan Makanan Kaleng yang ada. Saya segera pergi ke dapur untuk mengambil barang-barang tersebut dan memasukkanya ke dalam karung plastik.

Sesudah semuanya terbungkus rapi di dalam karung plastik, saya kembali ke ruang tamu.

Di dalam ruang tamu, saya melihat teman lama Ayah sedang meneteskan air mata dan berulang kali mengucapkan kata terima kasih.

Ayah berkata bahwa itu bukan apa-apa dan tidak perlu mengucapkan terima kasih. Karena latar-belakang sejarah, hubungan dekat dan silaturahmi adalah hal yang paling terpenting.

Teman lamanya tersebut merangkul Ayah dengan erat dan mendoakannya, sekaligus pamit untuk pulang sebab khawatir keluarganya cemas serta mencarinya. Ayah menyuruh saya untuk mengangkat karung plastik tadi dan membantu menaikkannya ke atas sepeda motor milik teman lamanya itu.

Setelah teman lama Ayah pulang, kami berdua duduk di Pos Keamanan (saya melanjutkan merokok).

Ayah bercerita sedikit mengenai teman lamanya tadi dan masa-masa Revolusi Fisik serta jaman sesudah Tentara Belanda keluar dari Indonesia (1950), saya mendengarkannya dengan amat sangat antusias.

Dari kecil saya (kami sekeluarga) tahu bahwa Ayah termasuk orang yang memiliki "Kelebihan" dan luar biasa dermawannya.

Ayah bukan termasuk orang yang silau terhadap harta dan jabatan. Serta apapun yang dimilikinya, tidak pernah segan-segan diberikan kepada orang yang sedang membutuhkannya.

Tidak hanya sekedar uang semata bahkan mobil, rumah sampai kebun-pun pernah Ayah berikan kepada teman-temannya. Namun anehnya, hingga akhir hayat Beliau tidak pernah kekurangan apalagi kesusahan.

Dan saking dermawannya, Ayah sering ditipu oleh teman-temannya.

Bukannya marah dan mendatangi teman-temannya yang sudah menipunya itu, Ayah malah mengikhlaskan dan menganggapnya sebagai "Buang Sial". Karena niatnya betul-betul tulus lagi ikhlas untuk membantu / menolong sesama.

Ayah sungguh-sungguh percaya kepada "Hukum Tabur-Tuai". Dan kerap berkata bahwa pada saat Jaman Peperangan, Beliau banyak berbuat dosa, sehingga yang dialaminya sekarang adalah sebuah "Akibat". Serta dengan ketulusan dan keikhlasannya atas penipuan maupun hal-hal buruk yang terjadi kepada dirinya itu, maka dosa-dosa yang dulu pernah Beliau perbuat akan berkurang.

Terus terang, inilah hal yang paling sulit untuk saya terima, terlebih lagi untuk menjalankannya.

Percaya atau tidak, teman-teman Ayah ataupun orang-orang yang saya ketahui pernah menipu Beliau, di belakang hari hidupnya malah penuh kesengsaraan.

Setelah Ayah selesai bercerita, saya bertanya kepada Beliau tentang sesuatu yang sejak tadi terpendam di dalam benak.

"Pa, opo'o kok duitte mawu ngga dikekno separuh ae? Sing separuh sisane lak iso dikekno nang Pak Agus gawe tuku pakananne Manuk? Dadi Papa sesuk ga perlu nang Bank." (Pa, mengapa kok uangnya tadi tidak diberikan separuh saja? Yang separuh sisanya 'kan bisa diberikan kepada Pak Agus untuk membeli makanannya Burung? Jadi Papa besok tidak perlu ke Bank).

Ayah bukan termasuk orang yang suka menabung. Beliau lebih suka membeli benda (investasi), daripada menabung. Ayah tidak memiliki deposito dan jumlah uang yang ada di dalam tabungan Beliau tidak banyak. Biasanya cuma sebesar kebutuhan rumah selama 2-3 bulan saja. Dan apabila Ayah mengatakan sedang tidak ada uang, maka itu berarti Beliau memang benar-benar sedang tidak memiliki uang.

Ayah tertawa kecil dan berkata, "Hehehe. Les koen iku arek pinter, tapi lek mek pinter tok ga cukup, kudu duwe pangerten. Sesuk esuk aku ancen kudu lungo nang Bank" (Hehehe. Les kamu itu anak pintar, tetapi kalau cuma pintar saja tidak cukup, harus memiliki pengertian. Besok pagi aku memang harus pergi ke Bank).

"Maksudte yok opo, Pa?" (Maksudnya bagaimana, Pa?), tanya saya penasaran.

"Mawu pas Agus ngomongi lek pakan Manuk entek, aku sengojo ga ngekek'i duit sebab kroso ate ono tamu sing teko. Aku lungguh nang njeruh ruang tamu gawe ngenteni tekone tamu iku. Tibakno bener, sing teko konco lawasku." (Tadi disaat Agus memberitahu kalau makanan Burung habis, aku sengaja tidak memberikan uang sebab merasa akan ada tamu yang datang. Aku duduk di dalam ruang tamu untuk menunggu datangnya tamu tersebut. Ternyata benar, yang datang teman lamaku), jawab Beliau.

"Lah, hubungane antara ono tamu sing ate teko karo ga ngekek'i duit nang Pak Agus iku opo, Pa?" (Lah, hubungannya antara ada tamu yang akan datang dengan tidak memberikan uang kepada Pak Agus itu apa, Pa?), lanjut saya bertanya.

"Karna aku wis kroso tamu iki lagi genting lan lek Agus lungo tuku pakan Manuk, sampe saiki pasti durung mbalik." (Karena aku sudah merasa tamu ini sedang (di dalam) bahaya dan kalau Agus pergi membeli makanan Burung, (maka) sampai saat ini pasti belum kembali (ke rumah), jawab Ayah lagi.

Saya terkejut mendengar jawaban dari Beliau dan seketika terdiam.

"Les, aku iso ae ngekek'i duit mek separuh nang konco lawasku lan separuh sisane nang Agus. Ngertio lek ono'e tamu iki mawu dhuduk ketepakan, tapi ono artine. Konco lawasku iku mawu pasti lagi ono masalah lan butuh duit, masio alasanne keentekan bensin nang cidek kene." (Les, aku bisa saja memberikan uang hanya separuh kepada teman lamaku dan separuh sisanya kepada Agus. Mengertilah kalau adanya tamu ini tadi bukan kebetulan, tetapi ada artinya. Teman lamaku itu tadi pasti sedang ada masalah dan membutuhkan uang, meskipun alasannya kehabisan bensin di dekat sini), sambung Ayah.

"Atine digerakno mrene cekno ketemu karo aku, dadi aku wajib mbantu. Mbantu iku ga oleh nanggung, Les, kudu sing paling apik. Sebab mbantu uwong iku sejatine rejeki lan ono ganjaranne sing gede." (Hatinya digerakkan kesini supaya bertemu dengan aku, jadi aku wajib (untuk) membantu(nya). Membantu itu tidak boleh setengah-setengah, Les, harus yang paling terbaik. Sebab membantu orang itu sesungguhnya (adalah) rejeki dan ada balasannya yang besar), pungkasnya.

Saya tidak bisa berkata apa-apa, namun mengangguk untuk menunjukkan bahwa sudah mengerti dengan apa yang Beliau sampaikan.

Lantas saya mengajak Ayah masuk ke dalam rumah untuk mengakhiri pembicaraan dengan Beliau. Kami berdua masuk ke dalam rumah dan kejadian pada hari itu-pun terlupakan.

Tepat 1 minggu setelahnya, Ayah memberitahu saya bahwa teman lamanya yang datang ke rumah kami tersebut sudah meninggal dunia. 

Beliau bersama-sama dengan para teman-teman lamanya yang lain akan berangkat ke TMP (yang kebetulan tidak jauh dari rumah kami) untuk menghadiri pemakamannya.

Saya termenung dan berusaha untuk mengingat kembali seluruh peristiwa serta pembicaraan dengan Ayah yang terjadi pada 1 minggu yang lalu.

Hidup ini adalah sebuah Misteri dan tidak ada satu-pun orang yang bisa mengetahui yang bakal terjadi, terkecuali bagi "Orang-orang Pilihan".

Selamat ulang tahun untuk Papaku yang tercinta.

Doa yang paling terbaik senantiasa kami semua panjatkan untukmu  dimanapun berada. Aamiin, Aamiin, Aamiin.

Charles E. Tumbel.

In Memoriam :
Pradjurit I TRIP Benny "Jenggot" Tumbel.
(Surabaya, 28 Juni 1931 - Surabaya, 04 Mei 2007).

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---