Selasa, 06 Desember 2016

Atas Nama Diri Pribadi Mengusulkan, Memohon Serta Meminta.

Negara kita yang tercinta ini disamping amat kaya raya dan subur serta makmur, juga adalah Bangsa yang besar sejak jaman dahulu kala.

Hal ini bisa kita buktikan dengan luhurnya Budaya yang kita miliki dan banyaknya seni serta tradisi yang ada di daerah tempat tinggal kita masing-masing.

Sayangnya pada saat ini kita sedang mengalami penurunan nilai-nilai dari Budaya yang luhur tersebut, meskipun belum hilang sama sekali.

Hal ini sebenarnya bisa kita rasakan dengan lunturnya toleransi, semangat kebersamaan dan gotong-royong, asas kekeluargaan, kepedulian terhadap sesama, kecintaan kepada Tanah Air dan saudara Sebangsa serta hal-hal yang lainnya.

Saat ini kita juga bisa merasakan bahwa dominasi kepentingan dari Pihak Asing, baik melalui Agama, Politik, Ekonomi, Budaya maupun hal-hal yang lainnya, sudah sangat mewarnai di dalam kehidupan yang ada di Ibu Pertiwi yang tercinta.

Tentunya hal ini sangat membahayakan bagi keutuhan dari Bangsa dan Negara kita yang tercinta. Apalagi pada saat ini di Negara yang tercinta juga banyak bermunculan faham dan aliran baru yang sangat mengkhawatirkan kita semuanya.

Kelompok-kelompok ekstrem dan radikal telah masuk serta membentangkan sayapnya di Negara kita yang tercinta ini. Sehingga lambat-laun pasti akan terjadi perselisihan dan perseteruan di antara faham serta aliran yang ada.

Apalagi terus-menerus saling menghujat dan mencela, ini bukanlah persoalan yang sepele. Sebab apabila betul-betul terjadi maka Negara kita yang tercinta ini, hanya akan tinggal nama dan kenangannya belaka.

Keadaan ini bukanlah keadaan yang biasa, namun keadaan yang luar biasa atau keadaan yang khusus. Sehingga kita juga harus mengantisipasinya dengan cara yang luar biasa atau khusus pula.

Oleh karena hal tersebut di atas dan demi kebaikan kita semuanya. Terutama untuk menjaga keutuhan dari Bangsa dan Negara kita yang tercinta ini, maka saya atas nama diri pribadi mengusulkan, memohon serta meminta kepada Pemerintah untuk segera menghidupkan kembali fungsi teritorial dari Kodam, Korem, Kodim juga Koramil.

Hal ini menurut diri saya pribadi sangat perlu untuk segera dilaksanakan. Agar pihak-pihak tertentu yang bisa membahayakan keutuhan dari Bangsa dan Negara kita yang tercinta ini bisa terpantau kegiatannya semenjak dini.

Sehingga Pemerintah dan kita semuanya, Rakyat Indonesia, bisa mengantisipasinya sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan oleh semua pihak dengan semenjak dini pula.

Terima kasih dan semoga berkenan.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Senin, 05 Desember 2016

Segala Sesuatu Pastilah Ada Resikonya.

Segala sesuatu pastilah ada resikonya, baik berpihak maupun tidak berpihak.

Tidak ada resiko yang lebih kecil ataupun yang lebih besar, meskipun sudah disiasati dengan berpihak kepada keduanya. Dan berpihak kepada keduanya malahan akan membuat posisi yang terjepit, serta mendatangkan masalah baru.

Namun apapun itu, tetaplah merupakan suatu Keputusan yang menunjukkan keberanian diri di dalam menentukan sikap. Dan sebuah Sikap adalah petunjuk utama dari Kepribadian.

Tentukanlah sikap kita dengan berpegang teguh kepada kebenaran untuk keadilan. Dan beranikanlah diri untuk menghadapi segala resiko yang bakalan terjadi karenanya.

Agar nantinya diri kita sendiri bisa memiliki kepribadian yang jelas, tegas dan kuat demi kebaikan di masa yang akan datang.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Persatuan serta Kesatuan dari Seluruh Anak Negeri.

Kekalahan Prabowo kemarin bukanlah disebabkan oleh pribadi Prabowo sendiri. Tetapi lebih karena cara berkampanye dari Tim Suksesnya yang salah. Dan ulah dari para pendukungnya yang sama sekali tidak menunjukkan sikap nasionalis. Padahal Prabowo dikenal sebagai sosok yang nasionalis dan idealis.

Dengan secara sengaja ataupun tidak secara sengaja, melemparkan isu-isu yang berbau SARA tanpa melihat latar-belakang keluarga Prabowo yang plural dan heterogen. Sehingga hal itu malahan menjadi "Bumerang" bagi pencitraan diri Prabowo sendiri.

Kita tahu bahwa Ibunda dari Prabowo berdarah campuran dan beragama Nasrani, begitupun kakak serta adiknya, namun mereka mengindahkannya. Akhirnya membuat seakan-akan Prabowo tidak dekat dengan keluarganya, cuma lantaran ingin menjadi Presiden saja. Jelas ini cara pencitraan yang buruk, salah sasaran dan tidak tepat.

Sentimen-sentimen terhadap Pihak Asing melulu disebar-luaskan. Padahal partai-partai yang berkoalisi mendukung Prabowo, ada yang bekerjasama dengan Pihak Asing. Sehingga masyarakat luas menilai negatif dari ketidak-konsistenan ini.

Terkecuali masyarakat yang emosional atau yang bukan pemilih rasional. Padahal seharusnya target pemilih Prabowo adalah pemilih rasional mengingat keahlian, kemampuan, wawasan, popularitas dan sepak-terjang Prabowo yang sudah mendunia.

Saat ini genderang perang terus-menerus ditabuh, bukannya oleh sebab Prabowo membenci Jokowi. Tetapi untuk menutupi dan menyembunyikan kesalahan mereka (Tim Suksesnya) sendiri, pada saat kampanye kemarin.

Serta untuk mempertahankan dan mengendalikan persaingan antara Prabowo dengan Jokowi. Agar selalu terjadi pergesekan diantara kedua tokoh tersebut, demi keuntungan pribadi mereka sendiri. Meskipun kesemuanya itu pasti seolah-olah untuk kepentingan Prabowo.

Karena dengan adanya pergesekan tersebut, berarti bakalan ada kubu-kubuan maupun kelompok-kelompokan. Yang mana kubu ataupun kelompok itu, tentunya akan dibiayai untuk kesinambungannya oleh Prabowo ("Dikompori" dan "Dicopeti").

Selama ada pergesekan, maka bakalan tetap ada dana yang bisa didapatkan. Dan mereka mesti bisa terus membangunnya, supaya "Pembiayaannya' juga bisa tetap berjalan dengan lancar pula.

Inilah politik, tidak ada yang murni apalagi untuk rakyat. Sebab yang ada hanya untuk kepentingan pribadi atau kelompok belaka.

Pergesekan antara Prabowo dan Jokowi bisa menguntungkan banyak pihak di dalamnya. Terutama pihak yang sedang memiliki masalah hukum maupun masalah keuangan, termasuk masalah korupsi.

Sekarang ini bukan jamannya feodalisme lagi. Yang para hipokritnya bisa hidup dari menjilati dan mengadu-domba kanan-kiri serta atas-bawah sambil berkorupsi. Para pejabatpun tidak bisa meminta untuk melulu disembah dan dipuja bak seorang Tuan Tanah lagi.

Saat ini jamannya keterbukaan dan saling adu prestasi. Akhirnya mereka yang merasa tidak mampu untuk mengikuti perkembangan jaman maupun yang masih berparadigma lama, akan terus berusaha untuk menghambat dan mengganjal kemajuan, agar bisa tetap hidup nyaman di balik harta dari hasil kejahatan.

Sudah waktunya kita menghidupkan kembali demokrasi yang berdasarkan kepada Pancasila, UUD '45 dan Sumpah Pemuda. Serta meraih kejayaan Bangsa dan Negara yang tercinta ini, dengan memberantas para hipokrit yang gemar korupsi.

Semoga Prabowo, Jokowi juga kita semuanya pula segera sadar bahwa untuk membangun keunggulan bagi Bangsa dan Negara yang tercinta ini, amat sangat dibutuhkan persatuan serta kesatuan dari seluruh anak negeri.

Marilah kita mengesampingkan ambisi, emosi dan kepentingan pribadi.
Marilah kita lupakan seluruh kejadian dan pengaruh buruk, akibat politik yang kemarin telah terjadi.
Marilah kita memulai hidup baru lagi yang bersih, bebas korupsi dan tanpa hipokrasi demi kejayaan Ibu Pertiwi.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---