Terus-menerus membeda-bedakan sekaligus membangun kebencian dengan latar-belakang terhadap Suku, Agama, Ras dan Golongan bukanlah sesuatu yang baru namun malahan hal-hal yang sudah amat lama sekali, alias kuno serta basi.
Hal tersebut sampai dengan saat ini masih terjadi. Di samping lantaran pada masa penjajahan fisik dulu (hampir seluruh Negara di dunia ini pernah dijajah) memang sengaja dibuat oleh Pihak Penjajah supaya tidak ada yang bisa bersatu plus menggalang kekuatan untuk melawan mereka (karena sibuk memusuhi saudaranya sendiri), juga oleh sebab keserakahan umat manusia sendiri (termasuk di dalam menonjolkan diri pula), yang akibatnya bahkan menjadi semakin mudah untuk diadu-domba dan dicerai-beraikan.
Sisa-sisa dari jiwa yang terjajah inilah yang sejujurnya belum sepenuhnya hilang. Malahan ada beberapa pihak yang bahkan bangga dan mempertahankan gaya hidup yang seperti ini.
Di dalam gaya penjajahan model baru yang bukan lagi menguasai secara fisik tetapi ideologi, politik, ekonomi, sosial, teknologi, budaya, sejarah (ujung-ujungnya demi SDA) dari negara lain itu, sisa-sisa dari jiwa yang terjajah seperti tersebut di atas yang bakalan dimanfaatkan oleh Pihak Penjajah untuk dijadikan antek a.k.a kaki-tangannya.
Seringkali tanpa secara sadar ataupun dengan sadar, seringkali tanpa secara sengaja maupun dengan sengaja dan seringkali tanpa kepentingan atau dengan kepentingan serta keuntungan, sisa-sisa dari jiwa yang terjajah muncul sekaligus membuat noda di dalam jiwa yang seharusnya telah merdeka.
Julukan-julukan Si Jawa, Si Batak, Si Madura, Si Padang dll.
Julukan-julukan Si Cina, Si Pribumi, Si Arab, Si India dll.
Julukan-julukan Si Kristen, Si Islam, Si Budha, Si Hindu dll merupakan bukti nyata bahwasanya kita masih memiliki sisa-sisa dari jiwa yang terjajah itu, bahkan malah masih cinta dan bangga dengan gaya serta cara-cara tersebut.
Persatuan dan kesatuan dari yang berbeda-beda menimbulkan kesetaraan sekaligus kesederajatan di dalam Berkebangsaan, yang tentunya hal-hal itu membuat sisa-sisa dari jiwa yang terjajah menjadi sangat cemas serta ketakutan.
Marilah kita semuanya menghilangkan sisa-sisa dari jiwa yang terjajah di dalam diri masing-masing, agar sepenuhnya merdeka.
Dan janganlah pernah bangga, apalagi cinta serta mau melestarikannya. Lantaran penjajahan model baru yang sudah menyusahkan kita semuanya sekarang ini, hanya dapat tumbuh subur plus berkembang luas, apabila diri sendiri yang membiarkannya!
Salam Cinta kepada Tanah Air dan seluruh Saudara Sebangsa! Hidup Pancasila!
Surabaya, 24 Agustus 2013.
Charles E. Tumbel.
--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---