Jumat, 28 Maret 2025

Harapan.

Meskipun amat sangat diinginkan, tetapi keyakinan bukanlah kenyataan dan kenyataan-pun bukannya keyakinan. Keduanya berbeda dan dibutuhkan nalar serta logika untuk mencernanya. Walaupun bisa saling melengkapi untuk menciptakan sebuah Harapan, namun kesadarannya tidaklah sama.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Kamis, 27 Maret 2025

Seolah.

Gembirakanlah hati senantiasa, seolah muda selamanya dan berbuatlah kebajikan selalu, seolah kehabisan waktu.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Jumat, 21 Maret 2025

Gara-gara.

Dulu gara-gara rempah-rempah kita dijajah, sekarang gara-gara tambang kita dipecah-belah dan kelak gara-gara budaya kita dipersatukan.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Tawar-menawar.

Di dalam politik segala sesuatu dapat dijadikan alat untuk tawar-menawar, yang kecil bisa menjadi besar dan yang akbarpun mampu dihilangkan, demi tercapainya sebuah Kesepakatan yang menguntungkan para pelakunya (bukan penontonnya).

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Kamis, 06 Maret 2025

Menjadi Pendikar.

"Ben, kamu masih yunior! Jadi biarkanlah yang sudah senior terlebih dahulu yang mengikutinya, nanti yang berikutnya barulah giliranmu!!".

Kalimat tersebut disampaikan oleh komandan Beliau di Brigade 17 Detasemen I / TRIP Jawa Timur, manakala Alm. Ayah saya mengajukan permohonan untuk mengikuti PON I pada cabang olahraga Tinju.

Rencananya PON I bakalan diadakan oleh PORI (Persatoean Olahraga Repoeblik Indonesia) di Solo pada bulan September tahun 1948 dan memperlombakan beberapa cabang olahraga termasuk Tinju, yang menjadi hobby Alm. Ayah saya sedari kecil.

Untungnya, tidak lama berselang terjadilah pemberontakan PKI Moeso di Kota Madiun! Sebuah peristiwa makar yang kejam sekali dan dipimpin oleh seorang tokoh Komunis yang pernah tinggal lama di Rusia, bernama Moenawar Moeso.

Pada kejadian itu, beberapa saudara seperjuangan sesama Mas TRIP (julukan khusus buat para Pelajar / Siswa Sekolah yang menjadi Pejuang Kemerdekaan di provinsi Jawa Timur, pada lain provinsi istilahnya berbeda) yang tinggal di Kota Madiun dan sekitarnya, telah menjadi korban keganasannya. Sehingga kekecewaan Alm. Ayah saya kontan terobati, dengan memberantas habis para pengkhianat disana.

Penumpasan dari para pembelot yang mengingkari sumpah suci kepada Proklamasi dan Pancasila ini dilakukan secara gabungan. Utamanya oleh Divisi Brawidjaja (Jatim), Divisi Diponegoro (Jateng) dan Divisi Siliwangi (Jabar).

Serta salah satu perwira muda dari Divisi Brawidjaja yang dengan gagah berani membasmi para "Cecunguk" pembawa Ideologi Asing, ialah Pak Kotjo (Alm. Brigjen TNI Purn. R. Soekotjo Sastrodinoto), yang kelak menjadi Walikota Surabaya.

Di tengah palagan yang amat sangat brutal (PKI Moeso terkenal tidak bertuhan dan berperikemanusiaan), Alm. Ayah saya juga bertemu dengan Cak Wadji (Alm. Serma TNI Purn. Heru Suwadji), arek kampung Karang Bulak gang I. Sahabat karib Beliau dari sebelum Perang Surabaya, yang sekarang menjadi Komandan Regu pada Batalyon Bambang Joewono, Divisi Soengkono.

Tatkala PON II akan diselenggarakan dan Alm. Ayah saya menyampaikan keinginannya (yang sama), yakni untuk menjadi Peserta di dalam Pekan Olahraga Nasional, kepada komandannya di Pendjas Koter V / Brawidjaja (sudah bukan TRIP), lagi-lagi kalimat seperti tersebut di awal penulisan cerita ini yang diterimanya!

Beliau yang semenjak belia merupakan atlet dan pecinta olahraga Tinju (plus Gulat) serta berlatih super keras, pastinya merasa sedih banget. Namun sebagai seorang prajurit sejati, Alm. Ayah saya tetaplah setia, tunduk dan patuh terhadap perintah atasan yang telah dianggapnya seperti kakak kandung sendiri itu.

Tahun 1953 Alm. Ayah saya sudah balik ke Surabaya, demi melanjutkan pendidikannya sembari menjadi Pelatih olahraga Tinju dan Gulat di Pusdikko (Pusat Pendidikan Korps Komando) Gubeng, Surabaya. Yang kebetulan pada tahun tersebut, PON III bakalan digelar.

Nah masalahnya, Beliau mendapatkan tugas pokok untuk mempersiapkan para Prajurit KKO alias murid-muridnya buat mengikuti seleksi Pra PON! Yang tentunya sebagai seorang Pelatih / Instruktur, Alm. Ayah saya tidak etis apabila turut mengikutinya pula!!

Jian apes men!!! Kayaknya olahraga Tinju ini, bukanlah takdirnya!! Dan ketika sedang galau-galaunya, Beliau bertemu dengan Pak Warsimin (Alm. Kapten TNI Tit. Warsimin Sastroauwono), serta sejak saat itu segalanya berubah!

Aslinya arek kampung Peneleh, Pak Warsimin adalah seorang pensiunan KM atau Koninklijke Marine (pasukan Marinir dari Kerajaan Belanda), berpangkat Sersan Mayor sebelum Bala Tentara Jepang masuk ke Indonesia (1942). Plus seorang Master of Fencer (orang yang betul-betul menguasai / ahli di dalam 3 jenis senjata olahraga Anggar), artinya pernah menjadi juara 1 pada 3 jenis senjata olahraga Anggar di suatu kejuaraan nasional. Dan setelah penyerahan kedaulatan R.I., Pak Warsimin menjadi Dosen sekaligus Instruktur olahraga Anggar di beberapa lembaga militer (dulu Anggar merupakan olahraga wajib bagi seorang perwira!).

Pak Warsimin berkata kepada Alm. Ayah saya, "Ben, sampai umur berapa kamu mampu menjadi Petinju? Apakah tidak rusak badanmu, jikalau dipukuli terus? Mending beralih ke Anggar! Tinju dan Anggar fondasinya sama, jadinya mudah buat kamu untuk beradaptasi! Saya sudah tua (lebih 50 tahun) dan akan memasuki masa pensiun! Apabila kamu berhasil, maka bisa menggantikan posisi saya!".

Alm. Ayah saya tidak langsung menjawabnya, tetapi malahan meminta waktu buat memikirkannya masak-masak!

Setelah PON III selesai dan salah seorang murid Beliau menjadi juaranya, Alm. Ayah saya mendatangi Pak Warsimin untuk menyampaikan kesediaannya berlatih olahraga Anggar.

Anggar, bukanlah olahraga baru bagi Beliau. Pada jaman Belanda (namanya Mendikar, pemainnya disebut Pendikar) sudah pernah mempelajarinya, namun tidak se-antusias Tinju dan Gulat.

Serta berhubung salah seorang murid Alm. Ayah saya telah menjadi juara nasional (di kelas / berat yang sama dengan Beliau), tentunya sebagai seorang Pelatih diharuskan untuk menjaga ataupun mempertahankan prestasinya dan tidak boleh bertarung melawan muridnya sendiri!

Walhasil menjadi Petinju, apalagi Atlet Nasional, tidaklah mungkin!! Masak seorang Guru tega memukuli muridnya, demi sebuah medali?!

Tahun-tahun pertama Alm. Ayah saya belajar olahraga Anggar, adalah masa-masa yang tersulit! Hingga Pak Warsimin terpaksa mengikat tangan kirinya, lantaran sering ikut-ikutan menyerang (kebiasaan memukul silang, kanan dan kiri, dari bertinju)!!

Lalu 1 tahun sesudahnya, Beliau diangkat menjadi asistennya Pak Warsimin, sambil tetap melatih Tinju tetapi melepaskan Gulat.

Siapapun yang mau berjuang dan tidak bermalas-malasan, jelaslah yang bakalan menikmati! Karena hasil, tidak mengkhianati upaya!! 1 tahun kemudian Alm. Ayah saya menjuarai lomba Anggar tingkat Kota Surabaya, lantas tingkat Provinsi Jawa Timur dan lalu tingkat Nasional, baik Kejurnas maupun PON!!!

Pada saat Pak Warsimin pensiun sebagai Dosen dan Pelatih / Instruktur olahraga Anggar di Lembaga-lembaga Militer, Beliau yang menggantikannya (mestilah atas saran serta dukungan penuh dari Pak Warsimin sesuai dengan janjinya).

Kemudian pada tahun 1957, Alm. Ayah saya menjadi ketua Anggar di Kota Surabaya. Lantas pada tahun 1968 menjadi ketua Anggar (tadinya Pejabat Sementara) di Provinsi Jawa Timur dan lalu pada tahun 1985 menjadi Ketua Bidang Hubungan Antar Daerah di Pengurus Besar Ikatan Olahraga Anggar seluruh Indonesia (PB IKASI) sampai dengan tahun 2001.

Dikala AAL (Akademi TNI Angkatan Laut) memenangkan Piala Emas dari Presiden Soekarno (1965), Beliau yang mendapatkan bonus memilih buat meminta dibangunkan sebuah ruangan yang spesial dipergunakan untuk olahraga Anggar bagi para Taruna dan diberi nama "Gedung Wijaya Kusuma".

Pada tahun 1995 (persis 30 tahun setelah Piala Emas) bersama Ibu Tien (Almh. R.A. Siti Hartinah, istri dari Presiden R.I. ke II, Alm. Jenderal Besar TNI Purn. H.M. Soeharto) dan 25 tokoh lainnya, Alm. Ayah saya memperoleh penghargaan tertinggi bidang olahraga, Adhi Manggalya Krida, di Istana Negara.

Demikianlah cerita tentang "Menjadi Pendikar", seperti yang pernah dituturkan oleh Alm. Ayah saya. Mohon maaf, jikalau ada kesalahan kata ataupun pungtuasi. Semoga berkenan dan menjadi manfaat, Aamiin. Serta terima kasih sudah sudi untuk membacanya. Salam!

Charles E. Tumbel.

Ibu (kiri) dan Alm. Ayah (kanan), foto seusai pertandingan Anggar pada PON V tahun 1961, di Bandung.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Membekali.

Orang-orang sukses membekali anak-cucunya dengan kehidupan, lantaran optimis dan semangat.

Orang-orang gagal membekali anak-cucunya dengan kematian, karena pesimis dan frustasi.

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---