Minggu, 10 November 2024

Pahlawan.

Bukanlah diri sendiri yang mengakui sebagai Pahlawan, melainkan orang lain!

Selamat Hari Pahlawan 2024!!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---

Sabtu, 09 November 2024

Rawe-rawe Rantas, Malang-malang Putung!


Ulah dari Pasukan Sekutu yang menutupi pengiriman (menyelundupkan) senjata kepada para pria mantan tawanan perangnya Jepang yang tinggal di Kota Surabaya, dengan seolah-olah sedang memindahkan wanita dan anak-anak Belanda serta obat-obatan di atas Truk-truk RAPWI, yang walhasil dibakar massa (28 Oktober 1945) membangkitkan kebencian!

Disebarkannya pamflet-pamflet melalui pesawat udara yang berisikan perintah untuk menyerahkan segenap senjata yang dimiliki oleh warga Surabaya kepada AFNEI, yang menyakitkan hati (27 Oktober 1945)!!

Tentara Khusus milik Kerajaan Inggris yang membobol dan membebaskan Kolonel PJG Huijer dari penjara Kalisosok (tengah malam 26 Oktober 1945 - dini hari 27 Oktober 1945) yang menyinggung perasaan!!!

Plus desas-desus, bahwasanya WVC Ploegman yang tewas di Hotel Yamato sampai berani mengibarkan bendera Belanda disana (19 September 1945), lantaran sudah diangkat menjadi Walikota oleh NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang menyusup di dalam AFNEI dan RAPWI, membuat arek-arek Suroboyo amat sangat marah serta bersiap-siap untuk hal-hal yang terburuk!!!!

Pos-pos TKR (mulanya bernama BKR, kemudian pada tanggal 05 Oktober 1945 berubah menjadi TKR) di setiap RW se-Kota Surabaya yang sebelumnya telah memperkuat garis pertahanan, membuat barikade, mengumpulkan segala macam jenis senjata dan melakukan pelatihan kilat perihal penggunaan senjata api (ringan maupun berat), yang dirampas dari markas-markas serta gudang-gudang milik Bala Tentara Jepang mulai melakukan penyerbuan, demikian pula yang dilaksanakan oleh markas Alm. Ayah saya, TKR-P Staf III / Praban.

TKR-P Staf III / Praban yang merupakan markas komando dari beberapa sekolah (gabungan) di sekitar jalan Praban, juga mengajak dan mengerahkan warga setempat (baik pria ataupun wanita, tua maupun muda) untuk menyerang markas-markas Pasukan Sekutu.

Tentara Keamanan Rakyat - Pelajar yang disingkat TKR-P secara keseluruhan-pun mendapatkan tugas spesial dari Komandan TKR Kota Surabaya, Kolonel Sungkono (Alm. Mayjen TNI Purn. Soengkono), terutama Mas Biek "Turet" (Alm. Mayjen TNI Purn. Soebiantoro) untuk membantu dan mendampingi Pak Matosin (Alm. Kapten TNI Purn. Matosin) beserta kesatuannya.

Kesatuan yang dibentuk oleh Pak Matosin yang dinamakan Barisan Maling dan kelak menjadi "Penggempur Dalam" tatkala Kota Surabaya sudah dikuasai oleh Pasukan Sekutu, merupakan kesatuan yang unik.

Uniknya, karena kesatuan ini terdiri dari mantan narapidana yang buta huruf dan tugasnya adalah mencuri barang-barang yang vital milik musuh! Serta oleh sebab buta huruf itulah, jadinya para pelajar yang tergabung di dalam TKR-P spesial ditugaskan untuk "Membantu plus Mendampingi"-nya!!

Hingga akhir hayatnya Pak Matosin di pertengahan tahun 1960-an, para Eks. BKR Pelajar Surabaya (nantinya pada tanggal 26 Januari 1946 menjadi Tentara Republik Indonesia - Pelajar / TRI-P di Malang) tetaplah berhubungan akrab.

Penduduk Surabaya yang telah "Spaneng" alhasil mendapatkan "Lampu Hijau" dari Komandan TKR Keresidenan Surabaya (Divisi VII), Jenderal Mayor Yono Sewoyo (Alm. Mayjen TNI Purn. KRM Hario Jonosewoyo) untuk "Memberikan Pelajaran" kepada Pasukan Sekutu.

Setibanya di markas, sesudah melakukan pembakaran truk-truk RAPWI, Beliau (Alm. Ayah saya) dan 3 orang sahabatnya bersama kawan-kawannya yang lain yang tergabung di TKR-P Staf III / Praban memulai penyerbuan terhadap markas-markas Tentara Asing dari Perang Dunia II ini.

2 hari, 2 malam (27-29 Oktober 1945) secara terus-menerus dan dari 6 penjuru mata angin, para Pejuang Surabaya melakukan penyerangan. Akhirnya Pasukan Sekutu yang kalah jumlahnya, menjadi kewalahan!

Pada tanggal 30 Oktober 1945 ketika nyaris tergencet habis, Brigjen AWS Mallaby mengajak Dr. Soegiri duduk di atas kap sebuah Mobil untuk berkeliling kota Surabaya demi menyerukan gencatan senjata. Bung Karno (Presiden R.I. yang Pertama) yang 1 hari sebelumnya dihadirkan di Surabaya demi membantu menenangkan keadaan, bertolak-balik ke Jakarta tanpa ada yang memedulikan!

Alm. Ayah saya dkk yang sedang berada di Jl. Boeboetan (Bubutan) mendengar kabar tersebut dan bergegas menuju ke Gedung Internatio, yang menjadi Markas Utama dari Brigade Infanteri India ke 49 di Kota Surabaya.

Sejujurnya, rakyat Surabaya tidak percaya dengan gencatan senjata itu! Dan beramai-ramai kesana untuk melihat, serta menolaknya. Sekaligus buat mengusir Tentara Inggris yang dibonceng oleh Penjajah yang pernah menguasai Indonesia selama 350 tahun keluar dari kotanya yang tercinta, Surabaya.

Hari sudah gelap dan gedung Internatio terkepung parah, Beliau beserta kawan-kawannya yang telah letih-lesu-lapar (3L) serta kehabisan amunisi, beristirahat 100 meteran dari sana.

Tiba-tiba terjadi tembak-menembak, diikuti rentetan suara dari senjata berat di beberapa arah dan terdengar ledakan-ledakan dahsyat yang membuat Alm. Ayah saya cs sontak menyelamatkan diri, serta kembali ke markasnya di Jl. Praban.

Esok harinya tersiarlah kabar, bahwa Brigjen AWS Mallaby tewas pada malam yang remang-remang tersebut. 

Jaman dulu tidak seterang (banyak lampu) seperti jaman sekarang, jadinya sulit untuk memastikan yang sesungguhnya terjadi.

Walaupun banyak yang menyatakan mengetahui, bahkan mengakui sebagai pelaku penembakan, tetapi pembuktiannya hampir tidak mungkin.

Menurut Beliau, bisa jadi Cak Iyat (Alm. Lettu TNI Purn. Moch. Achijat) ataupun Mas Biek "Turet" (Alm. Mayjen TNI Purn. Soebiantoro) yang posisinya terdekat dengan Brigjen AWS Mallaby, maupun orang lain. Malahan bisa-bisa "Friendly Fire" dari Pasukan Sekutu sendiri.

Yang jelas sesudah "Pertempuran 3 Hari" yang menewaskan Brigjen AWS Mallaby, tidak ada jalan balik! Dan para pejuang dari berbagai daerah, berdatangan ke kota Surabaya untuk membantu perjuangan arek-arek Suroboyo, serta perang mati-matian telah menunggu. Maka cukuplah cuma dengan 1 kalimat saja, yakni "Rawe-rawe Rantas, Malang-malang Putung"!

Demikianlah kisah ihwal "Tewasnya Brigjen AWS Mallaby" yang pernah dituturkan oleh Alm. Ayah saya. Mohon maaf, apabila ada kesalahan kata ataupun tanda baca. Semoga berkenan dan menjadi manfaat, Aamiin. Serta terima kasih sudah sudi untuk membacanya. Salam!

Charles E. Tumbel.

--- Ide dan kreatifitas seseorang adalah hak milik yang tidak boleh ditiru / digandakan. Dilarang mengcopy artikel ini. Terima kasih. ---